
Mereka berdua masuk ke rumah rifa, rifa menyuruh raka untuk duduk.
" kamu tunggu disini sebentar" perintah rifa
" ya " jawab raka singkat
setelah meninggalkan raka dia kembali dengan membawa air minum ditangannya.
" minumlah ini " mempersilahkan raka
" kenapa repot-repot" ucap raka
" hanya air minum saja"
" hmmm, apa kamu baik-baik saja" menunjuk bahu rifa
"tidak apa-apa ini bisa kuatasi" rifa menahan sakit
"lihatlah kamu bilang tidak sakit tapi wajahmu berkata lain"
"tidak apa kita bisa selesaikan laporan kita sekarang " ajak rifa
"apa ini perbuatan geng rio lagi" tanya raka penasaran
"siapa lagi memangnya yang dari kemarin mencariku"
" kenapa kamu bisa kalah dari mereka" raka kembali bertanya
" heeeiii aku ini seorang perempuan bagaimana bisa mengalahkan mereka semua"
"tapi waktu itu kamu bisa langsung menjatuhkan aku dan rio " rafa mengingatkan rifa kejadian tempo lalu
" kamu jangan berlebihan itu hanya kebetulan saja" elak rifa memalingkan wajahnya
"apa kamu yakin, aku lihat tidak seperti itu"
" berhenti mengkhawatirkan aku dan ayo selesaikan ini " tegas rifa mengeluarkan catatannya (kalau kamu bicara terus aku tidak bisa menyangkalnya lagi)
" siapa yang khawatir" wajah raka memerah
Mereka menyelesaikan laporan mereka . Tidak terasa hari sudah larut, raka izin untuk pulang. Dia terus menanyakan luka di bahu rifa yang membuat rifa sedikit kesal . Raka akhirnya pulang , dia memperingati rifa untuk berhati-hati. Rifa memeriksa lukanya untuk diobati.
"huufftt ini benar- benar menjengkelkan , aku benar-benar terluka sekarang, aku harus jadi orang lemah sekarang " mengompres bahunya yang terluka
" untung tadi ada lina dan juga senior rezky , kalau tidak habislah aku" lalu mengingat perkataan raka
"tapi tu si pria frezeer ternyata bisa perhatian juga, aku baru tau kalau dia punya sisi lembut juga" rifa tersenyum
"ahhh sepertinya aku harus izin sakit, kalau aku masuk besok ini tidak akan baik, walaupun aku bisa saja masuk , tapi aku juga harus mengikuti peranku disini , untuk menghindari masalah lainnya "
" aww kamu ternyata " sapa rezky menghampiri rifa
" oh pagi senior" rifa menyapa balik
"kamu bisa memangilku rezky , kata senior bisa dipakai kalau sedang dikelas saja" ucap rezky
"baiklah se... eh rezky" rifa merasa canggung dengan itu
" oh ya namamu siapa , waktu itu aku lupa tidak menanyakannya"
" saya rifa " jawabnya
"oh rifa, bagaimana lukamu itu, apa sudah baikan" tanya rezky
" ini sudah baikan " memegang bahunya yang kemarin sakit
" bagus kalau begitu , oh ya boleh aku minta nomer telfonmu" melihat rifa "siapa tau kita bisa menjadi teman" usul rezky sembari memberikan hpnya
mengambil hp rezky "tentu saja kamu kan sudah menolongku , aku belum mengucapkan terimakasih dengan tulus , lain kali harus mentraktirmu "
" kamu terlalu sungkan" mengambil hpnya kembali
"kalau begitu aku harus ke kelas dulu" ucap rifa
" baiklah , sampai jumpa lagi"
" sampai jumpa" rifa melambaikan tangan lalu pergi
Di kelas raka dan tino berbincang . Tino membahas raka yang tampak kesal.
"ada apa denganmu " tanya tino
"tidak apa " raka menyenderkan badannya ke kursi
"kamu terlihat kesal sekarang , apa yang kamu pikirkan "
"aku baik-baik saja" raka meyakinkan tino
(entah kenapa aku merasa kesal melihat rifa ngobrol dengan senior rezky, mereka tampak akrab satu sama lain)
"wooooiii " tino mengagetkan lina "apa hari ini rifa masuk"
" iya , semalam aku menelfonnya dia berkata akan masuk hari ini" jawab lina mengelus dada
" setidaknya ada yang mengobati kesal seseorang " melihat raka dan mengangkat alisnya
" diam....!" kesal raka