
Vina berjalan menaiki anak tangga dengan telapak tangan masih tertaut dengan telapak tangan yang besar namun entah kenapa terasa nyaman dan hangat, Luke berjalan didepan Vina sekarang. Edo sendiri yang terlebih dahulu naik dan berada didepan mereka berusaha untuk tidak menengok kebelakang, dimana sepasang anak manusia yang menurut nya menyebalkan itu tetap saja beradegan romantis tanpa tahu tempat menurutnya. Edo berharap tidak ada yang menyadari Luke sekarang, dan tidak ada paparazzi atau sasaeng yang mengikuti mereka kali ini.
Ditempat lain, Anna dan Yuna sedang berada ditoko bunga. Yuna tadi pagi telah dikabari oleh mamah Laura bahwa Vina mungkin tidak bisa datang ketoko karena akan dibawa mamah Laura ke klinik untuk diperiksa dikarenakan mengeluh sakit pada pinggang dan leher disertai nyeri yang membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
"Ann, apa menurut mu sakit nya Vina parah?" Tanya Yuna yang masih terbayang adegan jatuhnya Vina kemarin pagi.
"Entah lah Yun, kalau diingat-ingat jatuh nya kemarin bisa saja sakit." Jawab Anna dengan mulut penuh dengan coklat.
"Yee ni anak, makan terus.. Kerja sana, ini pesanan harus selesai dalam dua jam." Yuna menyerahkan nota pemesanan bunga kepada Anna yang masih asyik dengan cemilan nya diatas meja kasir yang juga jadi meja kerja Yuna.
Disaat yang sama nampak seseorang masuk kedalam toko tersebut, seorang perempuan yang cukup dewasa namun masih nampak cantik dan anggun.
"Tante Sandra.." Ucap Yuna saat menyadari siapa masuk ke dalam toko tersebut.
Anna yang menyadari kedatangan Sandra pun bangun dari duduknya, menatap Sandra dengan tajam.
"Hay Yuna, Anna bisa kita bicara sebentar?" Sandra tersenyum ramah berusaha tak menghiraukan tatapan tidak sukaan Anna pada nya.
"Ahh iya tante, Ann.." Yuna paham pasti Anna tak suka dengan ajakan Sandra.
"Yun, aku kebelakang dulu ya." Anna berlalu dari sana menuju pintu belakang toko.
"Silahkan masuk saja tante." Yuna mempersilahkan Sandra mengikuti Anna menuju belakang toko.
Sandra hanya mengangguk dan mulai berjalan mengikuti Anna yang telah terlebih dahulu menuju pintu belakang. Anna kini tampak bersandar didinding sisi luar toko memandang halaman yang tak seberapa luas namun tampak asri dengan beberapa bunga yang sengaja ditanam disana yang sengaja dibuat jadi pembatas dengan jalan yang memisahkan halaman belakang toko dengan jalan yang dipergunakan untuk masuk ke area parkiran khusus pemilik dan pegawai pertokoan disana.
Sandra yang baru saja keluar dari pintu nampak tersenyum sinis memandang kearah Anna yang tengah bersandar pada diding dengan menyilangkan tangan nya di dada.
"Aku tak punya banyak waktu, kata kan apa mau mu!" Anna menatap Sandra dengan malas.
"Baiklah, langsung pada inti nya saja. Ibu minta kamu membantu dan membiarkan Dita untuk bisa lebih dekat dengan Luke. Dan bujuk Luke untuk bisa melamar Dita secepatnya." Ucap Sandra enteng.
Yuna yang penasaran dengan niat kedatangan Sandra pun membuka rekaman cctv dilayar tablet nya, difokuskan nya kamera cctv yang ada diarea belakang toko tepat dipojokkan diatas dimana Anna berdiri sekarang yang mana pada saat dipasang sengaja tak terlalu tinggi dengan tujuan memudahkan memantau parkiran berada tepat dibelakang toko mereka. Kemudian iya memperbesar volume audio yang ada dicctv tersebut untuk bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Sama dengan reaksi Anna sekarang Yuna pun dibuat terkejut mendengar permintaan Sandra, Yuna menutup mulut nya yang ternganga dengan tangan.
Setelah terdiam mendengar permintaan ibu sambung nya, Anna tertawa hingga mengeluarkan air mata nya seperti baru saja mendengar lawakan nya begitu lucu.
"Astagaaa..... Otak anda ketinggalan dimana hah?" Tiba-tiba Anna berkata sarkas dengan tatapan yang tajam menatap Sandra yang menampilkan wajah yang tersenyum sinis.
"Kenapa? Apa yang salah, dan ini bukan permintaan namun perintah Anna. Nenek saja sudah setuju, apa lagi? Luke dan Dita akan segera bertunangan dalam waktu dekat." Jelas Sandra dengan gamblang.
Anna hanya memijat kepala nya yang mendadak terasa berat dan pusing. Yuna yang masih menguping pun dibuat kesal hingga tanpa sadar tangan nya yang terkepal erat mendarat sempurna menghantam meja kasir tempat nya sekarang menguping melalui layar tablet nya, beberapa pengunjung toko dan juga pegawai nya dibuat terkejut dengan aksi Yuna yang tak menyadari kini semua orang di ruangan itu menatap nya heran.
Kembali kepada Anna dan Sandra dihalaman belakang toko.
Anna masih diam dan berusaha tak menanggapi apa yang telah iya dengar, Sandra kembali bersuara yang membuat emosi Anna kini hanya tinggal segaris.
"Ibu dan nenek telah menyiapkan pesta pertunangan Luke dan Dita tepat pada acara peringatan ulang tahun nenek minggu depan. Dan setelah nya kamu pun akan menyusul, nenek berniat akan menjodohkan mu dengan salah satu putra pemegang saham..." Ucapan Sandra terhenti akibat rasa panas dan perih yang iya rasa kan di pipi nya.
Tak hanya Sandra yang terkejut akibat tamparan yang iya dapat kan namun juga Anna yang pun terkejut sejenak namun setelah nya tersenyum senang melihat pemandangan dihadapannya.
Yuna yang dari tadi menguping melalui cctv pada layar tablet nya merasa semakin muak dan marah mendengar bahwa tak hanya Luke namun Anna pun akan dijodohkan, dengan emosi yang telah membakar isi kepala nya Yuna bangkit dari duduk nya dan berlari menuju dimana Anna dan Sandra kini berada. Setiba nya dihalaman belakang Yuna tanpa aba-aba langsung mendarat kan telapak tangan nya di pipi sang ibu sambung sahabat nya itu saat Sandra masih berbicara sehingga diri nya tak sadar akan keberadaan Yuna.
"Heehhh.... Nenek sihir, dasar tak punya hati hah." Yuna yang masih emosi, berteriak heboh hendak menjambak rambut sang ibu sambung sahabat nya itu.
Dengan cepat Anna memeluk tubuh sahabat nya itu dari belakang, menghalangi Yuna yang hendak menjambak sang ibu sambung.
"Lepas Ann, biar aku kasih pelajaran dulu tu mulut siluman kecoak menjijikkan." Yuna berontak dalam pelukan Anna.
Sandra yang merasakan perih dipipi nya menatap nyalang kearah Yuna dan Anna, Sandra mendekati Yuna yang terus berontak dipelukan Anna. Sandra melayang kan tangan nya berniat untuk menampar Yuna membalas tamparan Yuna tadi kepada nya. Melihat Sandra yang hendak membalas menampar Yuna, Anna dengan sengaja melepaskan pelukannya. Dengan gerak cepat Yuna bisa menangkap lalu mempiting kedua tangan Sandra hingga Sandra berteriak kesakitan dan tak bisa bergerak dengan posisi tersungkur di tanah.
Dari balik pintu, nampak ketiga pegawai toko mereka menonton aksi dari salah satu boss mereka yang dengan lincah nya bergelud dengan lawan yang tak sebanding. Anna yang sadar ketiga pegawai nya menonton aksi Yuna meminta ketiga nya untuk bubar.
"Yuna sudah, sudah ayo bangun." Anna menarik Yuna yang sekarang posisi nya duduk diatas tubuh Sandra yang tersungkur di tanah.
"Biar siluman kecoak ini sadar Ann, emang dia siapa bisa ngatur-ngatur seenak nya." Yuna nampak masih emosi.
Sandra sendiri kini terkapar tak sadarkan diri, Anna yang melihat kondisi ibu sambung nya sebenarnya merasakan prihatin namun enggan untuk menolong nya. Masih emosi rasa nya mengingat apa yang tadi dikatakan sang ibu sambung tadi, Anna lalu menarik Yuna masuk kedalam toko dan meminta dua orang pegawai nya untuk mengangkat Sandra yang masih terkapar dihalaman belakang toko mereka. Anna lalu memanggil supir yang mengantar kan Sandra tadi untuk membawa majikan nya itu pergi dari sana, sang supir pun menurut dan dengan dibantu kedua pegawai tadi memasukkan sang majikan kedalam mobil dan pergi dari sana membawa sang majikan.
