
Jonathan berjalan dengan senyuman mengembang, Erin mengajaknya untuk bertemu dan itu adalah yang tidak pernah dia sangka akan terjadi. Ia dapat melihat Erin yang duduk dari kejauhan tapi tidak sendiri melainkan bersama dengan Andika dan juga Rani.
Tidak apa, hal itu tidak membuat Jonathan merasa kecewa sedikitpun justru ia senang karena dikira semua teman sudah memaafkan dan menerimanya kembali bergabung. Meski ia telah dewasa dan bukan saatnya memikirkan persahabatan tapi Jo menghargai setiap teman-temannya.
"Maaf aku telat." Ia duduk disebelah Andika saat sepupunya tersebut setelah di izinkan.
"Kenapa kau mengajaknya ke sini sih Rin ?." Rani tidak segan mengutarakan kekecewaan dan juga rasa bencinya di hadapan Jonathan, bahkan ia tidak peduli bagaimana perasaan Jo saat ini mendengar ucapannya.
"Aku ingin kita semua seperti dulu, temenan bareng. Kita semua sudah dewasa sekarang bukan remaja lagi, semua orang pernah punya salah tapi bukankah itu bagian dari masa lalu. Biarkan yang lalu berlalu dan sekarang menjadi lebih baik."
"Tidak semudah itu." Rani masih protes.
"Ran, kamu nggak akan bisa bergerak maju kalau masih memikirkan masa lalu, kalau kamu gimana Dik udah maafin Jo ?."
Semua pandangan mengarah kepada Andika dan lelaki itu menghembuskan nafas sebelum bicara, mau bagaimanapun Jonathan lebih dulu di kenal sebelum Andika mengenal Erin dan Rani. Juga disini bukan Andika yang di sakiti, akan aneh jika Andika masih belum menerima Jonathan kembali.
"Iya." Jawabnya singkat, Jonathan tersenyum akan hal itu.
"Aku sudah memaafkan kamu Jo." Ujar Erin dan berganti melihat Rani." Tinggal Rani, kamu gimana Ran? Masih nggak mau maafin Jo ?." Erin memastikan kembali.
"Iya Jo udah aku maafkan." Meski nada bicara Rani masih setengah tidak suka tapi hal tersebut membuat Jonathan merasa lega, ia benar-benar berterimakasih kepada Erin karena berkat bantuannya semua teman akhirnya mau memafkannya.
Memang tidak salah Jo mencintai wanita ini, bukan karena kepintaran atau kecantikannya tapi kepribadian Erin yang lemah lembut mampu membangkitkan semangat Jo untuk percaya bahwa ia layak mendapatkan cinta kembali.
"Terima kasih kalian telah memaafkan, aku harap bisa lebih baik lagi menjaga pertemanan ini, untuk merayakan pertemanan kita kembali kalian boleh pesan sepuasnya aku yang akan membayar."
"Ga usah pamer duit, aku sekarang juga udah mampu traktir kalian semua." Ungkap Rani.
"Dih pada pamer semuanya, yaudah ayo keluarkan duit kalian aku siap pesen." Seperti mendapat keberuntungan tentu saja Andika tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Kayaknya aku yang bakal kasih kalian traktiran." Erin mengambil sesuatu di dalam tas, undangan yang sudah ia pesan tempo hari kini sudah jadi, menghitung hari sebelum hari pernikahan membuatnya kian berbunga. "Ini undangan buat kalian, aku akan menikah." Ujarnya dengan bangga.
Bagai di sambar petir setelah terbitnya pelangi, Jonathan memegang undangan itu dengan erat, ia memeriksa dengan teliti nama Erin yang tertulis di sana. Bukan dia yang namnya tercetak di undangan bersama Erin tapi nama orang lain.
Jo memang telah tau kalau Erin sudah memiliki tunangan tapi kalau menerima undangan seperti ini tentu saja semakin dekat Erin dengan pernikahan maka Jo tidak ada kesempatan.
"Wah selamat Erin, dulu kirain aku yang bakal nikah duluan ternyata kamu."
"Selamat Rin, akhirnya salah satu dari kita akan sold out." Ungkap Andika.
"Nggak kasih Erin selamat Jo ?." Andika menyenggol bahu Jonathan tidak terlalu kencang, hanya saja tadi terlihat seperti melamun sendiri makanya Andika melakukan itu.
"Iya selamat." Ungkapnya dengan lirih.
Mereka kembali ngobrol dan makan sampai akhirnya Rani berpamitan lebih dulu dan di susul Andika. Jonathan dan Erin berdua saja, saat Erin hendak pergi Jonathan mencoba untuk mencegah.
"Bisa kau disini lebih lama lagi ?." Pintanya saat Erin ingin beranjak.
"Aku harus segera kembali, baiklah sebentar saja."
Jonathan memperhatikan Erin, dan mencoba memegang tangan gadis itu meski Erin berusaha untuk melepaskan.
"Kau tau aku mencintaimu, apakah tidak ada harapan bagiku ?."
"Jo memang dulu aku juga mencintaimu tapi setelah kau pergi aku memutuskan untuk move on dan sekarang berhasil, kumohon lupakan perasaan cintamu untukku dan akan lupakan kau pernah mengatakan ini, kau bisa datang ke pernikahan ku sebagai teman tapi jangan datang kalau kau masih berharap, aku pergi."
Jonathan menggenggam tangannya sendiri begitu Erat, ia melihat Erin semakin jauh dari jangkauan dan ia harus kembali di paksa keadaan untuk menerima dan ikhlas seperti kepergian Jihan.
"Hah malang sekali hidupku, Tuhan apa kau membenciku ? kenapa aku tidak bisa bersama dengan orang yang kusayangi ?." Gumamnya.
.
.
.
.
.
.
.
Like dan Komen Jangan Lupa