"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"

"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"
25. Double Kill.



Setelah mobil yang membawa Sandra menjauh dari toko bunga dimana diri nya mendapatkan cinderamata berupa cap lima jari dipipi mulus nya. Sandra menegakan tubuh nya untuk duduk lalu merogoh tas nya untuk mencari kaca cermin untuk memeriksa pipi nya yang terasa perih dan nyeri, melihat sang majikan yang tiba-tiba duduk dari kaca spion tengah membuat sang supir terkejut namun tetap berusaha tenang dan melajukan mobil nya.


"Ke klinik pak." Perintah Sandra.


"Baik Bu." Jawab sang supir patuh.


"Kurang ajar!! Lihat saja akan ku balas kalian." Desis Sandra dengan terus memperhatikan wajah nya yang terdapat memar di pipi sebelah kiri nya melalui cermin yang dipegangnya.


Mobil yang membawa Sandra pun melaju menuju klinik dengan Sandra yang sedang berpikir untuk langkah selanjutnya apa yang akan dia lakukan.


Diklinik sekarang, Edo beserta sepasangan manusia yang tanpa status itu pun telah naik kelantai dua klinik tersebut. Vina menghentikan langkah nya kala benda pipih dengan layar datar dan menyala itu mengeluarkan bunyi berupa lagu dari salah satu kartun yang dulu pernah tayang di salah satu tv nasional setiap hari minggu pada jaman nya dengan suara lumayan nyaring, membuat Edo dan Luke saling tatap namun hanya sebentar karena kedua nya tak bisa menahan tawa nya. Namun Luke segera menghentikan tawa nya dan menatap Edo dengan tajam meminta Edo untuk menghentikan tawa nya, namun sayang Edo tak memperhatikan tatapan tajam dari Luke hingga Luke menendang kaki Edo baru lah Edo menghentikan tawa nya.


"Maaf..." Ucap Edo setelah merasakan sakit di betis nya setelah ditendang Luke.


"Kalian kenapa?" Tanya Vina seraya memperhatikan kedua pria dihadapannya sekarang.


Kedua nya hanya tersenyum dan menggeleng.


"Kak Luke, Vina pamit dulu ya. Mamah sudah nungguin Vina." Pamit Vina kepada Luke.


"Ohh.. Harus sekarang ya, gimana kalau aku antar ya?" Luke masih belum mau melepaskan genggaman nya.


"Eehheemmm...." Dehem Edo keras.


Luke menatap Edo dengan sinis, Edo memalingkan muka dan pura-pura tak melihat Luke dengan tatapan sinis nya.


"Kak Edo kenapa, seret ya?" Tanya Vina dengan polos.


"Dia baik-baik saja." Jawab Luke kesal karena Edo sengaja menjauh dari kedua nya.


"Ohh.. Kakak sebenar nya ada perlu apa kesini?" Tanya Vina kembali dengan mata memperhatikan Edo yang seperti nya sedang berbicara dengan salah satu dokter disana.


Luke yang ditanya tak langsung menjawab pertanyaan Vina, namun ikut memperhatikan kemana arah pandangan Vina sekarang. Nampak Edo sedang bicara dengan dokter Dita didepan ruangan praktek dokter Dita dengan posisi dokter Dita membelakangi nya dan Vina, Luke kemudian menatap Vina yang sedang sibuk dengan layar handphone nya membalas pesan yang masuk dari sang mamah yang meminta nya menyusul sang mamah yang kini menunggu nya di cafe yang berada dilantai paling atas gedung klinik tersebut.


"Kak, aku kelantai atas dulu ya. Mamah minta disusulin kesana. Kakak baik nya selesaikan urusan kakak dulu, maaf bila sudah menyita waktu kakak." Ucap Vina merasa tidak enak.


"Oke.. Kamu hati-hati ya, aku antar ke lift." Tanpa menunggu jawaban Vina, Luke menarik tangan Vina lembut.


Letak lift yang berada tak jauh dari posisi mereka berdiri membuat Luke memelankan langkah nya, diri nya masih enggan melepaskan tautan tangan nya dengan gadis nya itu. Dari arah tak jauh dibelakang mereka nampak dokter Dita yang menyaksikan pemandangan yang membuat nya lagi-lagi kesal dan juga penasaran, siapa gadis yang lagi-lagi begitu intim dengan Luke sehingga bisa membuat Luke tersenyum hangat dan dengan mesra nya Luke mengelus lembut rambut nya.


