
Roro duduk di bangku koridor sendirian ,dia teringat kata-kata yang menyakitkan seakan-akan menusuk jantungnya ketika Sabita melupkan amarahnya kepadanya.
Beberapa hari yang lalu,saat Roro kembali kesekolah setelah olimpiade berlangsung,banyak siswa dan siswi membicarakannya,hingga kejadian di olimpiade itu masuk ketelinga sabita.
"Sab gue bisa jelasin sab"Roro berusaha menjelaskan kepada Sabita.
"Lo malu-maluin gue tau ngak lo"Luap Sabita,sambil menggedor pintu toilet sekolah.
"Kemaren lo bilang apa ha,mau bantuin gue kan,mana buktinya lo malah bikin malu gue"Teriak sabita ,sambil mendorong-dorong Roro.
"Itu cuma kecelakaan sab,gue pasti bikin si ****** tu jera kok(Ellia)"Roro menyakinkan.
Sebelumnya Roro tidak pernah mengecewakan apa yang diminta oleh Sabita,seperti membuli seseorang ataupun memberi pelajaran pada mereka yang membuat Sabita merasa kesal,bahkan Roro bisa sampai membuat mereka babak belur,sampai-sampai ia terlibat dalam masalah,hanya untuk menyenagkan sahabatnya itu.
"Lo itu udah ngak berguna lagi,sebaiknya lo pulang gih sana,dasar anjing ngak guna"Sahut Andin.
"Apa lo bilang,ngomong apa lo ha"Teriak Roro sambil menjambak rambut Andin.
"Berani-beraninya lo ya"Sabita menampar Roro yang sedang menarik rambut Andin,dan seketika Roro terdiam sambil menatap sahabatnya itu.
"Lo tau kan Zebb sekarang,dia tu cumak benalu yang ngak guna"Sahut Andin kembali,sambil memegangi rambutnya yang sakit.
"Bilang apa lo bacot"Roro yang mendengar perkataan Andin merasa sangat kesal ,hingga mempelampiaskan amarahnya ke Andin dengan mendorong serta menamparnya beberapa kali.
"Berhenti lo Anjing"Sabita berusaha memisahkan Andin dan Roro.
"Lo bisa kayak gini,itu karena gue,camkan itu"
"Mulai sekarang lo bukan temen gue lagi"Sontak sabita,dan melalui Roro begitu saja dengan menggandeng tangan Andin.
Saat Andin menolehkan wajahnya,Andin tersenyun ke arah Roro dengan senyum liciknya,sedangkan Roro hanya terdiam dan merenungkan apa yang membuat Sabita sebegitu marah padanya.
* * *
Saat SMA kelas satu,dimana Roro pertama kali bertemu dengan Sabita.
Pada saat itu,Sabita yang melihat Roro terjatuh saat mengikuti extra bela diri membantunya untuk berdiri,dan pada saat itulah mereka mulai berteman.
"Lo mau kan jadi teman gue??"ajak Sabita,dan Roro membalasnya dengan anggukan beserta senyuman.
Sabita adalah teman pertama Roro saat ia measuk dibangku SMA,dari sana mereka sering makan dan main bersama hingga pada suatu saat Sabita memperkenalkannya pada teman-temannya.
Mereka menyambut Roro dengan senang,kecuali satu yaitu Andin.
Andin yang mengetahui latar belakanh Roro seorang yang tidak punya,membuatnya risih akan kehadiran Roro.
Namun Sabita tetap tidak membedakan antara kedua temannya tersebut.
"Gue ngak suka sama dia"Bisik Andin ke Sabita.
"Hhhh,ngomong apa sih"Sabita menganggapnya suatu candaan.
"Beneran"bisik Andin kembali.
"Lo ini kan sahabat gue sejak SMP kan,pasti lo tau kan ngak sembarangan orang yang gue ajak temenana"Bisik Sabita sambil tersenyum.
"Eh Zebb ayo pulang"Andin membangunkan lamunan Sabita.
"Lo lagi ngelamun apa Zebb??"tanya Sahra.
"Ngak apa-apa,ayok jalan"Sabita mencoba terlihat seperti biasa.
"Gimana kalau kita makan bakso dulu,gue yang tlaktir deh"Ajak Andin.
"Ok"jawab kompak Mawar dan Sahra.
"Lo ikut kan Zeb??"Tanya Andin sambil merangkul bahu Sabita.
"huh..Ya ya"Jawab sabita sambil diiringi dengan ketawa.
"Cihh"Roro yang melihat mereka dari atas koridor merasa bahwa dirinya memang dari dulu tidak seharusnya bergabung dengan mereka.
"Ngak mau pulang kak??"tanya Ellia yang datang tiba-tiba.
"Mau apa lo??"Sontak Roro terkaget.
"Ok aku duluan"Seru Ellia dan melalui Roro.
"Tunggu"Seru Roro yang membuat Ellia berhenti.
"Lo mau ngopi ngak,ayok ke caffe deket sini"Ajak Roro.
"Ok"Ellia mengangguk dan tersenyum padanya.
Saat mereka sampai di caffe,Roro mulai bercerita tentang sahabatnya yaitu Sabita
Roro menceritakan panjang lebar tentang apa masalahnya
Kenapa dia berbuat seperti ini terhadap Ellia,dan pada saat akhir cerita,Roro meminta maaf kepada Ellia akan apa yang telah ia lakukan kepadanya.
"Gue minta maaf"sontak Roro.
Sabita yang mendengar permintaan maaf dari Roro membuatnya tersenyum.
"Mau gue ajak kesuatu tempat??"tanya Ellia.
"Ke mana??"Tanya Roro.
"ikut aja"sontak Ellia sambil menggandeng tangan Roro.
Roro yang penasaran akan Ellia,ia mengikuti apa saja yang Ellia katakan.
"Lo gila ya,ngapain sore-sore gini ke sini??"sontak Roro saat tiba ditempat yang Ellia maksud adalah tempat untuk latihan boxing.
"Ayo masuk??"Ellia masuk serta menarik tangan Roro.
"Nih pakek"Ellia memberikannya pakaian ganti.
"Lo mau ngapain sih??"Tanya Roro kebingungan serta mengambil baju yang Ellia berikan.
"Masak main pakek baju sekolah"jawabnya.
Roro yang sudah ganti baju terlihat keluar dari ruang ganti cewek.
"Mau main??"Tanya Ellia kembali.
"Lo nantang gue"Jawab Roro dengan senyuman.
"eem bisa jadi"jawab Ellia dengan senyum sinisnya.
"Maju lo sialan"Sontak Roro dan langsung menyerang Ellia.
Mereka berdua bermain dengan sengitnya,Ellia yang biasanya tidak suka main-main malah melayani Roro dengan arogannya.
Dan pada saat mereka berdua kehabisan tenaga ,mereka berdua membaringkan badan di ring,sambil mengatur nafas masing-masing.
"Gigi lo berdarah tuh"Roro memberi tahu Ellia.
"Hidung lo juga mimisan"Jawab Ellia.
"Kayaknya kaki lo bakal bengkak,karena tendangan gue tadi"Jawab Roro kembali dengan sinisnya.
"Diem!!,muka udah babak gitu masih ngoceh"Balas Ellia.
"Kurang ajar lo ya"Sontak Roro sambil mendorong bahu Ellia.
"Hhhhhhh"Ellia tertawa dengan puasnya dan Roro mulai ikut tertawa bersama,dari sini berkat Ellia, Roro bisa meluapkan emosinya hingga akhirnya merasa lega.