
Raka dan Rifa makin akrab setiap hari. Mereka sering mengerjakan tugas bersama.
Hari demi hari dilalui rifa di kampus. Hingga mereka mengadakan bakti sosial di sebuah perkampungan di pinggir kota.
" hei rifa apa kamu akan mengikuti acara ini" tanya raka
" kenapa tidak, sepertinya ini seru" jawab rifa yang masih berkutik dengan buku di tangannya
" apa kalian benar-benar akan ikut" tanya lina dan tino bersamaan
" iya" jawab rifa
" baiklah ini pasti akan seru" kata lina sembari mengangkat tangannya
"(mau sampai kapan aku harus mengikuti kegiatan di kampus ini, aku sudah melakukan ini semua kenapa harus ku lakukan lagi) " keluh rifa
Hari keberangkatan tiba , mereka akan menginap selama tiga hari disana.
"ya ampun apa yang kamu bawa" tanya rifa kepada lina
" eh ini semua keperluanku, kita akan menginap disana tiga hari , aku takut disana akan sulit" lina menggendong tas yang cukup besar
" tapi apa perlu membawa sebanyak itu" rifa menunjuk ke tas lina
" kamu tenang saja" jawab lina
" biar aku bantu membawa barangmu" raka muncul dari belakang mencoba meraih tas rifa
" tidak perlu aku bisa membawanya sendiri" rifa menolak bantuan raka
"tidak apa " raka merebut tas rifa
" kalau rifa tidak mau kenapa tidak membantu aku" lina menyodorkan tasnya
" kamu bawa sendiri saja" raka berlalu meninggalkan rifa dan lina
" huuuu dasar muka es " lina memonyongkan mulutnya
" sudah ayo jalan" rifa menahan senyumnya
Mereka tiba disana , rezky juga ternyata ikut dalam kegiatan itu. Mereka dibagi bepasangan , kebetulan sekali rifa berpasangan dengan raka.
" hai rifa" sapa rezky
" hai , kamu ikut kegiatan ini juga " tanya rifa pada rezky
" iya, aku yang menjadi ketuanya disini"
" owh" rifa manggut-manggut
raka menghampiri rifa "ayo jalan "
" iya , dia menjadi pasanganku, kenapa ada yang salah" raka tampak tidak senang
"oh tidak apa-apa, kalian hati-hati hutan disini jalannya cukup curam" rezky mengingatkan raka dan rifa
"ya " jawab raka singkat lalu menarik tangan rifa
Mereka berdua berjalan menyusuri hutan. Memang benar jalanan hutan itu cukup curam.Mereka melangkah dengan hati-hati.Saat berjalan tiba-tiba muncul sekelompok orang.
" hei anak kota serahkan semua barang-barang kalian" salah seorang dari mereka berbicara
" apa kalian penduduk disini" raka mencoba bertanya
" banyak tanya , cepat serahkan " paksa mereka sembari maju
" tidak semudah itu" raka menahan barangnya
"rifa lebih baik kamu mundur" mendorong rifa pelan
Perkelahian pun terjadi, Raka menghadapi mereka sendiri.Rifa hanya melihatnya, namun salah seorang dari mereka menyerang rifa. Rifa menghindar dan membalas serangan mereka.
Kali ini rifa ikut menyerang dia tidak lagi bertahan. Dia merasa khawatir kepada raka, dia takut raka terluka. Mereka berdua akhirnya bisa menang melawan para perampok itu.
"kamu tidak apa-apa" raka khawatir
"ya , kalau kamu bagaimana" rifa melihat wajah raka
" aku juga tidak apa-apa, ayo jalan sekarang"
"hmmmm" rifa mengikuti raka
Saat di jalan raka baru sadar bahwa rifa ternyata bisa bela diri. Lalu dia tiba-tiba berhenti
" kamu ternyata memang bisa bela diri kan" raka menahan pundak rifa
rifa kaget " eh i...tu aku kan sudah ikut pelatihan jadi bisa sedikit "
" aku rasa tidak , kamu memabg jago " raka menyipitkan matanya
" tidak itu kebetulan saja" rifa berjalan meninggalkan raka namun tiba-tiba dia terpeleset hingga terjatuh
" apa kamu baik-baik saja" raka berjongkok
"sepertinya kakiku terkilir" rifa memegangi kakinya
"apa kamu bisa berdiri"
Rifa mencoba berdiri tapi ternyata kakinya benar-benar sakit, dia hampir terjatuh. Tetapi langsung ditangakap raka , saat terjatuh rifa tidak sengaja mencium pipi raka.