
Ruang rapat 19.00 WIB
Semua pegawai sudah berkumpul semua di kursi nya masing². Sebelum anggri datang mereka berbisik bisik entah apa yg mereka bicarakan, tetapi mungkin tak jauh² karna anggri yg mengadakan rapat secara tibatiba. Karna dia juga baru sampai dan langsung mengadakan rapat. Semua pegawai heran kepada nya.
Anggri memasuki ruang rapat tanpa di ikuti oleh kevin. Anggri hanya di temani oleh orang dalam tsb. Kevin hanya dapat menunggu anggri di ruangan anggri karna anggri tadi menyuruh nya.
"Selamat malam semua" ucap anggri menyapa semua pegawai nya agar menghadap ke anggri.
"Malam Mbak" ucap serentak semua pegawai
"Kalian tau kenapa kalian saya kumpulkan?" Tanya anggri dengan logat dewasa nya
"Mau rekomendasi resep baru ya mbak?" Tanya salah satu pegawai.
Ya karna biasanya anggri melakukan rapat karna akan ada perkembangan resep baru agar para pelanggan tak bosan dengan cafe nya.
"Kamu salah" jwb anggri dengan senyum seringai nya
Para pegawai melihat kekanan dan kekiri saling bersitatap dengan pegawai lainnya karna heran dengan sikap anggri.
"Mbak ani, saya minta berkas pendapatan kita selama saya kuliah di jakarta" perintah anggri kepada penjaga kasir tsb.
Mbak ani mengambilkan berkas pendapatan selama 6 bulan dan ia masih memasangkan wajah tanpa rasa bersalah nya. Sedangkan di kursi sudut sudah terlihat dari raut wajah chef azril yg sudah mulai gelisah.
"Pendapatan kita selama 4 bulan meningkat, terus kenapa selama 2 bulan ini menurun drastis?" Tanya anggri tegas.
Semua para pegawai kaget, pasalnya cafe anggri selama ini malah semakin rame.
"Kalian tidak ada yg mau menjawab?" Ucap anggri kembali sembari melemparkan berkas tsb ke atas meja dengan kasar.
Pegawai semua nya kaget atas sifat bos nya yg lebih mudah dari mereka. Yg mereka ketahui bahwa selama ini anggri adalah bos yg baik, toleran dan pengertian.
"Cheff? Apakah ada sesuatu yg ingin kamu katakan?" Tanya anggri yg mata nya menyelidik ke chef azril yg terus menunduk
"Ha saya mbak, saya gatau apa² mbak" jawab chef tersebut dengan terbata bata
"Oh oke, mbak ani. Bagaimana dengan embak?" Tanya anggri menatap tajam mbak ani. Sedangkan mbak ani terus menunduk tak berkutik sama sekali.
"Cafe ini baru saya tinggal 6 bulan karena saya kuliah di jakarta dan orangtua saya juga pindah kesana untuk sementara. Selama 2 bulan ini cafe saya rugi 25juta, kalian apakan cafe saya?" Tanya anggri dengan berteriak.
Semua pegawai melongo atas pernyataan anggri bahwa cafe nya rugi 25 juta selama 2bulan. Kevin yg di atas mendengar jeritan anggri, langsung turun kebawah dan menguping di balik pintu.
"Tapi mbak, cafe ini selalu rame setiap hari. Bahkan lebih rame dari sebelumnya" ucap salah satu pegawai yg selalu melayani pembeli.
"Saya selalu baik kepada kalian, bahkan saya lebih muda dari kalian. Ini cafe atas usaha saya, saya membangun ini dengan jerih payah saya, apakah kalian tega mengambil keuntungan dari anak kecil yg selalu menghargai kalian? Apakah kalian tega menghancurkan cafe yg sudah saya dirikan selama hampir 4 tahun?" Tanya anggri dengan meninggikan suara nya.
Kevin yg mendengar itu hanya kaget bukan kepalang. Bagaimana bisa seorang gadis mungil bisa segalak itu jika marah.