Iri? Jelas Dita iri atau lebih tepat nya sangat iri, Dita segera berjalan mendekat kearah Luke dan Vina, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka dan Vina pun masuk kedalam lift tak lupa melambaikan tangan nya pada Luke yang dibalas Luke dengan senyum manis nya. Bertepatan dengan pintu lift yang tertutup, Dita sampai didepan pintu lift tersebut. Lagi dan lagi Dita tak dapat melihat wajah dari gadis yang kini telah jadi rival nya dalam merebut perhatian Luke, yah dalam pikiran Dita gadis tersebut adalah rival nya sekarang.


Kini Sandra telah sampai diklinik, sebelum keluar dari mobil dirinya tak lupa mengenakan kacamata hitam dan juga masker untuk menutupi cinderamata yang didapat nya tadi saat menemui anak sambung nya. Setelah masuk kedalam gedung klinik tersebut diri nya langsung menuju lantai paling atas dimana diri nya telah membuat janji dengan Dita untuk bertemu dan makan siang di cafe yang berada dilantai atas gedung tersebut.


Kini Luke dan Edo sedang duduk didepan meja kerja dokter Dita diruang praktek nya, Luke yang telah kembali ke setelan awal nya dengan wajah datar dan sikap nya yang dingin tak lupa dengan keiritan dalam mengeluarkan suara nya sehingga Edo bertugas berinteraksi dengan dokter Dita sepanjang pemeriksaan nya berlangsung hingga selesai. Dita sebagai dokter yang bertugas melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap Luke hanya bisa menjalankan pekerjaan nya secara profesional, setelah semua nya selesai pemeriksaan pun Luke tetap dalam setelan awal nya.


"Kapan kira-kira hal lab nya keluar?" Tanya Edo kepada dokter Dita.


"Hasil nya akan aku kirim seperti biasa kalau sudah keluar, jadi kalian tak harus menunggu." Jawab dokter Dita.


"Hhmm.. Luke bukan kah tadi, kamu mencari pasien yang akan dioperasi hari ini?" Dokter Dita mencoba untuk bisa mengobrol dengan Luke yang hanya diam dari tadi.


Luke hanya menjawab dengan anggukan.


"Apa kah nama nya Esther, seorang gadis kecil?" Tanya dokter Dita lagi.


Kali ini Luke memalingkan wajah nya menatap Edo, sang asisten yang merasa ditatap pun hanya mengangguk malas.


"Dok bukan nya tadi kita sudah memastikan nya?" Tanya Edo tanpa rasa bersalah.


Dokter Dita hanya tersenyum kecut, hilang sudah kesempatan nya untuk bisa mengobrol dengan Luke. Edo bukan nya tak tau maksud dari dokter Dita, namun sang teman yang duduk disebelahnya sekarang yang juga berstatus sebagai majikan nya itu sepertinya risih dengan tingkah dokter Dita yang selalu mencari perhatian nya.


Kembali ke Vina yang kini telah duduk manis bersama sang mamah menikmati makan siang nya yang baru saja disajikan dimeja mereka.


"Mamah koq pesan makanan banyak gini? Kan cuma mamah ama Vina yang makan, apa mamah ngundang teman juga ya? Tanya Vina yang bingung dengan pesanan makanan yang lumayan banyak.


"Ina kalau tanya itu satu-satu dong sayang, gak ayah gak anak sama banget dech. Kalau nanya suka nya borongan." Mamah Laura tersenyum gemas dengan tingkah sang anak gadis yang lebih mirip sang ayah.


"Kurang ajar, akan ku balas kalian!! Lihat saja Anna, akan ku pastikan kau dan Luke akan menikah dengan orang pilihan ku dan ibu." Sandra tertawa setelah puas mengumpat dan menyumpahi, menyalurkan amarah nya.


"Aku harus bisa membujuk Dita untuk segera menikah dengan Luke, dan Anna tunggu saja giliran mu sayang hahahaha...." Ucap Sandra seraya merapikan penampilan nya.


Sandra pun berusaha kembali memasang muka yang menyedihkan sebelum bertemu dengan dokter Dita agar bisa mendapatkan simpati dokter Dita nanti nya saat bertemu. Kemudian melangkah keluar dari toilet menuju cafe tersebut dimana dokter Dita telah menunggu nya di dalam cafe.


Tanpa Sandra sadari kalau ada sepasang telinga yang mendengar semua perkataannya tadi, Lia keluar dari salah satu bilik didalam toilet tersebut. Lia mendengar semua nya dengan sangat-sangat jelas dan juga sangat-sangat mengenal siapa yang perempuan tadi sebutkan.


"Wahh.. Seperti nya main-main sebentar boleh kali ya." Ucap nya dengan senyuman tercetak dibibir mungil nya.


