Your Police

Your Police
02



Keesokan harinya Rifa sampai di universitas tersebut. Dengan berpenampilan ala mahasiswa dia mencari kantor rektor untuk melapor . Dia menyusuri universitas hingga sampai di depan pintu kantor rektor.


Dia mengetuk pintu "permisi pak" sambil masuk keruangan


" silahkan masuk, kamu pasti komandan rifa yang diutus pa andi kan" tanya pa rektor sambil mengulurkan tangan mempersilahkan duduk


" iya pa , anda pasti sudah tau apa yang akan saya kerjakan disini" sambil duduk dan melanjutkan perkataannya "saya tidak ingin membuat kekacauan disini dan saya harap bapa bisa merahasiakan indentitas saya disini"


" siiaapp komandan" sambil bersikap hormat kepada rifa


" apa yang bapa lakukan" menurunkan tangan "kalau bapa seperti ini bisa-bisa sebelum saya mulai sudah terlebih dulu ketauan"


" ya maaf saya terlalu bersemangat , saya pastikan tidak ada yang tau tentang anda disini komandan"


"dan satu lagi anda bisa berhenti memanggil saya komandan cukup rifa "


" baiklah komandan , eh rifa "


" kalau begitu saya permisi saya akan masuk kelas sekarang, terimakasih atas bantuan bapa" sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan


" saya merasa terhormat bisa membantu kepolisian" membalas berjabat tangan


Setelah itu rifa meninggalkan ruangan menuju kelas yang akan dihadirinya. Sesampainya di kelas dia dikenalkan dengan mahasiswa lain oleh dosen yang mengajar


" semuanya perkenalkan dia rifa , dia pindahan dari kota B , mulai sekarang dia akan menjadi teman kalian"


" hai semua saya rifa , saya berharap kalian bisa membantu saya kedepannya nanti"


"lumayan imut juga" tutur seorang siswa


" ya dia boleh juga " sahut yang lainnya


Dalam hati rifa menggerutu" imut palamu , kalau bukan karena menyamar mungkin aku lebih cocok jadi tante kalian " keluh rifa dalam hatinya


Umur rifa tidaklah muda lagi seharusnya dia sudah mempunyai keluarga. Namun karena dia mendedikasikan hidupnya untuk kepolisian dia belum berfikir untuk menikah.


Di kelas rifa melihat seorang siswa yang begitu pendiam " siapa dia kenapa wajahnya tanpa ekspresi seperti itu, tidak seperti mahasiswa lain yang banyak omong" ucap batinnya


"baiklah rifa kamu bisa duduk di bangku belakang " ucap dosen yang mengagetkan rifa


" terima kasih pa"


" hai saya rifa , boleh tau kamu siapa"


" saya tau , kamu tidak perlu memberi tau "


"ya tuhan ni orang kenapa dingin kaya frezeer sih, bagus saya sapa kalau bukan karena pekerjaan sudah saya tegur dia" gerutunya


" hai saya lina" sapa seseorang


" hai saya rifa"


" kedepannya kita bisa menjadi teman" lina mengusulkan


Jam pelajaran berakhir waktunya untuk istirahat . Rifa dan lina berjalan menuju kantin untuk makan .


" apa yang akan kita makan ya" tanya lina


" aikh aku ingin makan bakso yang pedas kayaknya" jawab rifa


" baiklah kalau kamu ingin bakso, aku juga akan memesannya, ayo aku akan pesan batagor"


" eehh kukira kamu akan pesan bakso juga"


"hehehehe aku ingin makan batagor"


Akhirnya mereka memesan makanan . Sambil makan rifa melihat sekeliling untuk mencari informasi. Saat melihat-lihat dia mendapati sekelompok orang sedang membuli seseorang. Rifa yang melihat reflek berdiri dan ingin menghampiri mereka, tapi ditahan oleh lina .


" jangan urusi mereka , dia adalah geng pembuat masalah di kampus ini"


" kalau mereka salah kenapa tidak ada yang melaporkannya " kesal rifa


" lah sudah banyak yang melapor, tapi setiap yang melapor keesokannya ada saja yang terluka" menghela nafas " huuufffttt ,,,,,, mereka punya backing yang kuat , lebih baik tidak mencampuri mereka"


" apa kamu takut ?"


" aku tidak takut , aku belajar karate untung melindungi diri tapi aku tidak ingin mencari masalah" jawab lina


Rifa semakin kesal melihat mereka yang semena-mena . "aku harus bersabar dulu , aku tidak boleh gegabah , aku harus membongakar segala kejahatan di kampus ini, aku harus mengumpulkan informasi terlebih dahulu sebelum bertindak"