When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Tentang Dia



Danau jernih dengan beberapa ikan yang berenang di permukaan terlihat, pantulan bayangan yang berada di air memantulkan bayangan Jo. Ia melihat tanpa ekspresi, pandangan matanya nampak kosong dan bayangan tersebut kabur saat batu di lemparkan.


Dulu ia sering kemari, Bandung menjadi saksi bisu sekaligus perjalanan tumbuh kembang ia sejak kecil hingga sebelum pindah ke Jakarta, kedua tempat tersebut jauh berbeda. Dan keindahan alami ini ia rasakan sendiri.


Dulu pernah ada yang menemaninya kemari dan dia juga yang mengenalkan Jo dengan tempat ini. Tak ingin terlalu lama di sana, Jo memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tempat saudara jauhnya dirawat. Andika tidak ikut karena ini adalah saudara dari ibu sedangkan Andika adalah saudara dari Ayah jadi Andika dan yang akan di jenguk tidak ada hubungannya.


Rumah sakit nampak ramai, ia masih ingat setiap sudut tempat ini dan ruangan di lantai 3 menjadi tempat dimana saudara sepupu Jonathan di rawat. Gadis yang berusia 3 tahun lebih muda darinya itu tersenyum saat Jonathan masuk.


"Kak Jo di tungguin baru sekarang datang." Keluhnya dengan bibir manyun menandakan bahwa gadis itu sedang kesal dan cemberut, pipinya nampak kurus dan selang pada hidungnya menandakan bahwa penyakit gadis itu nampak serius.


"Ya maaf aku sibuk, tau sendiri sekarang aku di Jakarta."


"Diani susah banget makan, coba bujuk dia katanya nggak mau makan kalau nggak ada kamu di sini." Ibunya Diani yang merupakan adik sepupu dari Almarhum ibunya Jonathan bercerita dan Jo menggelengkan kepala, gadis itu membuat sang ibu khawatir dan ia tidak suka.


Mangkuk bubur yang berada di nakas, di ambil Jo dan di sodorkan ke Diani, tapi gadis itu masih enggan. "Rasanya nggak enak kak cobain deh, kayaknya orang rumah sakit pada nggak bisa masak."


"Kalau bisa masak ya mereka jadi chef di restoran." Dan mereka tertawa bersama, Jonathan menyendok bubur tersebut untuk menyuapi Diani." Ayo makan biar cepet sembuh."


Dengan terpaksa dan senang karena di suapi, akhirnya Diani mau makan meski rasa bubur tersebut terlalu hambar. Tidak perlu waktu lama bubur tersebut tandas dan tinggal mangkuknya saja, air putih di minum untuk melancarkan bubur yang masih menyangkut di tenggorokan, maklum saja biasa ia memakan makanan yang banyak rasanya dan kini harus memakan masakan rumah sakit dengan beberapa bumbu yang di batasi agar penyakit pasien tidak tambah parah.


"Jakarta gimana kak, udah jadi cowok dong di sana." Diani membuka suara, dulu mereka tinggal dalam kompleks perumahan yang sama tapi kini mereka berpisah dan untuk gadis remaja itu adalah hal yang cukup berat.


"Kalau jadi cowok cool nggak bakal aku menyuapi kamu, yang ada bakal cuek."


"Iya juga ya."


Sedih Jo melihat kondisi Diani tapi meski begitu kesedihan tidak akan mengobati penyakitnya, setidaknya membuat gadis itu lupa akan rasa sakit yang di derita dan juga membuatnya tersenyum.


Jonathan memutuskan untuk pulang dan berpamitan, agak sulit ketika Diani tidak rela di tinggalkan dan alasan akan menjenguk secepatnya membuat ia diizinkan untuk pulang. Menyusuri lorong dan masuk ke dalam lift, ia terkejut ketika bertemu salah satu dokter yang cukup ia kenali.


"Oh iya, tidak terasa sudah lama kita tidak bertemu." Pintu lift tertutup dan mereka mengobrol saat turun ke lantai satu, satu pembahasan di ungkit Dokter Juan hingga membuat Jo harus menggali lagi ingatannya satu tahun yang lalu.


"Kau masih mengingatnya ?." Tanya Dokter Juan.


"Tentu saja masih, tapi aku ingin melupakan dan ternyata sangat sulit. Sepertinya aku di hukum untuk terus mengingatnya." Mereka menyusuri lorong dengan pelan dan terasa lama sambil mengobrol.


"Bisa kau membantuku menemukan dia, aku ingin bertemu dengannya dan ingin melihat seperti apa orangnya." Langkah kaki Jo terhenti, raut wajahnya nampak serius.


"Kau tau itu menyalahi peraturan rumah sakit Jo." Dokter Juan menyentuh kaca mata, dan melepasnya.


"Aku janji tidak akan berbuat aneh-aneh, aku hanya ingin melipat seperti apa dia, ini sudah lama dan aku masih tidak tenang sampai sekarang."


Rasa iba muncul saat Dokter Jual melihat kesungguhan hati Jo, meski ini salah dan menyangkut dengan pekerjaannya tapi rasa kasihan lebih besar. Yakin dengan Jonathan yang tidak akan berbuat hal yang di luar batas, ia pun menyetujui.


"Baiklah, tapi setelah kau bertemu jangan berbuat aneh. Sebelumnya aku beritahu jika ini masalah lama dan rahasia jadi akan membutuhkan waktu untuk menemukan orang yang kau cari."


Pekerjaannya di pertaruhkan disini dan ini menyalahi aturan kerja di rumah sakit. Tapi selain anak dari kenalannya, Jo juga telah akrab dengan Dokter Juan hingga permintaan Jo layak menjadi pertimbangan.


"Terima kasih, aku mengerti."


Jo berpamitan pulang dan melangkahkan kakinya keluar dari rumah sakit, baru sampai di parkiran ia melihat seseorang yang nampak mirip dari belakang dengan seseorang yang ia kenali.


"Tunggu." Teriknya kepada orang itu saat di rasa hendak pergi, jarak mereka yang jauh membuat Jo kesulitan untuk melihat wajah dari orang tersebut. Semakin jauh Jo semakin berlari dengan cepat tapi tidak terkejar dan ia gagal.


"Tidak mungkin dia kembali, aku pasti berkhayal." Dia kembali ke parkiran, ternyata larinya cukup jauh hingga ia merasa lelah dan langsung pulang ke Jakarta kembali.