
Sekembali nya dokter Dita dari apartemen tadi, diri nya telah sampai disebuah klinik terbaik di kota nya. Dimana klinik tersebut terkenal akan tehnik pengobatan nya yang modern dan dokter-dokter yang ahli dalam bidang nya pun banyak berkerja disana dan dokter Dita termasuk salah satu dokter yang bekerja di klinik tersebut. Saat ini dokter Dita sedang duduk termenung bersandar pada kursi empuk dibalik meja kerja di ruangan praktek nya, diri nya masih saja memikirkan siapa sebenar nya gadis itu tadi, kenapa bisa gadis itu begitu dekat dengan Luke dan dia tidak mengenal atau pun tau siapa dia.
Dita sendiri sudah mengenal Luke sejak lama, setau nya tidak ada perempuan yang begitu dekat dengan Luke selain Anna dan juga diri nya yang notabene ditunjuk langsung sebagai dokter pribadi Luke oleh keluarga dan juga wali dari Luke yang tidak lain adalah sang nenek dari Luke itu sendiri. Dalam 4 tahun ini diri nya telah menjadi dokter pribadi Luke, walau pun diri nya jarang untuk bisa ikut semua kegiatan Luke tapi Dita tau Luke bukan orang yang bisa sedekat itu dengan perempuan.
Dita sendiri secara pribadi mengenal Luke semenjak diri nya bersama keluarga nya pindah tempat tinggal dan menjadi tetangga yang bersebelahan rumah dengan rumah sang nenek dari Luke yang mana Luke juga tinggal disana waktu itu. Dita yang kala itu masih duduk dibangku SMA harus pindah dari sekolah nya yang lama, dan disekolah nya yang baru ini ternyata Luke juga terdaftar sebagai murid disekolah tersebut, dari saat itu lah Dita mulai menaruh hati kepada Luke.
Dita selalu mencari cara untuk bisa mendekati Luke namun sikap ramah yang Luke tunjukan hanya sekedar saat bekerja saja pada saat itu, disekolah nya diri nya terkenal sebagai 'pangeran salju abadi' dimana diri nya tidak suka diganggu. Luke senang menyendiri dan tidur pada saat jam istirahat atau jam pelajaran kosong, walau begitu Luke terkenal sebagai murid yang berprestasi dalam bidang akademik maupun non akademik yang mana hal tersebut juga ikut membantu mengangkat nama baik sekolah nya hingga diri nya dinobatkan sebagai salah satu wajah dari sekolah tersebut hingga sekarang pun diri nya yang telah lama lulus dari sekolah tersebut tetapi sekolah tersebut masih saja menggunakan nama besar Luke yang juga alumni terbaik dimasa nya sebagai wajah dari sekolah tersebut.
"Siapa dia? Selama ini Luke hanya dekat dengan Anna dan aku satu-satu nya perempuan yang dekat dengan nya, lalu dari mana gadis itu muncul. Apa selain Anna ada sepupu yang lain? Tidak, nenek bilang hanya Anna saja saudara sepupu Luke dan Anna juga anak tunggal sama seperti Luke." Gumam Dita sambil trus berpikir siapa gadis yang tadi bersama Luke.
"Maaf dok..... Dokter Dita?!!!" Panggil sang asisten, yang dari tadi mengetok-getok pintu ruang kerja Dita tapi tak dihiraukan oleh Dita yang masih hanyut dalam pikiran nya sendiri tentang Luke.
"Dokter Dita, apa anda baik-baik saja?!" Sang asisten berinisiatif membuka pintu ruangan tersebut dan masuk kedalam, diri nya takut kalau saja sang dokter kenapa-kenapa karena tak ada sahutan dari sang dokter.
Dita terkejut melihat pintu ruang kerja praktek nya terbuka dan sang asisten masuk dengan tampang khawatir yang nampak jelas di wajah nya.
"Dokter Dita, anda tidak kenapa-kenapa kan?" Tanya sang asisten.
""Tidak, ada apa sust?"
"Maaf dok, itu dokter Dita diminta untuk bertemu keluar pasien yang akan dioperasi besok pagi."
