When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Buku



"Bagaimana apa sudah ketemu ?." Jonathan menelfon Dokter Juan untuk menanyakan kabar tentang seseorang yang ia cari dan setelah beberapa belum ada kabar sama sekali hingga ia berinisiatif untuk menanyakannya langsung.


"Sangat sulit karena rumah sakit tidak mudah memberikan akses data semua pasien kepada semua dokter sekalipun, ditambah ini rumah sakit besar dan aku harap kau bersabar."


"Tapi sampai kapan ?! Ini sudah sangat lama." Jonathan merasa tidak sabar hingga nada suaranya meninggi. Jika bisa ia ingin bertemu orang itu secepat mungkin.


"Memangnya jika sudah ketemu kau mau apa ?."


Diam tiada suara, jujur saja ia sendiri bingung harus apa karena tujuan utamanya ingin bertemu tapi setelah itu ia tidak tau harus berkata apa atau harus bagaimana.


"Jo kau masih disana." Dalam keheningan telepon membuat Dokter merasa ada yang aneh, ia pikir sambungan telepon telah terputus tapi detik angka yang masih berjalan di layar membuatnya yakin masih tersambung.


"Yang penting aku ingin segera bertemu dengan orang itu." Jonathan memutuskan sambungan telepon secara sepihak, pikirannya kacau setelah beberapa hari yang lalu ke Bandung dan merasa rindu.


Kenangan dulu membuatnya susah melupakan tempat kelahirannya, ibunya bahkan di makamkan di sana tapi ia masih belum berani ziarah ke makam karena merasa tidak berguna, janji yang dulu di katakan tidak mampu ia ditepati.


Tangan seseorang yang memegang bahunya membuat Jo terkejut, lamunannya terganggu dan ia tidak mampu menyembunyikan raut wajah gelisah itu dari ayahnya.


"Ada apa ?." Kata yang selalu di lontarkan orang kepadanya dan ia hanya mempu menggeleng.


"Tidak apa." Jawabnya, tapi sepertinya sang ayah menuntut jawaban lebih.


"Kau tidak bisa membohongi ayah, terlihat jelas bahwa ada yang kau pikirkan sampai seperti ini, katakanlah." Desaknya.


"Untuk saat ini aku belum bisa bilang, mungkin kapan-kapan saat sudah siap aku akan mengatakannya, aku ke kamar dulu." Jo melangkahkan kakinya menjauh dan ia sadar bahwa ucapannya sama sekali bukan jawaban yang ayahnya inginkan.


Semenjak kepergian ibunya, Jonathan menjadi pribadi yang tertutup tidak seperti dulu dan hal itu memberi jarak antara dia dan ayahnya. Sedih tentu saja tapi ayah ya Jonathan tidak bisa berbuat banyak karena kepergian sang istri juga memberikan luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh selamanya. Pribadi yang lemah lembut amat berat di ikhlas kan kepergiannya.


"Andai kau di sini sayang, anak kita sudah besar tapi aku tidak tau apa yang harus ku lakukan selain bekerja." Ayahnya Jo menatap foto dengn bingkai besar yang terpanjang di dinding, senyuman itu begitu di rindukan.


*****


Perpustakaan yang biasa ramai oleh pengunjung kini sepi hanya ada penjaga perpustakaan, Erin dan 3 orang siswa laiannya saja. Entah mengapa Jonathan ingin bertemu gadis itu, mungkin karena ada beberapa kesamaan dari mereka yang membuat keduanya cocok jika sedang bersama.


Sangat mudah di temukan, biasa Erin duduk di pojokan membaca buku dan ada tumpukan buku lainnya di meja yang sama dan pasti itu adalah buku yang akn atu telah usai di baca. Jo menghampiri dan tak segan duduk serta menganggu gadis itu dengan cara sedikit menurunkan buku yang sedang di baca.


"Laper nggak ?." Tanyanya saat Erin dan dirinya beradu pandang dengan buku sebagai pembatas, hanya terlihat mata hingga Erin memilih menurunkan bukunya.


"Lumayan laper, kenapa ?." Kini giliran gadis itu bertanya.


Sebuah roti diambil dari kantung saku Jo, Erin tertawa kecil dan melihat sekitar agar tidak di perhatikan oleh orang lain.


"Kalau gitu ayo makam di kantin, lagian nggak kenyang makan roti."


Ajakan Jo berhasil, Erin memilih menutup bukunya dan menaruh buku yang telah ia ambil di rak tempat buku tersebut berasal. Menatanya sesuai dengan tema lalu keluar menuju ke kantin bersama. Kebersamaan mereka nyatanya diperhatikan oleh seseorang yang tidak suka akan keduanya yang kerap kali terlihat begitu akrab.


Tatapan itu seakan ingin menelan siapa saja yang lewat dan kaleng yang berada dalam genggaman langsung penyok begitu saja. Rasa amarah dan ego lebih besar dari kesabaran tapi ia pandai menutupi dengan senyuman, langkah demi langkah mendekat ke arah Jo dan Erin hingga berhasil menghalangi langkah keduanya.


"Erin bisa kita bicara sebentar."


Dia adalah Wisnu, siswa populer dengan ketampanannya juga karena ia adalah ketua OSIS. Banyak yang sudah tau bahwa lelaki itu tertarik oleh Erin namun sayangnya bukan rahasia umum jika lelaki yang nyaris sempurna di kalangan para siswi tersebut tidak mendapat sambutan di hati gadis yang diincar.


"Sebentar ya Jo."


Jo mengangguk melihat Erin dan Wisnu pergi bersama menjauh darinya. Entah apa yang ingin di katakan tapi Jo masih menunggu disan sampai Erin kembali dan membawa sebuah kotak yang Jo yakini dari Wisnu.


"Itu apa ?." Mata Jo tertuju pada kotak dengan sampul hati, entah secara terang-terangan atau tidak tapi bisa saja itu mengisyaratkan perasaan Wisnu kepada Erin.


"Wisnu memberikan ini tapi aku tidak tau isinya apa, dia hanya bilang aku akan menyukainya setelah kotak ini di buka."


Di kantin mereka bertemu dengan Rani dan Andika yang duduk bersama, sepertinya bukan kesan bersahabat yang terlihat tapi malah pertingkatan kecil karena berebut kerupuk berbentuk lonjong yang terbungkus plastik dan tinggal satu.


"Kasih gue nggak !." Tatapan Rani tajam, meski barang remeh nyatanya ia begitu menginginkannya.


"Nggak, lo ambil tang lain aja gih." Balas Andika.


Erin duduk di sebelah Rani sementara Jo duduk disebelah Andika, melihat kerupuk yang diperebutkan hingga menjadi hancur akhirnya Jo melerai. Membuka bungkus plastik dan membagi krupuk tersebut ke dalam beberapa bagian.


"Kayak anak kecil krupuk aja rebutan, nggak malu apa sama semut ?." Ujar Jonathan kepada kedua temannya yang kurang dewasa.


Erin lebih penasaran kepada barang yang ia terima dari Wisnu, ia membukanya dan tersenyum saat melihat bahwa buku yang telah lama ia cari akhirnya bisa ia miliki.


"Dari siapa Rin ?." Tanya Rani.


"Dari Wisnu, kebetulan aku lagi cari buku ini."


"Kurang gercep lo." Andika menyenggol bahu Jo hingga lelaki itu sedikit kesal.


Erin membuka buku itu asal dan ada sesuatu yang jatuh, ia penasaran tapi ia urungkan untuk mencari tahu dan lebih memilih untuk kembali menyelipkan di buku, baru setelah pulang ia melihat lagi apa itu.