When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Malam Pengantin



Pernikahan telah usai dengan menyisakan rasa lelah, tapi itu tidak sebanding dengan rasa bahagia yang Jonathan rasakan saat ini. Di depannya ada Erin yang telah menjadi istrinya sedang melepas aksesoris di kepala sedangkan ia melonggarkan dasi lalu meninggalkan jas.


"Aduh." Salah satu aksesoris yang Erin ingin lepaskan malah tersangkut di kepala dan terasa sakit saat di paksa tarik.


Jonathan menghampiri dan langsung membantu Erin tanpa berkata, tangannya dengan telaten melepaskan semua aksesoris itu satu-persatu hingga selesai. Sekarang Erin hanya menggunakan baju pengantinnya menatap Jonathan dengan gugup.


Jonathan berjongkok di depan Erin yang duduk di pinggir kasur sedang menundukkan kepala. Jonathan mengangkat dagu Erin dan ia mulai mencium untuk memastikan bahwa ini memang miliknya. Senang sekali bahwa kali ini Erin tidak menolak.


"Masih sulit dipercaya kalau kita sekarang sudah menikah."


"Kalau kau masih ragu lihat saja cincin pernikahan kita yang sama."


Jo terkekeh dan berganti duduk di sebelah Erin, Jo seperti lelaki lainnya yang ingin melakukan hubungan suami istri tapi ia ragu dan takut kalau Erin akan menganggap Jo todak sabaran. Di samping hal itu tentu saja mereka berdua lelah.


"Aku akan mandi lebih dulu." Jonathan mengambil handuk dan berlalu masuk ke dlm kamar mandi, di sana ia tidak hanya menyegarkan tubuh dari keringat tapi juga menenangkan pikiran, seperempat jam berlalu kini ia selesai berganti Erin yang juga mandi dulu.


Kaos dan juga celana panjang yang ia bawa sangat berguna karena terasa lebih nyaman daripada kemeja dan jas yang tadi di pakai. Jo sudah berwudhu dan menunggu Erin untuk sholat berjamaah sebelum tidur.


Lama menunggu Erin Jo duduk di pinggir kasur menatap ke segala arah sampai bunyi pintu kamar mandi terbuka dan bau harum itu memenuhi ruangan. Erin juga memaki piyama tidur dan sudah berwudhu, dengan rambut yang basah masih menggosok rambutnya.


"Ayo kita sholat."


Dua sajadah di tata dengan Jonathan sebagai imam sholat dan Erin sebagai makmumnya. Lantunan ayat yang di baca begitu merdu hingga sholat selesai Erin masih tidak menyangka kalau Jo begitu pandai dan merdu suaranya.


"Rambutmu basah, kau mau tidur begitu ?."


"Tapi aku tidak bawa hairdryer."


"Aku akan ke resepsionis dan meminjamkan hairdryer untukmu."


Erin duduk sambil menggosok kepalanya dengan handuk sementara Jo sudah kembali sambil membawa hairdryer. Cermati n itu memantulkan bayangan mereka berdua saat Erin melihat Jo dari sana sedang mengeringkan rambutnya dengan telaten.


Ia memalingkan pandangan saat tertangkap sedang melihat, dan pipi Erin memerah karena malu. Meski sudah berteman lama dan kini menjadi suami istri justru Erin nampak sangat canggung dan tidak tau bagaimana harus bersikap.


Apakah ia harus seperti istri yang penyayang atau sahabat yang seperti sebelumnya dan terlalu sibuk membayangkan hal tersebut membuat Erin tidak menyadari bahwa Jo sudah selesai dan mengembalikan hairdryer itu ke resepsionis lalu kembali.


"Aku memesan makanan karena tadi siang kita hanya makan sedikit dan belum makan malam."


Setelah lama menunggu akhirnya beberapa makanan yang Jonathan pesan sampai juga. Erin makan dengan lahap karena lapar dan beberapa saus menempel pada sudut bibirnya.


"Ada sesuatu di bibirmu." Jo memberitahu dan Erin mengusapnya asal tapi tidak juga bersih hingga Jo mengambil tisu dan mengelap dengan hati-hati.


"Kau sudah besar tapi makan sampai belepotan."


Agak kesal mendengar kata-kata Jonathan tapi itu tidak menghentikan makan Erin, hampir saja tadi merasa tersentuh tapi tidak jadi. Semua makanan telah berpindah dari piring ke perut tapi mereka tidak langsung tidur.


Agar makanan bisa tercerna lebih baik mereka memutuskan untuk menonton tv tapi asal memilih saja hingga di seperempat acara baru di ketahui kalau itu film horor barat di mana terdapat hantu dan juga ada adegan dewasa.


"Kau yakin mau melanjutkan nonton ?." Ini kali kelima Jo bertanya saat Erin merasa takut tapi masih bersikukuh mau melanjutkan padahal saat ini kuku Erin menancap di lengan Jonathan.


"Jangan di ganti." Seperti makan sambel yang terlampau pedas, semakin pedas bukannya berhenti malah semakin lahap begitu juga saat ini film itu di tonton dengan rasa takut tapi tetap penasaran.


Adegan menegangkan berganti adegan yang lain, sekarang ada dua orang dewasa berbeda jenis yang masuk kedalam kamar. Mereka mulanya berbincang tapi lama-lama bibir bertaut dan adegan dewasa muncul sampai Jonathan mematikan TV.


"Ee ini sudah terlalu malam, kita tidur saja." Meski tidak di sangkal Jo masih ingin nonton tapi ia tidak bisa menahan diri jika tetap melanjutkan nonton.


"Jo kita sudah jadi suami istri, kalau kau ingin tidak apa-apa lagipula.....aku tidak terlalu lelah ."


Dengan menunduk kata itu terlontar, seperti sebuah lampu hijau Jonathan meneguk saliva. Ia menggaruk kepalanya, kalau di tawari seperti rasanya akan sangat berdosa kalau menolak tapi Jo masih bingung sendiri.


"Atau mungkin kau ragu karena aku janda, sebenarnya aku....aku belum melakukan itu sama mas Raihan."


"Tapi bagaimana bisa ?."


"Rencananya kami akan melakukan itu saat sudah sampai tempat honey moon tapi malah terkena musibah lebih dulu."


Jonathan mendekap Erin dengan erat, mengelusnya dan menciumi puncak kepala. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."


Pelukan itu semakin intens saat Jo memiringkan kepala menyentuh bibir Erin dengan bibirnya. Dengan perasaan sudah halal menambah nikmat, malam semakin larut dan pasangan itu semakin panas yang di balik dengan perasaan menggelora. Akhirnya yang terpendam selama ini di salurkan.


Kata jodoh tidak akan kemana nyatanya terjadi kepada Jonathan.