"Pergi sana, lama-lama disini bisa-bisa ku jahit mulut tu siluman kecoak." Ujar Yuna yang masih saja emosi.
Setelah kepergian Sandra, Anna menatap Yuna dengan memicingkan mata nya. Yuna yang ditatap Anna seperti itu pun mulai gelagapan berusaha menyembunyikan tablet nya yang digunakan untuk menguping dari cctv tadi dan mencari alasan untuk dapat kabur dari hadapan Anna sekarang.
"Duh aku sakit perut Ann." Yuna berpura-pura memegang perut nya dan meringis kesakitan.
"Sakit kenapa Yun, bukan nya tadi baik-baik aja." Anna dengan gerak cepat merebut tablet yang berusaha Yuna sembunyikan di laci meja kasir.
"Ann...." Panggilan Yuna memelas.
"Yun, kamu nguping dari cctv?" Tanya Anna tenang seraya mengembalikan tablet Yuna.
Yuna tertunduk dan mengangguk menjawab pertanyaan Anna. Anna menghela nafas nya perlahan dan mendudukkan tubuhnya dikursi yang ada disana, diri nya meminta salah seorang pegawai yang kebetulan berada didekat nya untuk mengambilkan nya minuman dingin yang ada di lemari pendingin dipantry belakang.
"Ann..." Panggil Yuna pelan.
"Hmm... Yun, aku gak marah koq. Terima kasih ya sudah membantu ku memberi pelajaran untuk nya hehehe" Anna tertawa mengingat aksi Yuna tadi.
"Beneran ni Ann?" Tanya Yuna bingung.
Anna hanya menganggukkan kepala nya dan membuka kaleng minuman dingin nya yang dibawakan oleh salah satu pegawai nya lalu menegak minuman nya itu.
"Tapi kalau tu orang tua kenapa-kenapa, aku gak ikut tanggung jawab ya Yun."
Mendengar perkataan Anna sontak saja membuat Yuna panik.
"Jahat banget sech Ann.. Kan aku belain kamu ihh.." Yuna tak mengira sahabat nya akan mengatakan itu, sungguh ter.. la...lu.. pikir Yuna.
Melihat Yuna yang menunduk, Anna tersenyum tertahan. Diri nya berusaha untuk terlihat seolah-olah tega kepada sang sahabat yang kini pasti sedang kesal setengah mati kepada diri nya.
"Harus nya kamu mikir dulu, main hajar aja. Bagus kalau dia baik-baik saja walau pun pasti dia tak baiklah sekarang, lihat aja tadi dia terkapar gitu lagian kamu datang-datang main hajar. Mau jadi pahlawan gitu?" Anna membentak Yuna yang kini tertunduk dihadapan nya.
Ketiga pegawai mereka yang ada disana saling lirik dan diam tak berani mendekati kedua nya, hanya memperhatikan dari jauh. Dan untung nya tak ada pelanggan yang datang ketoko mereka sekarang.
"Siap-siap saja, pasti orang tua itu akan melaporkan mu atas tidak penganiayaan yang dia terima." Anna berusaha untuk menahan senyum nya melihat reaksi Yuna yang semakin tertunduk dengan bahu yang bergetar sekarang.
Anna yakin Yuna sekarang sedang menahan kesal dan juga menahan tangisannya mati-matian.
"Kenapa diam, tadi aja kamu kaya orang yang lagi main reog dibelakang. Kalau ada beling pasti kamu cemilin tu tadi, kenapa sekarang diam kaya patung gini." Anna hampir saja tak bisa lagi menahan tawa nya saat melihat Yuna yang semakin tertunduk dan terisak nyaring.
Anna lalu memeluk sang sahabat yang kini menangis dan meraung dipelukan nya, Anna tertawa lepas puas mengerjain sahabatnya itu.
"Cup.. Cup.. Sayang duh sayang nya aku hahahaha." Anna masih saja menggoda Yuna yang masih saja menangis dipelukan nya.
"Udah dong Yun, maaf ya hehehe.." Anna masih saja terkekeh geli karena berhasil membuat Yuna menangis.
"Jahat ihh..." Ucap Yuna masih dengan isak tangis nya.
"Maafin ya kesayangan nya aku yang baik banget." Rayu Anna mengeratkan pelukan nya pada sang sahabat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