When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Tidak Lihat Tempat



Sinar matahari menembus gorden kamar dan tepat menerpa wajah Erin hingga mengerjapkn mata berulangkali sampai benar-benar bangun. Dilihatnya di depan mata ada Jonathan yang kini telah resmi telah menjadi suaminya masih terlelap hanya memakai selimut.


Erin ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya lalu berdandan sebaik mungkin tak lupa juga mengenakan baju bagus, di hari pertamanya setelah menikah Erin ingin terlihat cantik di depan suaminya.


"Jo bangun sudah pagi." Erin sedikit mengguncang tubuh Jo agar terbangun tapi tangan erin malah di tarik hingga kini ia dalam dekapan lelaki itu, Erin bisa mendengar suara detak jantung Jonathan karena menempel pada pipinya.


"Udah mandi ?." Tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Udah sekarang kamu yang mandi gih."


Jonathan berusaha membuka mata dan memperhatikan Erin yang sudah bersih dan wangi, pagi hari ini ia serasa bahagia bisa bangun tidur dan ada sang istri yang menemaninya. "Yah padahal pengin nambah."


Pukulan kecil di dada Erin berikan, ia masih malu karena mengingat kejadian semalam yang panas hingga membuat pinggangnya agak sakit tapi sekaligus bahagia karena itu pertanda sudah benar-benar menjadi istri seutuhnya.


"Jo aku lapar, yuk makan."


"Yaudah aku mandi dulu nanti kita makan ke bawah aja."


Selama di kamar mandi Erin menyiapkan baju Jonathan, agak malu melihat baju dalam pria dan mulai sekarang harus terbiasa. Setelah telah selesai bersiap keduanya sarapan di restoran bawah yang menyediakan pemandangan sekitar dari balik tembok kaca. Suasana restoran ramai padahal hari masih pagi tapi memang tempat itu adalah salah satu temat terkenal yang kerap di datangi orang-orang penting seperti artis dan lain-lain.


Rencananya mereka akan pergi ke suatu temat yang menjadi daya tarik di sana untuk honeymoon. Biaya yang di keluarkan juga tidak sedikit tapi setimpal dengan apa yang mereka dapatkan. Tidak ada pemandu karena mereka yakin tidak akan nyaman makanya mereka pergi sendiri menggunakan transportasi yang di sewa lewat hotel tempat menginap.


Mobil dengan atap yang terbuka membuat Erin kesulitan untuk memegang topinya, ia memilih untuk meletakkan topi itu meski panas menerjang dari atas. Hingga rambutnya seolah menari diterpa angin yang berlalu.


"Boleh aku mengeluarkan tanganku ?."


"Kau boleh melakukan apapun yabg kau mau sayang."


Perjalanan itu lebih menyenangkan di banding mereka di tempat tujuan, tangan yang keluar dari mobil diterpa angin dengan kencang tapi itu seperti tergelitik hingga senyuman terlukis di bibir Erin. Keduanya senang dan Jo juga ikut tersenyum melihatnya.


Sebuah tempat dia atas bukit yang tinggi seperti pegunungan di telusuri hingga keduanya berada di puncak dengan beberapa tanaman yang mulai kekeringan karena kemarau. Warna coklat mendominasi dan angin yang kian kencang karena berada di ketinggian membuat suasana panas tak terlalu terasa.


"Tempat ini bagus tapi sepi jadi cocok untuk kita."


"Untuk kita apa ?."


Jonathan tersenyum misterius dan memeluk Erin dari samping lalu berbisik. "Untuk melakukan apapun yang kita mau."


"Hati-hati disini banyak bebatuan."


Jonathan menggendong Erin ke bawah pohon besar yabg daunnya sudah setengah kecoklatan, beberapa telah jatuh saat angin melintas dan Erin tidak hentinya memperhatikan rambut Jonathan yang kian terlihat tampan saat angin seolah bersahabat.


"Aku tau dia tampan tapi aku tidak tah dia setampan ini dan dia sekarang suamiku." Gumamnya dalam hati lalu berpaling saat Jo melihatnya.


"Kenapa ? Kakimu tidak ada yang lecet kan ?." Rok berwarna putih yang di kenakan Erin di buka sedikit untuk memeriksa apakah ada yang tergores. Meski tidak ada tapi Jonathan memberikan pijatan kecil kemudian mengelusnya.


Tatapan mata yang biasanya terlihat ramah itu berubah menjadi sayu, dagu Erin di pegang lalu keduanya mendekat satu sama lain. Ciuman mesra di lakukan atas dasar sama-sama mau kemudian berlanjut menjadi lebih intens.


"Mau melakukannya disini atau di mobil saja ?."


"Ehm mobil." Tidak peduli akan bagian bawah Erin yang masih sedikit nyeri juga pinggangnya yang masih kaku, ia ingin dan tak bisa menolak.


Atap mobil di pasang meski tidak ada satu orangpun di sana mereka tetap waspada. Mobil berwarna merah itu menjadi saksi saat pasangan pengantin baru kembali berciuman dan mulai melepas pakai*n satu sama lain lalu saling berpangkuan sambil terhubung satu sama lain.


Hasrat dan nafsu mengalahkan rasa gengsi di tambah di dalam mobil yang terasa lebih menantang. Tempat sempit itu tidak menjadi penghalang saat hembusan nafas saling bertaut diiringi suara yang lain.


Keringat menjadi satu dengan tubuh sling menempel, terasa panas dan terasa sangat membara hingga selesai keduanya baru merasa canggung meski tidak ada alasan bagi keduanya untuk merasa itu.


"Apa tau kepalamu terbentur atap ?." Tanya Jonathan untuk menghilangkan rasa canggung, dalam hati ia tersenyum puas dan menikmati hanya saja diamnya Erin kadang membuatnya salah tingkah dan tidak tau harus bagaimana.


"Tidak baik-baik saja." Erin mengambil tisu dan hendak mengelap bibirnya yang basah.


"Jangan di lap." Jonathan memegang bibir Erin dengan jempol dan mengelapnya sendiri, ia melihat di sudut bibir istrinya tergores kecil akibat perbuatannya tadi yang terlalu ganas tentu saja. Jonathan tidak tahan untuk tersenyum puas juga ada tanda merah di leher Erin.


"Kenapa tertawa ?."


Jo menunjuk leher yang terdapat tanda merah keunguan, ada rasa sakit saat di sentuh baru Erin menyadari ia tidak membawa kosmetik untuk menutupinya. Sekarang ia tidak punya muka untuk kembali ke hotel.


"Bagaimana cara aku menutupi ini ? Ini tidak akan langsung hilang."


Jonathan merapikan rambut panjang Erin hingga menutupi beberapa bagian yang merah karena ulahnya. Ia sendiri tidak menggunakan jaket atau jas sehingga tidak ada yang bisa di berikan.


"Ini lumayan bisa menutupi." Jo lalu menatap Erin dan tersenyum hangat. "Nanti malam lagi ya."