
" hmmm aku yakin " tegas lina sambil berbisik "mereka suka sekali menganiaya dan aku dengar mereka juga termasuk dalam komplotan yang suka menjual obat-obatan terlarang"
" kenapa kamu tau banyak tentang mereka"
" aku hanya mendengar saja"
" apa kamu tau siapa ketua geng naga merah ini " tanya rifa sambil meminum es tehnya
" kalau ini aku tidak tau jelas, karena dia ini memang sangat misterius " jawab lina
" owh , sepertinya kamu berbakat menjadi ditektif "
" hehehe itu lah kenapa aku belajar hukum "
dengan disertai tawa
" sepertinya ketua ini benar-benar orang yang misterius , aku harus bekerja keras dari sekarang "
Kelas dimulai lagi , kali ini dosen meminta mereka untuk berpasangan mencari informasi berita kejahatan . Rifa dipasangkan dengan Raka , mereka sepakat untuk mengunjungi kantor polisi .
" raka topik apa yang akan kita bahas nanti , setidaknya kita harus memikirkannya sekarang" tanya rifa pada raka
dengan datar raka menjawab " terserah kamu saja aku akan mengikutinya"
" bukankah ini tugas kita berdua "
" aku tidak ingin berdebat denganmu" jawab raka dengan wajah dingin
" heeaaa kamu ini tidak bisa ya membuat orang tidak kesal , aku sudah baik-baik tanya kenapa sikapmu acuh seperti itu" kesal rifa
" apa kamu sudah selesai " meninggalkan rifa
" oh tuhan kenapa aku harus bertemu dengan orang ini , bisa-bisa aku terserang penyakit darah tinggi ini mah "
Saat berjalan raka berhenti dan menoleh kearah rifa.
"ada apa lagi " tanya rifa
" kita naik motorku saja nanti"
" tidak mau aku membawa mobil lagipula apa kamu bawa helm ganda"
" kamu bawel sekali , mobilmu tinggal disini saja itu tidak akan hilang " berjalan melewati rifa
" tapi aku belum setuju kenapa kamu yang putuskan "
" aku bawel itu bagus daripada kamu muka es dingin sekali tanpa ekspresi "
" terimakasih" raka tersenyum datar
" apa-apaan orang ini , baru kali ini ada orang yang memerintahku, hei aku ini komandan polisi kenapa aku harus mengalah pada orang ini, tapi ya sudah lah demi tugasku ini" pikir rifa sambil menghela nafas panjang
" aku tidak akan membunuhmu , kenapa ekspresi wajahmu seperti itu"
" apa ? ekspresi apa , aku biasa saja kamu terlalu banyak berfikir " memegang pipinya
" ayo naik "
"hmmm baiklah "
Mereka berdua mengendarai motor untuk menuju kantor polisi . Saat sampai disana rifa melihat ada pandangan yang sedang mengejeknya .
" kita sampai " kata rifa
" aku tau itu " jawab raka tetap dingin
Mereka meminta izin untuk melakukan wawancara kepada polisi . Mereka memilih topik tentang penyelundupan obat-obatan terlarang. Saat akan masuk kantor Rifa memberi isyarat kepada anggotanya untuk berpura-pura tidak mengenalinya. Anggotanya mengerti isyarat itu dan bersikap wajar pada rifa.
Mereka berdua menggali informasi untuk mendapatkan bahan laporan mereka. Setelah selesai wawancara Raka meminta izin ke toilet dan rifa menunggu di ruang tunggu. Seseorang menghampiri rifa tentu saja dia reza teman kerjanya.
" ehem sepertinya aku mencium aroma asmara disini " ledek reza
" bisakah kamu diam "
" baru sebentar sudah menggandeng pria muda , kamu luar biasa"
tersenyum kecut " aku berpasangan dengannya untuk melaksankan tugas , jadi buang khayalanmu itu, tidak ada apa-apa diantara kami"
" hehehehe itu belum pasti komandan"
" kalau kamu tidak diam akan aku sumpal mulutmu"
" ohoo aku takut maaf komandan" sambil berpura-pura membungkuk
" berhenti bercanda kembali bertugas sekarang" perintah rifa
" siap dan "
Rifa dikenal tegas dalam bertugas . Meskipun begitu dia tetap hambel kepada bawahannya , dia tidak merasa harus membatasi sikapnya pada anak buahnya itu. Asalkan mereka tau batasan kapan harus bercanda dan kapan harus serius.