"Operasi? Maksud suster pasien anak kecil itu ya?"
"Iya dok, pasien sudah masuk ruang inap dan juga sedang menjalani puasa." Ucap sang suster yang juga asisten dokter itu sembari memberikan laporan medis sang pasien kepada sang dokter.
"Kasihan dia, masih kecil tapi harus menjalani operasi berat." Dokter Dita pun berdiri dari duduk nya sembari memeriksa kembali laporan medis tersebut.
Mereka pun keluar dari ruangan kerja dokter Dita, menuju keruang inap pasien yang akan segera dioperasi nya besok pagi, sesampainya mereka disana sudah terlihat ada beberapa orang yang duduk didepan ruang inap pasien tersebut. Dokter Dita hanya tersenyum ramah dan melewati mereka untuk masuk kedalam ruang inap pasien tersebut, nampak lah seorang anak kecil atau lebih tepatnya gadis kecil terbaring di ranjang dengan keadaan yang lemah tapi tak mengurangi keceriaannya yang tersenyum lebar bahkan ikut bernyanyi mengikuti musik yang iya dengarkan lewat earphone yang terpasang ditelinga nya.
Melihat dokter Dita dan asisten nya memasuki ruang inap tersebut, kakak dari anak kecil tersebut menyambut sang dokter dan mempersilahkan untuk sang dokter memeriksa sang adik.
"Maaf dok, tadi dia tak mau puasa kalau tidak dituruti kemauannya untuk bisa mendengar kan musik atau menonton YouTube dari handphone nya." Adu sang kakak kepada dokter Dita yang dibalas Dita dengan senyuman.
"Iya tidak apa-apa, biar kan saja bila itu membuat dia merasa senang. Itu akan bagus untuk kesehatan nya." Dokter Dita berusaha menenangkan kakak sang pasien, karena Dita dapat melihat bagaimana kusut nya wajah sang kakak pasien tersebut.
"Hai adik cantik, boleh kita berkenalan?" Ucap dokter Dita sambil melambaikan tangan nya didepan gadis kecil tersebut.
Merasa ada dokter dihadapan nya, anak kecil tersebut mematikan musik nya dan melepas earphone yang melekat di kuping nya. Anak kecil tersenyum manis kepada sang dokter yang menyodorkan tangan nya untuk berkenalan dengan pasien kecil nya tersebut.
"Boleh kakak tau nama mu? Kamu juga cantik loo." Tanya Dita lagi yang disambut tawa dari pasien kecil nya.
"Nama aku Esther dok." Jawab nya setelah tawa nya reda.
"Esther ya, cantik sekali nama nya. Persis dengan orang nya." Ucap Dita sambil memulai memeriksa keadaan Esther.
"Iya dong, kak Luke saja mengakui kalau aku cantik." Ucap Esther yang membuat Dita terdiam sejenak dan menatap Esther yang masih tersenyum senang.
"Maaf dok, adik ku ini ngelantur. Dia memang seperti itu dok, maaf bila membuat dokter tak nyaman." Ucap sang kakak tiba-tiba setelah melihat reaksi dokter Dita yang terkejut dengan apa yang dikatakan Esther barusan.
"Issttt... Kakak ini selalu saja tidak percaya." Esther cemberut, nampaknya dia kecewa kepada sang kakak yang tidak percaya saat diri nya bercerita pertemuan nya dengan Luke tadi pagi.
"Tidak apa-apa koq." Jawab Dita singkat dan melanjutkan pemeriksaan nya.
Tak lama setelah nya Dita kembali keruang kerja nya, diri nya pun berpikir sama hal nya dengan sang kakak pasien kecil nya itu, tidaklah mungkin anak kecil seperti Esther bisa mengobrol dengan Luke secara leluasa. Yang benar saja, diri nya yang sudah bertahun-tahun mengenal Luke dan juga sudah menjadi dokter pribadinya pun jarang bisa mengobrol secara santai terlebih masalah yang bukan hal yang penting itu mustahil bagi Dita.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terima kasih untuk dukungan nya 💜borahe💜