
Tangan lembut itu di usap sesekali, genggaman Jonathan kepada Erin tidak di lepaskan dan ia tidak peduli mau Andika atau Rani yang melihat. Bahkan kepada bundanya Erin Jonathan seolah terang-terangan peduli kepada Erin yang kini mulai kurus karena tidak kunjung bangun dan membaik.
"Kau terlalu sering kemari bagaimana dengan kerjaan mu ? biar Erin aku yang menjaganya saja."
Jonathan mengeratkan genggaman tangan Erin dan terdiam, Jonathan sudah berbaik hati kepada bundanya Erin dan berusaha semaksimal mungkin menunjukkan ketulusannya. "Tidak apa-apa tante."
"Kau tau Erin sudah menikahkan ?."
"Iya tante, aku tau benar yang terjadi dengan Erin."
"Lalu ?."
"Kalau boleh aku ingin dekat dengan Erin, kami dulu adalah teman sampai sekarang."
"Aku bisa melihat bahwa kau punya keinginan lain, aku sebagai orangtua hanya ingin yang terbaik untuk anakku, tapi Erin sekarang belum sadar jadi aku membiarkanmu dekat dengan Erin sekarang, tidak tau nanti kalau dia sudah bangun."
"Iya tante aku mengerti."
Hari demi hari semua orang terdekat Erin berdoa untuk kesembuhannya dan benar saja doa itu di kabulkan oleh Tuhan. Erin membuka matanya tepat saat dokter melakukan pemeriksaan, semua terkejut bukan kepalang.
"Mohon tunggu dulu diluar." Ujar suster di saat semua ingin melihat Erin yang telah terbangun dari tidur panjang.
Setelah dokter usai melakukan pemeriksaan kembali mereka memasuki ruangan, "Erin kau ingat aku, ini berapa ?." Andika mengangkat dua jarinya dan mengarahkan ke Erin tapi tidak mendapat respon apapun.
"Rin kamu nggak bisa melihat ?." Tanya Rani dengan takut padahal tadi dokter mengatakan semua indra Erin dalam keadaan baik tapi memang tubuhnya belum pulih benar.
"Dua." Jawab Erin singkat dan semua tersenyum lega.
"Kirain buta Rin." Spontan Andika mengatakan itu dan langsung merasakan sakit saat lengannya di cubit oleh Rani. "Sakit Ran."
"Mana ? Dimana mas Raihan ?."
Seketika senyuman mereka lenyap karena pertanyaan Erin, bukannya tidak ingin memberitahu hanya saja mereka takut Erin akan syok di saat baru bangun.
"Dia masih di rawat, dokter tidak memperbolehkan siapapun menjenguknya dulu."
Semua menoleh ke Bunda, tak terkecuali Jonathan yang tak menyangka bahwa Bunda akan menyembunyikan kebenaran ini dari Erin bahwa suami anaknya telah tiada bahkan saat usia pernikahan masih seumur jagung.
"Apa lukanya sangat parah Bunda ?."
"Iya tapi jangan khawatir pasti Raihan akan segera pulih, kau juga harus segera sehat."
"Iya Bunda."
Setelah Erin beristirahat akhirnya Bunda mengajak semua teman Erin untuk keluar dan hendak mengatakan sesuatu. Tempat yang sepi menjadi pilihan setelah Bunda memastikan bahwa tempat ini aman.
"Bunda kenapa harus menyembunyikan ini kepada Erin ?." Rani bertanya lebih dulu karena ingin sebuah jawaban, ia sejak tadi hanya diam karena bingung harus berbuat apa sementara bunda hanya mengatakan kebohongan saja.
"Lalu bagaimana ? Tidak mungkin kita harus berbohong terus dengan Erin, cepat atau lambat Erin pasti tau. Kalau bukan dari kami pasti dari orang lain." Amarah dan rasa kecewa muncul menjadi satu, meski ini pilihan yang diambil bundanya Erin Jo tetap harus menghormati.
"Soal itu aku yang akan tanggung jawab, aku mohon untuk sekarang jangan beritahu soal suaminya Erin yang meninggal, hanya sementara saja."
