When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Siapa Jihan ?



Tangan memegang kepala yang tiba-tiba berdenyut, foto tersebut dipandang terus menerus dan tidak merubah kenyataan bahwa itu memang Rani, terjawab sudah alasan mengapa hanya saat bersama Rani, Jonathan merasa seperti merasakan rasa yang sama karena mata itu....matanya Jihan.


Gadis yang telah lama mengisi hatinya dan harus pergi dengan meninggalkan kenangan yang terbentuk dan dapat di lihat dalam sosok Rani. Yang jadi pertanyaan mengapa harus Rani ? dan mengapa gadis itu adalah gadis yang ia bisa temui dalam keseharian.


"Kau mengenalnya ?."


Jonathan mengangkat wajahnya dan menaruh foto tersebut ke atas meja, ia mengangguk mengiyakan pertanyaan dokter Juan. "Dia salah satu teman sekelas ku sekolah di Jakarta, aku mencarinya selama ini tapi ternyata dia sangat dekat."


"Kau masih memikirkan Jihan sampai sekarang ?."


"Jihan tidak pernah terlupakan." Sekilas bayangan wajah Erin melintas saat di danau, sinar yang mengenai seakan membuka pikiran dan hati Jo hingga menjadi ragu apakah rasa cinta untuk Jihan masih sama.


Matanya tertutup mengingat kenangan bersama Jihan, lari diantara hamparan pasir pantai yang terbang saat terinjak dan dilalui angin, kemudian bayangan itu berganti saat Jo menolong Rani yang terjatuh dari sepeda. Ia tersenyum getir karena mata mereka sama dan takutnya Jo akan semakin pusing setelah mengetahui ini.


"Terima kasih sudah menolongku dokter."


"Tidak masalah." Jonathan bangkit dari kursinya berjalan ke lorong dan memegang berkas yang ia minta sebelumnya.


*****


Jonathan melamun dengan pandangan matanya kosong, dan terkejut saat dinginnya botol menyentuh wajah. Spontan langsung menoleh dan mendapati Wulan yang tersenyum kearahnya sambil memberikan botol minuman beserta camilan.


"Aku nggak lihat kamu di kantin tadi jadi aku kesini." Erin melihat sekitar dimana hanya ada siswa yang berjalan dan ada yang bermain basket di lapangan. "Apa yang membuat kamu tertarik melihat sampai nggak kedip dari tadi ?."


"Nggak ada apa-apa cuma pengin cari suasana baru aja, dimana Andika sama Rani ?."


"Mereka tadi di kantin." Erin membuka salah satu Snack kesukaan dan memakannya, tak lupa menawarkan kepada Jo yang juga mau. Jika yang lain melihat mereka tentu akan berfikir


Yang di bicarakan panjang umur karena mereka malah menyusul Erin dengan membawa mangkuk berisi mie ayam dan soto. Bayangkan bagaimana nanti ibu kantin mencari mangkuknya yang hilang dua.


"Kita gabung ya, ada apa sih disini ?." Rani memposisikan mangkuknya agar tidak jatuh dan ia mulai makan begitu juga dengan Andika yang ikut-ikutan Rani membawa makanan berat sambil berjalan dari kantin menuju sini.


Entah memang mereka sudah dekat sebagai sahabat atau apa tapi merasa ada yang kurang dan tidak lengkap jika salah satu saja tidak ada. Dan Jo juga tidak marah ketenangan juga kenyamanannya terusik oleh mereka.


"Elo nggak pesen ya kita nggak tau." Sahut Andika yang sibuk mengunyah makanannya.


"Harusnya tau sendiri lah masak gue mesti bilang."


"Aduh." Rani tertumpah kuah bakso yang panas hingga ada sedikit merah pada kakinya.


"Jihan kamu nggak apa-apa ?." Jo mengambil sapu tangan miliknya yang selalu di bawa kemanapun dan sigap mengelap bekas tumpahan bakso.


"Jo gue Rani bukan Jihan."


Dan saat itulah Jo sadar bahwa ia mulai menganggap Rani adalah Jihan tanpa sengaja hanya karena mata Rani ada dalam tubuhnya. Tangan Jo terhenti seiring dengan keterkejutan dirinya juga yang lain. Nama Jihan menjadi pertanyaan semuanya.


"Siapa Jihan ? Gue mirip ya sama dia ?." Penasaran akan nama seorang gadis yang di sebutkan tapi bukannya mendapat jawaban, Rani hanya bisa kecewa saat Jo mengatakan bukan siapa-siapa.


"Kok tadi panggil gue Jihan ?." Rasa penasaran Rani masih mendorongnya menuntut jawaban dan Erin ikut menyimak meski dalam diam.


"Nggak apa-apa cuma gue lagi nggak pengin bahas soal Jihan sekarang." Jonathan memalingkan muka dan berusaha untuk tidak menatap mata Rani, melihat mata Jihan yang membuatnya terasa terintimidasi dan hanya membuat Jo makin mengingat gadis yang meninggalkan banyak kenangan untuknya.


Tentu tidak akan ada yang percaya jika semua melihat wajah dan reaksi Jonathan, mereka kembali berbincang dan makan hingga akhirnya bel masuk kelas berbunyi. Andika dan Rani harus mengembalikan mangkuknya dulu dan Jonathan masuk ke kelas lebih dahulu. Di saat Rani telah berada di kantin, Erin menarik tangan Andika dan menuntut jawaban.


"Dik sebenarnya siapa Jihan itu, jangan bilang siapa-siapa seperti kata Jo tadi."


"Emang bukan siapa-siapa kok." Andika berusaha untuk terlihat biasa saja, ia ikut terseret dalam kebohongan yang Jo lakukan padahal ia harusnya tidak usah ikut andil dalam permasalahan ini.


"Aku tidak bodoh Dik, mau kmu ataupun Jo kenapa selalu memalingkan muka saat nama Jihan disebut, ataukan memang ada yang kalian sembunyikan ?."


Berbohong bukan keahlian Andika meski ia juga bukan lelaki alim tapi jika jujur mungkin akan membuat Erin sakit hati. Entah jalan mana yang harus ia pilih saat ini, pegangan tangan Erin yang kencang seolah tak membiarkannya kabur sebelum ia menjawab dan Andika pasrah jika Jo tau ia membocorkan rahasia yang tidak seharusnya Erin maupun Rani ketahui.


"Jihan sebenarnya mantan pacarnya Jonathan yang meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit."