
Setelah lama memeluk raka , rifa akhirnya menyadarkan dirinya. Dia langsung bangun, dan duduk kembali di bangkunya. Raka hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku rifa .
" apa kamu baik-baik saja sekarang" rifa memberanikan diri melihat wajah raka
" aku sudah tidak apa-apa" suara raka tampak lemah sekali
" maaf ini semua salahku, kalau kamu tidak mengikutiku kamu tidak akan terluka seperti ini" rifa mulai menagis lagi
" hei kenapa kamu menangis , ini tidak seperti rifa yang aku kenal" raka mencoba menghibur rifa
" aku benar-benar takut kemarin apa kamu tau" rifa menangis sejadi-jadinya
" kamu tenang saja , aku yang ingin membantu ,itu bukan kesalahanmu , kamu tidak harus menyalahkan diri sendiri seperti ini" raka bingung melihat rifa yang menangis
" kalau aku mendengarkan kamu , kamu tidak akan terluka karena mengkhawatirkan aku"
" kamu tau sekarang bagaimana rasanya mengkhawatirkan seseorangkan" raka tampak senang rifa mengkhawatirkan dirinya
muka rifa memerah "siapa yang khawatir kepadamu"
" ok ok kamu tidak khawati padaku, apa ini tandanya kamu mulai menyukaiku " raka melihat wajah rifa yang tampak terkejut dengan ucapnnya tadi
"kamu bicara apa , berhenti main-main denganku " rifa mendorong raka
" auww ......." raka menyeringai kesakitan
" oh maaf maaf aku lupa , maafkan aku" rifa mengusap-usap luka raka
" aku tanya sekali lagi apa kamu menyukai aku"
" a.........aku " sebelum melanjutkan kata-katanya raka menghentikan rifa
Raka mendekatkan wajahnya ke arah rifa. Dia semakin mendekat ke wajah rifa , rifa hanya diam tidak bergerak sama sekali. Hingga akhirnya dia mencium rifa tepat di bibirnya.
Rifa kaget setengah mati , namun akhirnya dia diam saja akan perlakuan raka. Mereka berdua akhirnya berciuman, tangan rifa memeluk erat pinggang raka. Mereka tampak menikmati ciuman itu, raka menghentikan ciumannya. Dia melihat wajah rifa yang semakin memerah.
Rifa juga melihat wajah raka, dia merasakan jantungnya berdegup kencang. Rifa menundukan kepalanya karena raka terus melihat dirinya.
"aku tidak......." rifa menggeleng-gelengkan kepalanya
" mulai sekarang kamu adalah kekasihku , apa kamu mengerti"
" siapa yang mau menjadi kekasihmu , lagian kapan kamu meminta aku menjadi kekasihmu"
" tadi sebelum kita berciuman , kalau kamu menolakku kamu tidak akan menerima ciuman itu, tapi kamu diam saja berarti sekarang kamu adalah kekasihku" raka tersenyum licik
" logika macam apa itu,,,,,,,, dan berhenti mengambil keputusan secara sepihak " rifa kesal karena dibohongi raka
" aku tidak perduli yang jelas sekarang kamu milikku" dia menarik tangan rifa lalu memeluknya dengan erat
rifa mencoba melepaskan tubuhnya "apa yang kamu lakukan lepaskan aku sekarang"
" diamlah sebentar , biarkan aku memeluk seperti ini sebentar" dia semakin erat memeluk rifa
Rifa hanya diam saja, dia merasa tenang sekarang berada di pelukan raka. Setelah semalaman dia khawatir dengan kondisi raka.Dia baru sadar ternyata dia sudah mulai mencintai raka, orang yang selama ini membantunya.
" apa kamu tau ........" raka melepaskan pelukannya
" tentang apa"
"saat aku terluka kemarin orang pertama yang aku pikirkan adalah kamu, aku takut tidak bisa bertemu denganmu lagi" raka memegang wajah rifa
" apa kamu benar- benar mencintaiku" rifa melihat mata raka
" aku sangat mencintaimu , aku tidak tau itu di mulai dari kapan , setiap tidak melihatmu aku benar-benar merindukanmu, setiap bersama denganmu aku sangat bahagia, sekarang aku tanya kepadamu apa kamu juga mencintai aku"
rifa diam sejenak lalu menganggukan kepalanya "hmmmmm........"
" syukurlah , aku takut kamu menolakku melihat sifatmu yang seperti ini" raka mencubit pipi rifa lembut
"memangnya aku seperti apa" rifa memukul raka pelan
Mereka berdua tampak bahagia sekali, mereka banyak berbicara dan bercanda.