When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Pelangi Dan Petir



Kemeja lengan panjang berwarna hitam yang di padukan dengan jas telah di kenakan Jonathan, ia duduk di pinggir kasur sambil meremas jemari karena bimbang. Janyungnya tidak karuan saat menyadari ini bukan salah satu hari baik baginya.


Erin menikah hari ini dan ia bingung apakah harus hadir menjadi salah satu gamu yang mengucapkan selamat atau memilih untuk berdiam diri saja. Terdengar suara Andika yang memanggil langsung masuk ke kamarnya tanpa permisi.


"Kau sudah siap ? Ayo berangkat." Ajaknya tapi Jonathan tidak langsung berdiri, malah raut wajahnya nampak frustasi.


"Aku tidak tau apakah aku sanggup atau tidak melihatnya bersama lelaki lain." Ujar Jonathan yang membuat Andika terkejut.


"Jangan katakan kau masih memiliki rasa untuk Erin ?." Tetapi Jonathan malah membalas dengan anggukan. "Kau gila, dia sekarang sudah mau menikah dan jadi istri orang, lebih baik kau cepat lupakan."


Jonathan menghela nafas, seharusnya ia tidak memberitahu Andika bahwa perasan untuk Erin masih sama dan kiat kuat tapi harus di musnahkan segera. "Aku tau aku salah." Ia beranjak dan merapikan jas yang di kenakan. "Ayo berangkat, melihatnya menikah akan menyadarkanku segera."


*****


Pernikahan Erin sudah nampak ramai dengan tamu yang hadir tapi rombongan pengantin lelaki belum datang, Andika mengawasi sepupunya tersebut agar tidak melakukan hal macam-macam.


"Apapun yang terjadi kau harus tabah." Pesan sebelum acara ijab qobul di laksanakan.


Suara mobil pengantin lelaki dan iringan dari keluarga besar masuk ke dalam. Tak lama Erin di temani bunda keluar dari dalam ruangan menuju ke tempat utama yaitu ijab qobul dimana penghulu telah siap juga.


Kebaya putih dengan hiasan rambut yang di tata rapi membuat Erin nampak sangat cantik. Senyuman malu-malu itu membuat daya tariknya bertambah, mereka duduk di kursi yang sama berhadapan dengan penghulu.


"Erin cantik banget ya." Rani yang duduk di sebelah Andika ikut bahagia sekaligus sedih, kini teman main kemana-mana telah lebih dulu melangkah ke pelaminan sedangkan ia sendiri tidak ada pasangan.


"Iya cantik." Jawab Jo dengan suara lirih. "Kita sangat dekat gapi terasa sangat jauh." Gumamanya dalam hati.


Penghulu sebelumnya mengecek semua agar tidak ada yang terlewat setelah itu pengantin mengucapkan ijab qobul. "Gimana para saksi....sah ?."


Jonathan hendak membuka mulutnya dan mengatakna tidak sah, tapi di sisi lain ia tidak tega melihat wajah Erin yang sudah tersenyum dan tidak mungkin mengacaukan acara gadis yang di cintai. Hingga akhirnya ia memilih untuk mengalah dan melepaskan.


"SAH." Ucap semua tamu yang hadir tak terkecuali Jonathan. Ia harus rela, harus tabah dan harus ikhlas saat penghulu menetapkan mereka jadi sepasang suami istri.


Erin dan mas Raihan kini berpindah posisi dan duduk di atas panggung yang telah di sediakan. Sebagian tamu mengantri bersalaman sementara yang lain memilih untuk menikmati hidangan terlebih dahulu sedangkan Jo tidak keduanya.


Ia tidak beranjak, tatapannya masih tertuju ke Erin yang sudah resmi menjadi istri dan Jo harus rela tapi biarlah ia puas memandangi Erin hari ini dan harus melangkah ke depan besok hari, mencoba untuk move on dan menerima orang baru.


"Nggak pengin cicipi makanannya ? Enak lho." Andika berusaha untuk mengalihkan perhatian Jo karena saat ini sepupunya tersebut nampak sangat kasihan.


"Aku nggak mood makan." Jawabnya.


Andika juga tidak selera makan kalau melihat Jo saat ini yang tengah bersedih, ia masih mampu untuk membeli makanan itu sendiri rapi hari ini Jonathan menjadi tanggung jawabnya agar tidak kenapa-napa. Banyak orang patah hati yang melakukan hal nekat, tentu saja Andika tidak mau Jo melakukan hal tersebut.


"Terserah kalau kau masih mau di sini tapi aku mau pulang." Ujarnya.


"Baiklah tapi kita harus menyalami dan memberi ucapan ke pengantin dulu."


Jonathan mengangguk, mereka naik ke panggung mengantri seperti tamu yang lain. Melihat wnita yang di cintai menjadi ratu sehari duduk bersebelahan dengan lelaki lain bukan dirinya, hati Jo seperti teriris pisau dan di beri garam, perih sekali.


"Selamat atas pernikahanmu, semoga kau selalu bahagia." Ucapnya lirih dengan segenap kekuatan yang tersisa yang dimiliki Jonathan. Ia tulis mengatakan itu bahkan tidak lupa seulas senyuman kesabaran di tampilkan.


"Sudah ayo kita pergi, aku sudah tidak ada tenaga lagi untuk berada di sini."


"Baik aku akan mengambil mobil."


Setelah pergi dari tempat Erin menikah bukannya langsung pulang, Jo malah meminta Andika untuk menuju ke sebuah danau yang dulu pernah mereka berempat kunjungi semasa SMA. Dompet dalm saku di ambil dan sebuah foto kecil yang merupakan kenangan masa muda itu Jo lihat.


"Waktu berlalu sangat cepat ternyata, aku merindukan tempat ini." Jo memperhatikan tempat yang ternyata banyak berubah, air yang dulunya jernih hingga ia bisa berenang di sana sudah terlihat keruh dan dipenuhi oleh lumut juga daun kering yang berguguran.


"Kau benar, foto itu ternyata masih kau simpan."


"Aku simpan agar setiap aku melihatnya maka aku hisa mengingat kalau aku pernah bahagia meski sebentar, saat aku di luar negeri tidak pernah sekalipun aku melupakan masa kenangan kita berempat, mama dan juga Jihan."


Andika memandang ke depan, banyak pohong yang tumbang akibat kekeringan dan juga sampah daun. "Sangat disayangkan memang tapi suatu hari kalau kau bahagia maka orang-orang yang kau sayangi juga akan bahagia."


Jo tersenyum kecut, ia mengusap wajahnya lalu bersedih meski tidak keluar air mata. "Kau tau Mama dan Jihan sangat menyukai bunga dan ingin menjadi bagian dari bunga sampai lupa untuk pulang, dan Erin datang membawa pelangi tapi aku lupa kalau aku ini petir jadi kita tidak bisa bersama. Kukira aku menemukan tempat untuk pulang, tapi aku lupa ternyata aku masih harus berjalan."


"Percayalah kawan, semua orang akan bahagia dengan caranya berbeda dan kadang tidak sesuai harapan."


"Semoga saja kau benar karena aku sudah mulai kehilangan semangat hidup bahkan aku lupa bagaimana cara agar bahagia."


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.



...…TERUSLAH BERJALAN SAMPAI KAU YAKIN KAU SUDAH MENEMUKAN TEMPAT UNTUK TINGGAL…...