When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Kedekatan Mereka



"What." Andika protes dengan nada suara tinggi hingga membuat semua yang ada di sana menoleh ke arahnya.


"Nggak ada what what-an, cepat bentuk kelompok." Ujar bu guru.


Semua siswa di dalam kelas telah berdiskusi mencari pelengkap kelompok, ada yang masih butuh satu dan ada yang belum dapat kelompok sama sekali. Jo, Andika, Erin dan Rani berkumpul untuk membentuk kelompok yang berlebih satu dan nenti siapa yang akan di keluarkan.


"Siapa nih, atau elo aja Jo ?". Kedua laki-laki itu tak ingin saling mengalah dan enggan untuk bergabung bersama kelompok yang lain dikarenakan kurang percaya jika bergabung dengan yang lain akan lebih baik.


Ide tercetus dari Erin untuk melakukan hompimpa dan membentuk kelompok, meski terkesan kekanakan sekali namun cara itu lumayan berguna. Semua setuju dan di lakukan tapi saat hasil berkata Andika yang harus keluar dari sana maka ia merasa tidak benar.


"Pasti kalian ada yang main curang." Tuduhnya kepada semua dan gelengan Erin berikan.


"Emang elo yang harus out, sana pergi ke kelompoknya Anin tuh kayaknya kurang orang." Ujar Rani dan Andika menoleh, kumpulan para wanita dengan ranking terbawah seperti dirinya tentu membuat enggan karena tau pasti ia yang akan di jadikan ketua sekaligus harus berfikir.


"Kenapa nggak elo aja." Sahut Andika dengan kemarahan.


"Udah mending elo pergi gih, keputusan ini udah final dan elo lihat sendiri kan nggak ada yang curang."


Di saat Jo berkata seperti itu maka Andika menyerah, buku beserta alat tulis dibawanya menuju kelompoknya Anin yang memang kurang anggota. Dan kelompok Jo sudah bisa di tebak oleh semua murid di kelas yang akan mendapatkan nilai tertinggi dengan adanya rangking 1 dan 2 di sana.


Kelompok Jo bekerja sesuai arahannya di karenakan ia di tunjuk sebagai ketua kelompok dengan Rani sebagai sekertaris. Mereka benar-benar berpikir keras dan nilai bagus menjadi tujuan utama, Jo menjelaskan dan beberapa kali Erin menambahkan.


"Eh ada yang punya bolpoin lagi nggak, kayaknya punyaku habis nih ?." Kertas yang tidak di gunakan di coretnya untuk menguji bolpoin tersebut dan garis putus-putus menandakan isi yang ada di dalamnya telah habis.


"Aku cuma punya satu." Erin memperlihatkan bolpoin yang ia gunakan untuk menulis setiap hari dan tidak ada cadangan.


"Nih pakai ambil aja. " Bolpoin baru yang masih di segel ujungnya Jo berikan ke Rani, dan di terimanya dengan ucapan terima kasih.


Kembali mereka berdiskusi dan soal yang di bahas Rani belum juga mengerti apalagi cara menjelaskan Erin cukup cepat, otaknya yang hanya bisa berjalan belum mampu untuk di ajak berlari.


"Sini gue jelasin." Mengerti akan kesulitan Rani, Jo menjelaskan apa yang telah Erin dan dirinya diskusikan. Untung saja kali kedua Rani telah faham dan ia merasa kurang percaya diri duduk bersama siswa pintar sedangkan dirinya agak sulit mengejar.


Diskusi telah usai dan mereka mengumpulkan hasilnya dimana langsung di nilai. Terlihat Andika sepertinya berfikir keras hingga mukanya terlihat lesu dan kepalanya ada asap transparan yang seolah mengatakan jika sudah batas maksimal.


"Gimana Dik ?." Jo bertanya dengan senyuman di salah satu sudut bibir seolah mengejek sepupunya tersebut.


Nilai di bagikan langsung setelah di koreksi dan perkiraan semua siswa tidak meleset, memang kelompok Jo mendapatkan nilai hampir sempurna dan Andika hanya bisa bersyukur dengan nilai pas-pasan karena kelompoknya yang lain enggan berdiskusi san malah asik ngobrol sendiri.


*******


Hari sabtu yang di tunggu para siswa telah datang, tidak ada acara khusus atau apa tapi hanya saja ini hari terakhir saat besok telah libur untuk beristirahat sejenak dari aktivitas. Dan Andika memiliki sebuah ide untuk menghilangkan penat.


"Kita besok kan libur, pergi jalan-jalan yuk kemana gitu ?." Jus jeruk dalam gelasnya ia tenggak sampai habis dan ucapannya di pikirkan oleh ketiga teman yang sudah terasa seperti sahabat itu.


"Boleh juga, kalian ada ide tempat yang bagus ?." Kini giliran Jo bertanya, ia sedari kecil di Bandung dan setelah sampai di Jakarta belum pernah menjelajahi dengan benar ibu kota negara yang katanya akan pindah tersebut.


"Gimana kalau kita sepedaan aja, nggak jauh dari sekolah ada bukit dan danau. Kayaknya lebih seru dan alami gitu." Ide yang Erin cetusnya membuat ketiganya berpikir dan mengangguk.


"Iya bener kayaknya lebih seru ketimbang taman hiburan atau pantai, gue rada bosen ke pantai mulu tiap liburan sekolah."


"Kalau perginya sama gue juga tuh pantai nggak bakalan bosen Ran." Dan sedotan dari gelas Rani terbang mengenai baju Andika.


"Oke Fix kita ke sana aja."


Hari yang di tunggu telah tiba dengan cuaca yang kebetulan cerah dan sangat cocok untuk bepergian. Sebelumnya Jo meminjam sepeda milik Andika karena miliknya masih di Bandung dan Rani juga Erin telah sampai. Jika ada yang melihat mereka tampak seperti sedang doubledate karena seperti berpasangan.


"Tunggu gue." Rani sedikit berteriak saat ia merasa kesulitan bersepeda, entah sepedanya yang rada rusak atau memang keahliannya telah mulai berkurang karena sudah lama tidak naik sepeda.


"Ayo Rani." Kaki Erin mengayuh dengan pelan sambil menunggu Rani untuk mengejar, dan ia masih memperhatikan belakang sedangkan para lelaki juga ia memelankan kayuhan pedal nya.


"Kalian duluan aja ke danaunya." Jo memutar sepedanya dan menyusul Rani di belakang tapi belum sampai Rani sudah terjatuh dengan posisi tertimpa sepeda.


"Elo nggak apa-apa ?." Tangan Rani di pegang saat tempat yang lecet itu mengeluarkan darah, tatapan mereka sejenak bertemu dan mereka terdiam.


Andika dan Erin tidak mengikuti perintah Jo, saat melihat Rani terjatuh mereka ikut memeriksa kondisi Rani tapi saat tiba di sana malah melihat Jonathan dan Rani yang bertatapan.


"Kalian...."