
Keesokannya Setelah selesai dari mata kuliah nya. Angga dan anggri pulang bersama. Mereka selalu pulang bersama setiap waktu.
Dari arah belakang pak dokter melihat anggri dan memanggilnya. Angga menoleh lebih utama daripada anggri.
"Bapak manggil saya?" Tanya anggri
"Iya. Hm angga, bapak boleh minjem anggri nya sebentar?" Tanya pak dokter
Angga yg merasa binggung harus menjawab apa. Ia ingin sekali menolak tawaran itu tetapi ia masih berpikir bahwa dia masih belom siapa² nya anggri.
"Hm boleh pak" kata angga dengan senyum terpaksa.
Setelah mendapatkan jawaban dri angga, pak dokter mengajak anggri untuk bersama nya. Angga hanya menatap kepergian anggri sampai wanita itu hilang dri pandangannya.
"Biarlah, toh juga anggri gaada perasaan sama bapak itu" gumam angga dalam hati lalu pergi entah kemana.
...
Pak dokter mengajak anggri untuk memasuki mobil nya. Tiba di dalam mobil suasana menjadi hening. Anggri merasa canggung sedangkan pak dokter terlihat sangan santai.
"Pak, ini kita mau kemana yaa?" Tanya anggri memecahkan keheningan
"Nanti kamu juga tau" jwb pak dokter
Anggri yg langsung diam dengan jawaban dosen nya itu langsung membuang wajah nya ke arah luar dan sesekali memainkan ponsel nya.
"Kamu jgn main handphone terus anggri, di kedokteran harus banyak² baca buku" kata pak dosen dengan nada lembut dan tersenyum sedikit dan memberi anggri sebuah buku.
"Ini apa pak?" Tanya anggri heran
"Baca aja" jwb dosen
Anggri yg penasaran langsung membuka buku tsb dan isinya hanya cara menjadi istri yang baik. Anggri bingung dan menganggap dosen ini sudah tidak waras.
"Ini gue di kasih buku tentang cara menjadi istri yg baik apa ga salah ya! Ini seriusan ga sih? Apa bapak ini salah ngasih buku yaa? Ah mending gue tanyak aja dah" gumam anggri dalam hati.
"Pak" panggil anggri dan pak dosen langsung melihat nya.
"Ini buku ga salah? Ini tentang cara menjadi istri yg baik loh pak" tanya anggri sambil terbata bata
"Saya ga salah ngasih buku, itu bener untuk kamu" kata pak dokter dengan nada santai dan tetap fokus ke depan
"Haa!" Kata anggri dengan kaget
"Bagi kamu, kalau buku itu saya kasih ke calon istri saya bagus ga?" Tanya pak dokter dengan nada santai.
Anggri kembali terbelalak dan sambil menghela nafas lega.
Pak dokter yg mememperhatikan anggri hanya sekilas pun tertawa kecil.
"Untung. Kiraiin buat gue, bisa gilak aing mah" gumam anggri dalam hati "
"Hm menurut saya sih pak, ga usah lah di kasih beginian, tohh setiap seseorang mempunyai caranya masing² untuk memperlakukan orang yg di cintai nya" kata anggri sambil meletakkan buku nya
"Oh yasudah, kalau begitu saya tdk perlu memberi nya itu" kata pak dokter.
Anggri hanya membalas dengan anggukan kepala.
Setelah 1 jam di perjalanan karena macet. Mereka berkunjung ke toko perhiasan yg terkenal di jakarta.
Anggri hanya berfikir dosennya itu mengajak nya hanya untuk membantu memilihkan cincin untuk istri nya.
"Anggri, bantuin bapak milih yaa" ucap pak dokter dan mendapatkan anggukan dri anggri.
"Untunglah dugaan gue bener, hufft lagian ga mungkin dosen setampan dia mau ngelamar gue yg masih bocah ini" gumam anggri dalam hati
Setelah memilih milih banyak cincin. Pak dokter menemukan model cincin yg bagus. Ia langsung mendatangi anggri untuk memberi penilaian.
"Anggri, ini gimana menurut kamu?" Tanya pak dokter.
"Hm bagus sih pak, cuman ini berlian nya banyak bgt, entar kalo di pakek takut nya ilang, kan sayang" kata anggri sambil melihat cincin itu.
"Oh gtu yaa" jwb apk dokter lalu mengembalikan cincin tsb ke tempat nya.
"Gimana kalau ini pak?" Tanya anggri yg sudah menemukan cincin tsb
"Kamu suka? Eh maksudnya saya, kamu yakin istri saya bakal suka?" Tanya pak dokter dengan raut wajah salah tingkah karna salah bicara td
"Seperti nya sih gtu pak, soalnya ini simple bgt tapi lucu, cantik lagi" kata anggri sambil tersenyum kagum melihat cincin tsb
"Coba di jari kamu, kaya nya jari istri saya sama besarnya kaya jari kamu" kata pak dokter.
Anggri pun menuruti permintaan pak dokter dan ternyata pas.
Pak dokter langsung mengambil cincin itu lalu membayar nya ke kasir.
Setelah melakukan pembayaran, pak dokter mengantarkan anggri untuk pulang kerumah.
Di perjalanan suasana menjadi hening kembali.
Sesekali anggri juga melihat ke arah dokter itu. Anggri beralih ke bibir pak dokter tsb.
"Duhh bibir bapak ini kok kecil bgt sihh, warna pink malah. Meleleh deh gue" gumam dalam hati anggri sambil mengalihkan pandangan nya ke luar ketika anggri ketahuan melihat pak dosen tsb
"Kamu ngapain ngeliatin saya? Saya tau saya tampan" kata pak dokter sambil tertawa
"Ah ga pak, td ga sengaja!" Ucap anggri dengan salah tingkah
"Kalau kamu suka, liatin aja gapapa"
Anggri yg berasa jantung nya mau copot karna perkataan dosen nya tsb pun mengalihkan pembicaraan.
"Calon istri bapak pasti nanti nya seneng bgt punya suami kaya bapak" kata anggri
"Knapa gtu?"
"Bapak uda gtg, baik, dewasa, masih muda tapi sudah mapan lagi"
"Bisa aja kamu" ucap pak dokter sambil mengacak-acak rambut anggri.
...
Pak dosen hanya mengantarkan anggri sampai gerbang rumah nya saja.
"Gamau masuk dulu pak?" Tanya anggri sambil melepaskan sealbelt nya.
"Lain kali aja yaa, bapak masih ada urusan, terimakasih sudah menemani bapak memilih cincin td yaa"
"Ah iya pak sama²" ucap anggri sambil melambaikan tangannya.
Akhirnya mobil pak dosen td menghilang dari pandangan anggri dan anggri pun memasuki rumah nya.