When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Mawar Putih



Tangan terbuka seraya mendoakan jenazah yang telah di makamkan. Tetangga san sanak saudara yang hadir berpamitan untuk pulang satu-satunya hingga hanya tersisa 3 orang. Jonathan, Jihan dan papanya Jo yang masih tidak menyangka akan kepergian mamanya Jo yang amat singkat hidupnya.


Jonathan merasa menyesal semasa hidup mamanya, ia masih belum menjadi anak berbakti dan belum membalas kebaikan hati dan belum mewujudkan keinginan mamanya. Begitu juga papa yang merasa ini masih sulit di cerna dengan kepergian sang istri yang sangat di cintai.


Tulisan yang bertuliskan nama mamanya dan tanggal kematian berada di nisan menjadi bukti nyata orang yang mereka sayangi telah tiada.


"Jonathan ayo kita pulang." Langit yang semakin gelap meneteskan beberapa air yang membasahi tanah, menandakan akan hujan sebentar lagi. " Sebentar lagi hujan."


"Aku tetap disini pa, tinggalkan aku sendiri." Semenjak kematian mama bahkan sampai detik ini Jonathan masih enggan akrab seperti dulu, masih tidak terima mengapa papanya tega menyembunyikan penyakit mama sedang Jonathan berhak tau tapi semua sudah terlambat dan kesedihan Jo bercampur kemarahan.


"Kau tidak kasihan dengan Jihan ? Dia kelelahan dan kedinginan, setidaknya lakukan ini untuk Jihan dan jangan sampai kau membuatnya sakit."


Jonathan melihat wajah pucat gadis itu, ia lupa bahwa seorang Jihan juga perlu mengingat kondisi tubuhnya sendiri. Bahkan semenjak mereka di rumah sakit senantiasa gadis itu selalu menemani Jonathan dalam saat-saat terpuruk.


"Baiklah ayo Jihan kita pulang, ma Nathan akan sering kesini untuk ketemu mama."


Tanah semakin basah saat di guyur gerimis yang kian deras, mereka pergi meninggalkan mama yang telah berada dalam lindungan sang Kuasa.


Hari demi hari berlalu tapi tiada perubahan, rumah yang tadinya ramai dengan senyuman kini sirna setelah salah satu penghuninya pergi untuk selamanya. Jonathan dan papanya kian jauh seperti ada batas tak terlihat yang tak bisa dilampaui oleh keduanya.


Mencoba untuk lupa dan melupakan tapi tidak bisa, memang orangnya pergi tapi kenakan tidak akan bisa hilang. Jonathan san papanya kehilangan semangat untuk hidup bahkan Jihan kadang sangat sulit untuk menemui Jonathan meski telah berkunjung ke rumah.


"Kamu kapan kembali ke sekolah ? Ini sudah hampir 2 minggu lho." Jihan berusaha mengingatkan agar Jonathan tidak mendapat sanksi karena telah lama tidak sekolah, meski pihak sekolah mengerti akan kondisi Jonathan yang berkabung tapi tetap ada batasnya juga.


"Aku nggak tau, aku belum siap kehilangan mama Ji tapi mama sudah pergi."


"Aku tau mengikhlaskan tidak semudah berkata-kata tapi bagaimana lagi, hanya itu yang mampu kita lakukan."


"Tapi aku belum sanggup." Jonathan melihat bingkai foto yang terpajang di dinding dimana mamanya terlihat tersenyum dengan cantik. Ia rindu senyuman yang selalu meneduhkan hati tersebut. "Aku kangen masakan, senyuman bahkan marahnya mama juga, aku rela marahi setiap hari asal masih bisa ketemu mama."


"Aku sedih lihat kamu kayak gini, apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa bangkit ?."


Seperti biasa Jonathan mengusir Jihan meski gadis itu adalah pacarnya. Keadaan Jonathan kian memprihatinkan dan tidak membuka celah untuk Jihan membuat Jonathan tersenyum maupun bangkit lagi.


Langkah kaki gadis itu nampak berat, ia menoleh ke belakang memastikan Jonathan memanggil namanya untuk tetap berada disini tapi seperti biasa lelaki itu butuh waktu untuk menyesuaikan ini semua.


*****


Jihan kembali tapi tidak dengan tangan kosong, ia membawa sebuah bunga mawar putih yang masih berada di dalam pot kecil. Tanpa mengetuk ia masuk ke dalam kamar Jonathan dan mendapati lelaki itu masih tertidur dengan lelap.


"Nathan bangun, ayo." Tangan tersebut ditarik dengan kuat hingga Jonathan terbangun dan hampir terjatuh karena berada di pinggir kasur.


Mengerjapkan mata beberapa kali saat jendela di buka dan terkena sinar matahari secara langsung, ia pemaksaan baginya dan ia kurang suka tapi apa di kata tidak mungkin Jihan di marahi. "Ada apa ?." Tanyanya masih dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Aku hari ini mau ke suatu tempat dan kamu mesti ikut aku." Tanpa mandi dan cuci muka dahulu, setengah sadar Jonathan hanya pasrah dan meneruskan tidurnya di mobil saat Jihan membawanya ke suatu tempat.


"Kita usah sampai, ayo turun." Jihan harus mengguncang lengan Jonathan beberapa kali agar lelaki itu terbangun.


"Kita dimana ?." Sebuah makam menjadi tempat tujuan Jihan tapi Jonathan masih bingung mengapa mereka kesini. "Kenapa ke makam ?".


"Kita akan mengunjungi makam tante, mama kamu." Ujarnya.


Setelah melewati beberapa makam yang lain akhirnya mereka sampai, tanahnya masih basah dan Jonathan masih bersedih. Doa di panjatkan dan Jihan memindahkan mawar dari pot ditanam ke makam mamanya Jo agar tumbuh di sana.


"Kenapa harus melakukan ini ?."


Kalau mawar ini berbunga dan mekar anggap saja tante sedang tersenyum, janji kamu bakal selalu merawat bunga ini. Anggap saja mawar ini adalah bentuk rasa kasih sayang tante ke kamu maka semakin besar bunganya maka semakin besar sayang tante ke kamu.


"Iya aku janji, makasih setelah ini aku akan semangat untuk bangkit."


"Gitu dong, itu baru Nathan yang aku kenal."