Semua pegawai hanya dapat menunduk atas perilaku anggri. Anggri yg merasa kasihan karna pegawai yg lain juga terkena imbas nya langsung to the point.
Ia memerintahkan orang dalam untuk memutar kan vidio yg berdurasi 1 menit itu di proyektor.
Apalagi bahwa orang itu adalah mbak ani dan chef azril kebanggan anggri.
Semua pegawai sangat merasa kecewa terutama anggri.
Sedangkan mbak ani dan chef azril hanya dapat menunduk malu.
"Kalian gunakan untuk apa uang saya?" Tanya anggri menatap tajam ke arah mbak ani dan chef azril.
Tetapi kedua orang tsb masih diam tidak berkutik.
"Saya bilang, kalian gunakan untuk apa uang saya?" Tanya anggri berteriak dan menggebrak meja.
Dari sebrang, kevin kaget bukan main mendengar suara anggri yg meninggi dan menggebrak meja. Ia tetap fokus mendengarkan apa yg di bicarakan oleh anggri.
"Sa... sa.. ya gunakan untuk biaya rumah sakit ibu saya mbak. Maafkan saya" ucap chef azril terbata bata dan masih dengan menunduk
"Sa.. saya gu nakan untuk bayar utang suami saya mbak, suami saya terjerat utang karena berjudi dan saya terus di datangi dengan orang² yg tak saya kenal, dia mengancam saya dan anak saya. Dan suami saya pergi entah kemana" jwb mbak ani dengan sendu nya.
"Kalian apa tidak bisa meminjam uang kepada saya? Apa selama ini jika kalian meminjam uang saya, saya akan menolak kalian?" Tanya anggri dengan tatapan menuju semua pegawai.
"Tidak mbak" jwb serentak semua pegawai.
Pasalnya anggri selalu meminjam nya uang nya kepada pegawai. Karna anggri tahu betul ekonomi mereka, apalagi pegawai cafe anggri banyak anak kuliahan yg terkadang ketika ingin membayar kost²an uang mereka masih belum di kirim. Jadi anggri meminjam kan uang nya terlebih dahulu.
"Kembalikan uang saya dan kalian saya pecat atau polisi yg akan menjemput kalian?" Tanya anggri
"Jangan mbak, saya akan mengembalikan uang embak tapi beri saya waktu, dan jangan pecat saya mbak, saya butuh pekerjaan ini" ucap chef azril
"Tapi saya tidak butuh orang seperti kamu" jwb anggri dengan wajah datar
"Mbak, tolong maafkan saya mbak, jangan pecat saya. Saya janji akan mengembalikan uang embak" pinta mbak ani yg sudah menangis
"Jangan menangis. Saya tidak butuh airmat kamu" jwb anggri kesal
Semua pegawai menatap kedua orang tsb dengan kesal. Ada rasa kasihan di raut wajah anggri melihat kedua orang tsb.
Anggri berusaha berpikir keras untuk menyelamatkan nasib mereka dan suasana hening sejenak terjadi.
"Oke, saya tidak akan pecat kalian dan saya tidak akan lapor ke polisi. Dalam jangka 2bulan, saya harap kalian sudah mengembalikan uang tsb, karna itu adalah gaji mereka" kata anggri sambil menunjuk semua pegawai yg terdiam.
"Saya tak suka ada kejadian seperti ini. Jika kalian ada masalah tolong kata kan pada saya dan saya akan mengusahakan itu. Jangan mengkhianati saya. Sudah malam, kalian pulang dan beristirahatlah" ucap anggri langsung meninggalkan ruang rapat. Anggri capek harus berteriak teriak seperti itu.
Sedangkan di dalam pegawai yg lain berbisik bisik sambil menatap mbak ani dan chef azril lalu meninggalkan mereka berdua disana.
"Saya nyesel chef, mbak ani terlalu baik buat saya" kata mbak ani sambil menangis
"Sudahlah mbak, intinya jangan kita kecewakan lagi dia" jwb chef azril