"Baik bunda."
Semua setuju meski mereka tidak tega dan merasa dihantui perasaan bersalah ketika mengunjungi Erin, tapi di lain sisi mungkin ini jalan terbaik. Apalagi saat melihat kondisi Erin yang kian membaik.
*****
"Selamat pagi." Jo menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman untuk menyapa Erin pagi ini, sayangnya senyuman itu hanya di balas dengan rasa canggung dan tidak nyaman. Jo merasa agak sedih dengan gal tersebut.
"Kau kesini tiap hari, tidak bekerja ?." Pertanyaan pertama Erin pagi ini saat Jo mengganti bunga di vas dengan bunga baru yang lebih segar dan baru di bawanya.
"Aku bekerja nanti setelah menjenguk mu, bagaimana suster keadaannya ?." Tanya Jo kepada perawat usai mengecek kondisi Erin.
"Semuanya baik, nanti jangan lupa buburnya harus di makan ya dokter Erin, saya permisi dulu."
Jo mengambil bubur dan hendak menyuapkan kepada Erin, biasanya bunda yang menyuapi tapi sebelumnya bunda bilang harus bekerja dan karena menjaga Erin terlalu lama membuatnya tidak bisa lagi izin sehingga harus bergantian menjaga Erin di rumah sakit.
"Ayo buka mulutnya, perutmu harus di isi."
Erin tidak membuka mulutnya sama sekali, ia mengambil sendok dan piring tersebut dari tangan Jonathan dengan wajah datar. "Aku bisa makan sendiri, sebagai seorang istri aku harus menjaga jarak dan batasan dengan lelaki selain suamiku, aku harap kau mengerti Jo."
Tatapan Jo berubah sendu, Erin memang telah menikah tapi dia sekarang seorang janda tapi diakui oleh Jo bahwa Erin sangat setia meski belum tau kalau suaminya sudah meninggal. "Erin andai saja kau tau kalau Raihan telah mati, malang sekali nasibmu." Ujar dalam hati.
Tiada rasa tersinggung sedikitpun, malah Jo merasa iba dengan kondisi Erin yang sekarang. Memang lebih baik seperti ini, Erin masih merasa punya suami dan itu lebih baik daripada memberitahu hal menyakitkan yang akan memperburuk kondisi Erin nantinya.
"Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman, kau sendiri bilang kita bisa jadi sahabat kan ? Maka anggap saja aku sahabatmu yang akan merawat mu, bukankah Andika juga begitu ?."
Erin berfikir dan mengangguk, sekarang situasi tidak canggung seperti tadi sehingga Jo menjadi sedikit merasa lega. Sedikit demi sedikit Jo akan membuat Erin melupakan rasa sakitnya. Dan jika memang memungkinkan maka Jo akan menjaga Erin selamanya.
"Permisi."
Ada yang datang, dua orang paruh baya masuk ke dalam ruangan Erin. Begitu melihat kondisi Erin mereka mengulas senyum sekaligus memberi tatapan penuh tanya akan kehadiran Jo di sana.
"Mama papa." Ujar Erin yang ternyata sedang di kunjungi oleh kedua mertuanya. "Oh ya ini Jonathan temanku sejak SMA."
"Bagaimana kondisimu, maaf kami baru bisa menjenguk mu sekarang. Kami mengurus Raihan terlebih dahulu."
"Iya ma nggak apa-apa, mas Raihan bagaimana kondisinya karena aku juga belum bisa menjenguknya selama ini, dia sudah lebih baik kan ?."
Semua menatap dengan bingung apalagi Jo saat ini yang seperti membeku, ia tidak tau harus melakukan apa. Haruskah ia berbohong tapi mertuanya Erin sendiri tidak di beritahu soal harus menyembunyikan kenyataan ini dari Erin, lalu harus bagaimana ?.
"Kau belum tau ? Raihan kan sudah meninggal saat kalian kecelakaan di pesawat, dia tidak terselamatkan dan selama ini kami mengurus pemakamannya."