"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"

"Sweet Bride, Vevina & Luke Story"
17. Niat Sandra



Dilain tempat, disebuah kamar yang luas dengan dekorasi mewah nan klasik bernuansa rose gold seorang wanita berumur tengah duduk disofa yang terdapat dikamar tersebut. Diri nya sedang memandangi sebuah lukisan besar nan elegan yang tergantung didinding kamar tersebut dan berada tepat didepan nya sekarang dengan tangan yang menggenggam selembar photo sepasang pengantin terlihat dari baju pengantin yang dikenakan yang tampak sederhana juga dari dekorasi pernikahan nya pun terlihat sederhana namun tampak sangat bahagia terlihat dari senyum sepasang pengantin itu nampak jelas terpatri pada photo tersebut.


"Bu... Ibu, maaf menganggu tapi Dita ada diluar sekarang."


Sandra yang melihat lembaran kertas photo yang ibu mertua nya pegang nampak menghela nafas nya perlahan. Rasa nya sesak di dada nya setiap melihat photo tersebut, terlebih lagi melihat air muka sang ibu mertua yang sulit diartikan. Semakin membuat nya sulit untuk membendung air mata yang selalu mengintai untuk keluar dari sarang nya.


"Bu.. Mari aku bantu, kita temui Dita diluar ya." Sandra dengan sigap mendekati sang ibu untu membantu nya bangun dari duduk nya.


Dita baru saja turun dari mobil nya, selesai jam praktek nya tadi diri nya memutuskan untuk berkunjung ke rumah besar yang sekarang ada didepan mata nya, diri nya melangkah memasuki rumah tersebut yang kebetulan pintu nya terbuka karena ada beberapa pekerja yang sedang membersihkan ruangan-ruangan yang ada dirumah tersebut. Dita menyapa salah seorang pekerja disana dan menanyakan dimana kah tuan rumah, pekerjaan tersebut meminta Dita untuk menunggu di taman yang berada samping rumah tersebut setelah mengatakan bahwa sang tuan rumah sedang ada dikamar nya. Dita pun menuju taman tersebut setelah nya, dan sang pekerja tersebut naik kelantai dua menuju kekamar sang tuan rumah untuk menyampaikan bahwa ada tamu yang menunggu dibawah. Tepat didepan kamar sang ibu mertua, Sandra dipanggil oleh salah seorang pekerja dirumah itu yang juga saat itu berniat untuk kekamar sang tuan rumah guna menyampaikan bahwa di bawah ada tamu yang menunggu dibawah tepat nya di taman samping rumah.


"Dita..." Panggil sandra yang datang sembari menggandeng sang ibu.


"Iya tante, eh nenek.." Dita berdiri dari duduknya dan menghampiri sang pemilik rumah.


Dita menyalami dan mencium pipi tante Sandra dan wanita yang dipanggil nya dengan sebutan nenek tersebut bergantian, kemudian ikut menggandeng wanita yang panggil nya nenek tersebut dan membantu nya untuk duduk di kursi yang tersedia di taman tersebut.


"Nenek apa kabar?" Tanya Dita


"Seperti yang kau lihat, ini lah kondisi nenek mu ini... Kamu sendiri bagaimana kabar nya?" Jawab wanita itu tersenyum dan balik bertanya kepada Dita.


"Kabar ku baik nek." Jawab Dita juga dengan senyuman.


"Bu, Dita.. Tante tinggal masuk dulu ya sebentar." Sandra pun bangun dari duduk nya dan berjalan masuk kedalam rumah, meninggal kan Dita dan sang ibu setelah kedua nya menjawab dengan anggukan kepala.


"Dita, bagaimana dengan Luke? Apa kalian sering bertemu?" Tanya nenek seraya memperhatikan ikan-ikan hias yang sedang berenang kesana kemari didalam kolam ikan yang lumayan besar yang berada tak jauh dari bangku yang mereka duduki sekarang.


"Iya nek, tadi pagi Dita berkunjung ke apartemen nya untuk memeriksa Luke seperti biasa. Seperti nya Luke perlu banyak istirahat nek, mungkin dia terlalu memforsir tenaga nya untuk bekerja. Dita takut dengan kondisi pekerjaan nya yang padat akan membuat nya mudah sakit dan juga tingkat stres yang tinggi, bisa saja memicu trauma nya akan kambuh nek." Jelas Dita.


"Dia memang selalu tak bisa diam, bila keinginan nya belum tercapai." Nenek mendesah pelan mendengar penjelasan Dita.


"Bagaimana dengan terapi nya? Apa masih berjalan?" Tanya sang nenek kembali.


"Aku rasa masih nek.. Aku masih belum sempat menanyakan nya nek." Jawab Dita kembali.


Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya pelan. Tak ada obrolan lagi setelah nya, sampai Sandra kembali datang menghampiri mereka berdua dengan dua orang pekerja dirumah itu yang mengikuti nya dari belakang dengan membawa minuman dan beberapa cemilan juga buah-buahan yang telah dipotong dalam piring-piring kecil. Sesudah menghidangkan minuman dan juga cemilan serta buah-buahan tadi yang dibawa, para pekerja tersebut pun undur diri dan masuk kembali kedalam rumah berbeda dengan Sandra yang ikut duduk dan mulai mengobrol dengan Dita dan sang ibu mertua.


"Dita bukan kah kamu sudah lama kenal dengan Luke, bahkan sudah menjadi dokter pribadinya sekarang. Pasti kalian sudah lebih dekat dong sekarang?!" Tanya Sandra antusias.


"Bagaimana ya tant, aku memang sudah lama mengenal Luke tapi kan tante dan nenek tau sendiri bagaimana sifat dan sikap Luke dengan perempuan bila diluar urusan pekerjaan selama ini. Lagi pula selama ini hubungan kami hanya sebatas pasien dan dokter saja tant." Jelas Dita.


Sandra dan sang ibu saling pandang mendengar penjelasan dari Dita, Sandra pun tersenyum seraya menggenggam tangan Dita.


Dita yang ditanya seperti itu hanya bisa diam dan tersenyum seraya menganggukkan kepala nya, melihat jawaban Dita yang menjawab hanya dengan anggukan kepala nya Sandra tersenyum senang dan langsung memeluk Dita, Dita yang dipeluk pun membalas pelukan dari sandra. Sandra memang sudah lama menyukai Dita karena menurut nya Dita adalah gadis yang manis dan baik juga bukan perempuan biasa yang pasti nya akan cocok bersanding dengan sang keponakan.


Sang ibu pun tersenyum senang melihat jawaban Dita yang menyukai sang cucu, diri nya pun merasa kan hal yang sama dengan sang menantu Sandra bahwa Dita adalah gadis yang layak untuk bersanding dengan sang cucu.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang memperhatikan interaksi ketiga wanita berbeda usia yang sedang bercengkrama ria di taman samping rumah itu dari pintu kaca yang menghadap kearah taman yang posisi nya sekarang dibelakang ketiga wanita itu, tak hanya itu orang tersebut pun dapat mendengar dengan jelas apa yang dibicara kan oleh ketiga wanita beda generasi itu.


Anna mengepalkan tangan nya, menahan geram saat diri nya tak sengaja mendengar apa yang dibicarakan sang ibu sambung bersama sang nenek dan Dita di taman samping rumah sang nenek, tadi nya diri nya pamit kepada Vina dan Yuna setelah makan siang untuk pergi ke rumah sang nenek karena hendak mengambil dokumen penting yang harus segera diri nya urus sehubungan kepindahan diri nya dan Luke dari rumah sang nenek ke apartemen yang sekarang mereka tempati. Namun belum sempat diri nya naik kelantai dua rumah tersebut untuk mengambil dokumen yang menjadi tujuan nya diri nya berniat untuk menyapa sang nenek yang terlihat sedang berada di taman, baru saja Anna hendak melangkah keluar dari pintu kaca yang jadi penghubung rumah dan taman diri nya mendengar obrolan dan juga pertanyaan sang ibu sambung kepada Dita yang menanyakan perasaan Dita kepada sang sepupu dan itu cukup membuat Anna sangat geram kepada sang ibu sambung.


Anna merasa sang ibu sambung bahkan sang nenek sekali pun tak punya hak untuk mengatur-ngatur perihal perasaan, Anna paham betul kemana arah pertanyaan ibu sambung dengan melihat ekspresi sang ibu sambung dan sang nenek yang mudah ditebak oleh Anna.


Anna memutuskan untuk melangkah naik kelantai dua rumah tersebut untuk mengambil dokumen yang jadi tujuan nya tadi datang ke rumah itu, setelah mendapat kan dokumen yang menjadi tujuan nya kemudian diri nya keluar dari kamar nya tak itu saja Anna pun turun dengan menyeret sebuah koper besar.


Sandra yang pamit masuk kedalam rumah karena hendak mengambil kan obat untuk sang ibu mertua di kaget kan dengan Anna yang turun dari tangga dengan membawa koper besar.


"Anna... Kapan kamu datang nak, kenapa ibu gak tau?" Tanya Sandra terbata menatap Anna yang menyeret koper besar.


"Kapan saya datang bukan urusan anda, dan untuk kesekian kali nya mohon diingat anda bukan ibu saya!!" Jawab Anna acuh.


.


.


.


.



Sang dokter yang dah lama kesemsem ama Luke.


.


.


.


Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