
Ellia yang tertegun berusaha tetap tenang dan melanjutkan makanya,meskipun pada dasarnya ia tahu bahwa Mahen menatapnya dari tadi.
"Hai Ellia ??",Sapa salah seorang dari gerombolan Mahen,Elliapun menjawab dengan anggukan kepalanya sambil tersenyum tipis.
Mahen yang meliha Farhan menyapa Ellia merasa agak kesal.
"Eh Ell,kamu ngapain disini??"Tanya Farhan kembali,sambil duduk di kursi kosong samping Ellia"
"Lagi makan".Jawab singkatnnya.
Farhan yang berusaha menggoda Ellia, teralihkan saat Mahen menghampirinya dan menaru ponsel di meja tempat Ellia makan.
"Minggir!!".Ujar Mahen ke Farhan.
Farhan yang mengerti akan maksud temannya tersebut langsung berdiri dan mempersilahkan Mahen untuk duduk dikursinya.
Sambil tertawa tipis Farhan mengajak gerombolannya untuk pergi kembali ke rumah sakit.
"Ayo-ayo"Ajaknya.
"bungkus semua ya mbak yang dipesen"
"Loh ngak jadi makan disini mas"Tanya penyaji makanan ke Farhan.
"Udah ditunggu temen mbak yang ada di rumah sakit".Bisik Dito dengan manja ketelingga mbak penyaji, senyum manis Dito membuat mbak penyaji salting hingga lupa meminta tagihan dan malah memberikan kembalian.
"Loh mbak kita belum bayar lo".Goda Dito sambil ketawa, membuat para gerombolannyapun ikut menertawakannya.
"Dih dasar buaya".Sahut Zaki.
"Oh ya mas,maaf ini semua totalnya RP 310.000 mas".Sambil menutupi rasa malu mbaknya mengajak bicara basa-basi pelanggan lainnya.
Disamping lelucon yang diciptakan oleh Dito,terlihat Mahen yang menatap Ellia dengan tatapan tajam, dan taklama setelah gerombolannya meninggalkan kedai dan menyisakan Ellia untuknya, Mahen membuat tatapan yang awalnya tajam kearah gadis cantik didepannya menjadi tatapan manis penuh suka.
"Hai". Sapa Mahen dengan senyumnya, Ellia yang mendengarnya mengawali pembicara menatap Mahen sambil bernafas berat.
"Kak aku udah selesai, aku balik dulu". Ujar Ellia terhadap Mahen dan mulai beranjak dari tempat duduknya.
Belum sempat berjalan, Mahen menahan tangan kanan Ellia dan nemengangya erat-erat.
"Mas ini pesanannya". Ujar mbak-mbak penyaji, sambil menaruh pesanan Mahen dimeja.
"Ellia yang melihat mbak penyaji memandangi mereka berdua nembuatnya malu dan mengalihkan pandanganya ke Mahen yang masih menatapnya.
"Lepas ngak".Sontak Ellia kesal.
"Gila lo ya".Gertak Ellia sambil berusaha melepaskan geggaman tangan Mahen. Melihat banyak orang yang sedang memperhatikan dirinya membuat Ellia merasa malu, lalu dengan kesal ia duduk kembali dikursinya
Mahen yang melihat Ellia duduk kembali, tersenyum penuh kemenangan, dan dengan santainya Mahen memakan makanannya sambil memegangi tangan Ellia.
"kyaaaa irinya"
"Cowoknya keknya sayang banget sama ceweknya ya"
"Liat deh sepertinya mereka sedang bertengkar deh".Gunjingan para pelanggang di kedai yang sedang memanas melihat kedekatan mereka berdua.
"Apa??".Tanya Mahen yang melihat Ellia menatapnya dari tadi.
"Lepasin ngak".Jawabnya kesal.
Mahen pun menatap Ellia sekilas sambil tersenyum tipis dan melanjutkan makannya, Ellia yang tidak ingin menarik perhatian para pengunjung kedai mengalihkan pandangannya dan membiarkan tangannya masih tetap digenggam oleh Mahen.
Tak berselang lama Mahen sudah selesai menghabiskan makanannya, sambil bernafas lega Mahen melepaskan tangan Ellia dan menannyai Ellia.
"Mau jalan??"Tannyanya.
"Tolol".Ujar Ellia dengan kesal dan segera Menjauh dari Mahen.
Melihat tingkah Ellia yang terus-terusan menolak dirinya, membuat Mahen semakin tertarik dan penasaran.
"Dasar si kecil nakal".Gumam Mahen dalam hati sambil tersenyum.
"Oi bang, ayo ada urusan nih".Nino menyadarkan Mahen yang sedang tersipu malu.
"Ayo bang, bang ngapain senyum-senyum sendiri??".Tanya Nino
"Mana ada".Sahut Mahen sambil berdiri dan segera bergegas keluar.
Dalam fikiran Mahen sendiri ia merasa bingung mengapa ia bisa tersenyum dari tadi saat bersama dengan Ellia dan mengapa jika ada lelaki yang mendekati Ellia ia merasa ingin memukuli lelaki tersebut meskipun orang itu adalah temannya.
Sebelumnya Mahen tidak pernah merasakan hai ini dalam kehidupannya.
"TERLALU MANIS UNTUK DIABAIKAN
TERLALU CANDU UNTUK DINIKMATI
ITULAH KAU ELLIA, BAGAIMANA BISA KAU MERACUNI FIKIR INI" (Mahendra)***