When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Menangislah Sepuasnya



"Apa ? Mama sama papa nggak sedang bercanda kan ?."


Mertua Erin saling memandang satu sama lain, mereka bertiga bingung dan hanya Jo yang tau bagaimana kondisi sebenarnya tapi seolah suaranya tercekat dan tidak tau harus bagaimana sekarang.


"Raihan sudah meninggal dan kami akhir-akhir ini sibuk mengurus pemakamannya." Ujar mertua Erin.


Tiba-tiba air mata menetes, tubuh Erin membeku dengan tatapan nanar ia memandang Jo. Mencari kebenaran bahwa semua yang di katakan mertuanya tidaklah benar, tapi Jonathan hanya diam.


"Ini nggak bener kan ? Mas Raihan masih hidup kan ?."


"Erin."


"Bunda."


Bunda datang saat ingin menjenguk Erin sebelum berangkat bekerja tapi ia malah tidak menyangka bahwa besannya datang berkunjung dan raut wajah Erin sekarang cukup memberitahu bahwa Erin telah mengetahui kenyataan bahwa suaminya telah tiada.


" Bunda katakan kalau mas Raihan masih hidup, bunda sendiri yang bilang kalau mas Raihan masih hidup kan ? Masih belum sadar kan ? Bunda cepat katakan !?."


"Jo cepat panggil suster."


Jonathan mengangguk dan dengan cepat mencari keberadaan suster saat melihat Erin kian tidak terkendali, dia semakin histeris dan kedua mertua Erin hanya bisa melihat dalam kebingungan.


Suster datang dan memberikan suntikan hingga Erin tenang dan memejamkan mata hingga tertidur. Setelah itu bunda mengajak kedua besannya untuk bicara setelah memastikan bahwa Erin sudah benar-benar tenang.


"Ada apa ini ? Kenapa Erin sangat terkejut saat diberitahu kalau Raihan sudah meninggal ?."


"Aku minta maaf, sebagai orang tua aku hanya ingin yang terbaik untuk Erin sehingga aku mengambil keputusan untuk menyembunyikan kenyataan ini dari Erin untuk sementara sampai Erin benar-benar siap menerima semua kemalangan yang terjadi kepadanya."


Jonathan mengamati perbincangan itu dari kejauhan, ia menunggu di dalam ruangan Erin setelah Bunda menitipkan Erin kepadanya, semua ini masih terlalu sulit untuk Erin terima dan Jo akan siap berada di samping Erin melewati masa sulit ini.


"Apa Erin terbangun ?." Tanya Bunda saat kembali ke ruangan Erin di rawat.


"Belum tante." Jo ingin tau bagaimana selanjutnya tapi ia tidak berani bertanya, ia sadar diri bahwa dirinya hanya orang luar dan ada batasan untuk tidak terlalu ikut campur dalam masalah antara Erin, Bunda dan mertuanya Erin.


"Erin sudah terlanjur tau masalah ini, jujur saja Jo tante bingung harus apa ?."


"Ini memang sangat berat tante tapi aku percaya Erin wanita kuat dan pasti bisa melewati ini, aku akan menemaninya kapanpun dia butuh."


Bunda menatap Jo seketika, terlihat tekat lelaki itu begitu kuat dari caranya bicara dan bertindak. Memang selama ini tidak ada kata absen untuk menemani Erin.


*****


Kondisi fisik Erin sudah lebih baik tapi berbanding terbalik dengan situasi hatinya saat ini, tatapan sendu ia arahkan ke jendela. Di ujung matanya terdapat butiran bening yang menetes membasahi bantal.


"Dia pasti sedih saat melihatmu seperti ini."


Suara Jonathan menyadarkan Erin bahwa ia tidak sendirian dan langsung menghapus bekas jejak air mata itu meski begitu mata Erin sudah terlanjur sembab.


"Tinggalkan aku sendiri, aku tidak ingin siapapun menggangguku."


"Kalaupun saat ini aku pergi besok, lusa dan seterusnya aku akan kembali lagi, kau tidak bisa benar-benar mengusirku."


"Sebenarnya apa mau mu ?!." Tatapan Erin berubah menjadi rasa benci dan Erin yang dulu lemah lembut seolah tertelan oleh kekecewaan juga kesedihan, hanya ada amarah yang menyelimuti saat ini. "Cukup aku merasakan penderitaan ini jangan kau tambah lagi."


"Sebaliknya aku akan menyelamatkanmu dari penderitaan ini, aku teman bukan musuh san kau boleh kecewa, menangis dan melampiaskan semuanya saat ini, tapi jangan lupa untuk kembali ke kehidupanmu yang baru yang ku ciptakan untukmu, aku akan membawa kebahagian untukmu."


Erin memukul dada Jonathan kian keras dan semaki keras, ia marah dengan kata-kata Jonathan seolah semuanya mudah untuk di lupakan. Rasa sakit ini begitu berat hingga Erin menangis dan menyakiti Jonathan meski Jo tanpa perlawanan dan membiarkan begitu saja.


"Kau jahat, kalian semua jahat, mas Raihan juga jahat meninggalkan aku sendiri, kalian semua sangat tega padaku." Erin sangat emosi san memukul dada Jo sampai lelah tapi tangisnya semakin menjadi-jadi hingga tidak punya tenaga lagi.


"Menangis lah sepuasnya hari ini, kembalilah seperti Erin yang baru besok." Jonathan memeluk Erin dan mendengarkan tangis yang begitu kencang itu, ia tidak peduli bahkan jika besannya remuk karena terlalu keras di pukuli, ini setimpal jika bisa menyelamatkan Erin dari rasa sedihnya yang berlarut.


Lelah menangis akhirnya Erin tertidur pulas, Jo duduk di kursi sambil mengamati Erin yang kian hari kian kurus. Melihat kesedihan Erin sama dengan menyakitinya, dan rasa sakit Jo menjadi dua kali lipat saat Erin menangis untuk lelaki lain.


"Kau belum pulang ?."


"Tante ." Jonathan begitu terkejut saat bunda datang tanpa ia sadari.


"Kau begitu gigih dengan Erin." Tatapan Bunda sendu melihat anak semata wayangnya terlihat begitu sedih, orangtua mana yang tidak terpukul melihat anaknya seperti ini dan bunda sudah tidak tau lagi harus bagaimana agar Erin bisa kembali seperti semua bahkan bunda tidak yakin waktu akan menyembuhkan luka yang di derita Erin.


"Tadi Erin menangis begitu kencang."


Bunda mengamati beberapa luka yang ada di tubuh Jonathan juga di lengannya yang tergores, tadi ia melihat sendiri bagaimana Erin yang menangis sangat keras tapi bunda percaya pada Jo kali ini dan seterusnya....


"Jo apa tante bisa minta tolong kepadamu ?."


"Apa tante ? Akan aku usahakan."


"Mulai sekarang tante akan percayakan Erin kepadamu, tolong sembuhkan rasa sakit Erin dan hilangkan kesedihannya, tante akan langsung merestui mu kalau kau bisa melakukan itu."


Mata Jonathan membelalakkan mata tak percaya, ia langsung berusaha sadar dan bersiap diri untuk membuktikan bahwa dirinya mampu, lampu hijau telah di depan mata dan Jo pernah melewati kesedihan yang sama dengan Erin, Jo pasti bisa membuat Erin sembuh dan percaya lagi akan kebahagiaan.


"Tante tenang saja, percayakan kepadaku."