"Let's play beb..." Lia menjentikkan jari nya seraya berjalan keluar dari toilet menuju arah cafe yang tak jauh jarak nya.


Sesampai nya Lia didalam cafe, Lia mencari dimana keberadaan meja yang diduduki oleh Sandra saat ini. Setelah melihat keberadaan sang target, Lia kemudian berjalan mendekati meja sang target dengan sengaja mengambil segelas air atau lebih tepat nya segelas jus sisa dari meja yang baru saja ditinggalkan oleh pengunjung cafe tersebut yang sudah selesai makan.


Sandra yang sedang mengobrol dengan Dita dengan memasang wajah sedih dan juga ada air mata yang mengalir dipipi nya tak menyadari bahwa diri nya sekarang adalah target dari seseorang yang sedang berjalan kearah nya dengan segelas jus ditangan nya.


Begitu mendekati meja target nya, Lia berpura-pura terkejut hingga menumpahkan gelas jus yang dipegangnya tadi hingga tumpah mengenai blazer dan baju yang dikenakan oleh Sandra sekarang.


"Astaga, kenapa gak hati-hati sech dek? Kan jadi nya tumpah jus nya. Maka nya kalau jalan itu jangan loncat-loncat dong." Lia sibuk berbicara sendiri, seolah-olah ada ada seseorang yang dia marahin dihadapan nya.


Sandra yang semula hendak marah pun jadi mengurungkan niat nya seraya terus memperhatikan Lia yang sibuk bicara sendiri didekat meja nya. Dokter Dita pun tak kalah heran dengan apa yang Lia lakukan didekat meja mereka, dokter Dita memberikan tissue kepada Sandra dan membantu membersihkan tumpahan jus tadi pada baju Sandra.


"Tante gak kenapa-kenapa kan?" Tanya dokter Dita khwartir.


Sandra hanya menggeleng dan tersenyum menatap dokter Dita.


Lia kembali melanjutkan aksi nya dengan meminta maaf kepada Sandra dan dokter Dita lalu memanggil pelayan yang sedang berada didekat mereka sekarang, Lia meminta supaya pelayan tersebut mengganti dan membawakan makanan yang baru untuk dokter Dita dan juga Sandra sebagai permintaan maaf dari nya.


Sebelum nya Lia sudah meminta sang pelayan untuk mencampurkan bubuk obat pencuci perut kedalam makan dan minuman yang akan disajikan kepada Sandra terlebih dahulu, tak lupa Lia memberikan uang dalam jumlah yang banyak sebagai sogokan kepada sang pelayan agar mau mengambil resiko membantu menjalankan aksi gila Lia.


Awal nya Sandra menolak makanan nya saat hendak diganti namun karena merasa risih dengan kelakuan Lia yang berbicara sendiri seolah-olah ada orang lain dihadapannya membuat nya mengiyakan makan nya diganti dengan harapan Lia cepat pergi dari sana dan tak mengganggu nya yang ingin membujuk Dita sesuai dengan rencana nya yang telah iya susun tadi.


Setelah makanan dan minuman pengganti nya telah datang Lia pun undur diri dari sana namun tak jauh setelah meninggalkan meja Sandra dan dokter Dita, diri nya berhenti memandang kearah meja tadi kembali untuk memastikan makanan yang baru disajikan itu dimakan oleh sang target nya. Tak lama setelah kepergian Lia, Sandra tanpa curiga melanjutkan makan nya kembali dengan hidangan yang baru disajikan begitu pula dengan dokter Dita. Dari kejauhan Lia nampak tersenyum puas, umpan nya dimakan oleh buruan nya. Tak lupa Lia menemui kembali pelayan yang membantu nya tadi lalu memberikan nya kartu nama dan meminta nya berhenti bekerja dicafe tersebut saat itu juga.


Setelah nya diri nya keluar dari cafe tersebut dan tak lupa menghubungi mamah Laura yang pasti tengah menunggu nya sekarang.


"Hallo mah, maaf ya Lia tak bisa menemani mamah dan Ina makan sekarang. Lia dapat panggilan kalau akan ada pertemuan mendadak dan penting siang ini mah, mamah jangan marah ya. Lia janji setelah ini pulang ke rumah dan plisss jangan kasih tau yang lain dulu ya mah biar jadi kejutan." Cerocos Lia tanpa memberi kesempatan mamah Laura berbicara.


"Baik lah kalau begitu." Jawab mamah Laura diseberang sana.


"Love u mah." Lia menutup sambungan panggilan nya.


Diri nya pun dengan senyuman senang meninggalkan klinik tersebut.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