Your Police

Your Police
29



Rifa duduk termenung dan tidak mendengarkan raka yang memanggil-manggil namanya.


"hei ada apa denganmu" raka mengejutkan rifa yang masih duduk melamun


" oh iya ..... ada apa, apa kamu butuh sesuatu"


"apa yang terjadi denganmu kamu tampak bingung" raka menarik tangan rifa dan menyuruhnya duduk di sampingnya


"ah aku tidak apa-apa , mungkin aku hanya kelelahan saja" rifa melepaskan genggaman tangan raka


"kalau begitu lebih baik kamu pulang dan beristirahatlah di rumah"


"tidak perlu , lagi pula hari ini kamu sudah boleh pulangkan, biar aku menunggu dan mengantarmu pulang"


" ok , kamu tidurlah dulu di sofa mungkin aku dapat pulang disore hari jadi kamu bisa istirahat terlebih dahulu"


"hmmm " rifa berdiri dan menuju sofa untuk dapat beristirahat


Meskipun matanya tertutup rifa belum bisa benar-benar tertidur . Dia terus memikirkan apa yang akan terjadi dengan hubungan yang baru dimulainya itu. Dia bergelut dengan otaknya apa dia harus berkata jujur atau menunggu saat yang tepat tentang rahasianya itu kepada raka.


Raka memperhatikan rifa dari tempat tidurnya. Dia tau bahwa rifa tidak sedang tidur, dia meyakini rifa memiliki masalah. Namun enggan memberi tau raka tentang apa yang terjadi padanya.


Raka hanya bisa menunggu sampai rifa mau secara terbuka memberi tau tentang masalah yang menimpa dirinya. Setelah lima hari dirawat di rumah sakit akhirnya raka diizinkan pulang.Rifa mengantar raka ke rumahnya .


"dimana rumahmu" rifa bertanya sambil mengemudi


" tidak usah pulang ke rumah " raka tampak enggan kembali ke rumahnya


" lalu kemana aku harus mengantarmu , apa jangan-jangan kamu......." rifa menoleh ke arah raka


" antarkan ke apartemenku saja"


" ow aku kira....."


"kamu kira apa, apa kamu berharap aku ikut pulang ke rumahmu begitu" raka mendekatkan wajahnya ke telinga rifa


"aku tinggal sendiri kamu bisa mengantarku ke apartemen saja, itu lebih baik dari pada di rumahku sendiri"


"ow baiklah kamu tunjukan saja alamatnya padaku" rifa tidak banyak bertanya lagi melihat raka mulai memasang wajah esnya itu


*sebenarnya apa yang terjadi dengan dia dan orangtuanya itu, dia tampak marah sekali kalau aku membahas tentang mereka, apa hubungan mereka tidak baik, pantas saja sifatnya selalu dingin * rifa bergumam di hatinya


Mereka akhirnya sampai di sebuah apartemen yang bisa di bilang elit. Rifa mengantar raka sampai di kamarnya , lalu dia langsung bergegas pulang. Saat akan pulang raka meraih tubuh rifa dan memeluknya.


Dia tampak bahagia sudah ada rifa dihidupnya sekarang. Rifa melepaskan pelukannya dan berbalik untuk pergi. Namun lagi-lagi raka menahan rifa, dia mengecup kening rifa dengan penuh kasih sayang.


" hati- hatilah di jalan, aku takut kamu dalam bahaya karena sudah mengusik para gangster itu" raka menyentuh pipi rifa dengan kedua tangannya


rifa benar-benar terharu dengan perlakuan raka "hmmmm , pergilah masuk dan istirahatlah"


"bye" raka melambaikan tangannya


"bye"


Rifa dan raka akhirnya kembali ke kampus seperti biasanya. Kali ini rifa bertekad untuk segera menangkap ketua gangster itu. Meski dia belum tau pasti bagaimana hubungannya nanti dengan raka.


Hari demi hari berganti kampus digegerkan dengan adanya pencurian besar-besaran di kampus itu. Para pencuri itu mengambil barang-barang berharga yang dimiliki kampus itu . Rifa dan anak buahnya benar-benar dibuat kewalahan oleh para pencuri itu.


"bagaimana rekaman cctv di area kampus ini" rifa bertanya kepada reza yang sudah tiba di kampus


" semua cctv saat itu mati, tidak ada rekaman apapun pada waktu pencurian"


" apa tidak ada jejak sama sekali" rifa melihat -lihat ruang komputer yang kosong karena lebih dari tujuh puluh unit hilang


" tidak ada, tapi kamu tenang saja kita pasti menemukan bukti itu"


Saat sedang melihat-lihat , rifa menemukan sesutu yang tergores di lantai . Ternyata itu sebuah tulisan yang kemungkinan sengaja di tinggalkan oleh para pencuri itu. Tulisan itu berbunyi * ini baru awal kamu tunggu saja bagaimana kelanjutannya*