When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Bersaing



Di bawah pohon rindang tempat mereka sering berkumpul dan mencari ketenangan dimana para siswa jarang ke sana. Jonathan dan Andika duduk bersebelahan dan bersandar pada batang pohon tersebut sambil menghembuskan nafas berat.


"Gimana ?." Tanya Andika terlebih dulu soal bertanya kepada Erin yang notabennya lemah lembut berbeda dengan Rani, akan lebih mudah mencari tau lewat Erin meski Andika sendiri tidak yakin akankah Erin mau membagi masalahnya.


"Nihil, Erin cuma bilang perselisihan ini wajar dan hanya sementara, dia nggak ngomong apapun lagi. Gimana dengan Rani ?." Kini Jonathan balik bertanya.


"Erin aja nggak mau kasih tau apalagi Rani, gue malah diancam pakai garpu sama bakso tau nggak ?."


Jonathan spontan tergelak sambil membayangkan bagaimana cara seseorang mengancam dengan makanan. "Maksudnya elo mau di traktir bakso ? Enak banget."


"Ya kali, maksudnya gue mau di tusuk pakai garpu, jangan yang elo ingat baksonya aja."


Bukannya mendapatkan jawaban, mereka malah ikut berselisih tapi tidak seperti Rani dan Erin. Kerap kali berselisih pasti tidak akan lama dan segera baikan bahkan lelaki hanya akan berselisih dengan hal yang benar-benar serius. Jonathan jadi terpikir sesuatu.


"Mungkin nggak kalau ini masalah cewek ?."


"Masalah cewek gimana ? Emang mereka cewek tapi masalahnya apa ?."


"Bukan gitu, mungkin emang kita lelaki nggak akan bisa mendamaikan mereka kalau bukan mereka sendiri yang mau berdamai. " Jonathan mengingat kembali ucapan Erin dan memilih untuk percaya." Mungkin mereka butuh waktu aja biar baikan kayak kata Erin, mungkin nggak akan lama lagi."


Andika menggendikan bahunya, ia pusing karena masalah ini tapi mempercayai Jonathan mungkin jalan terbaik. Mereka sudah memasuki masa dewa dan tentu harus belajar berpikir secara dewasa juga.


*****


Langkah demi langkah Erin menaiki anak tangga menuju ke atap sekolah, tempat tersebut tidak bahaya tapi ada larangan untuk ke sana, memberanikan diri berbekal nekat saat mendapatkan catatan dari Rani bahwa sepulang sekolah mereka akan bicara di tempat yang sepi.


Tidak tanggung-tanggung tempat yang dituju adalah atap gedung sekolah lantai tiga. Disana dalam kencangnya angin yang membuat ujung rambut terbang Rani telah sampai lebih dulu dan sudah menunggu kedatangan Erin.


"Ada apa Ran ?." Erin berharap dengan selesainya percakapan ini nanti juga sekaligus mengakhiri perselisihan mereka.


"Ini soal Jonathan." Jeda sejenak sebelum Rani bicara lagi, tidak menyangka jika hari ini akan datang dan ia akan mengatakan hal yang sebelumnya tidak akan mungkin di katakan. Tapi sekarang semua sudah berubah termasuk keadaan. " Aku nggak bisa dan nggak mau melepaskan dia, aku udah terlanjur suka jadi ayo kita bersaing untuk dapatin hatinya Jo."


Bagai disambar petir di sore hari tanpa hujan, tatapan mata Erin berubah sayu. Ternyata bukan untuk berdamai tapi mereka malah di hadapkan untuk bersaing demi lelaki yang di cintai. Di satu sisi Erin sayang dan terus ingin berteman dengan Jonathan tapi di sisi yang lain Erin juga sama tidak ingin melepas rasa untuk Jonathan begitu saja.


"Baiklah tapi bagaimana dengan pertemanan kita ?."


"Pertemanan kita akan seperti biasa tapi untuk masalah cinta kita akan bersaing, bagaimana apa kau setuju ?." Tangan Rani terulur dan di balas oleh Erin, kini mereka berteman kembali dan duduk di tempat duduk yang sama juga.


Semua nampak baik-baik saja tapi hubungan keduanya tidak karena seperti ada dinding, meski duduk bersebalahan tapi jarang bicara seperti dulu.


Teman-teman yang lain melihat mereka akan mengira jika telah berbaikan seperti, baik Jonathan dan Andika juga merasa lega. Makan, bercanda, dan ngobrol seperti biasa nampak tidak ada yang janggal sama sekali.


Entah Jonathan sadar atau tidak tapi Erin dan Rani memberikan perhatian lebih. Andika sedikit merasa seperti di anak tirikan dan ia kerap kali membantu kedekatan Erin dengan Jonathan karena ia pikir Jonathan menyukai Erin, dan agar cepat move on dari Jihan, tapi bagaimana hati Jonathan sebenarnya Andika tidak tau.


"Belajar yang bener kita udah mau lulus, kalau nggak lulus kita tinggalin elo." Satu buku dipukulkan ke kepala Andika saat sedang menyontek pekerjaan Rumah milik Jonathan padahal sebelumnya Jonathan menawarkan untuk diajari.


"Gue ini pin ter jangan khawatir." Ujarnya dengan santai dan masih meneruskan apa yang di lakukan.


Rani dan Erin hanya bisa menggelengkan kepala, cafe dengan suasana lesehan ini menjadi salah satu tempat yang asik untuk biasanya mengerjakan pr bersama atau sekedar ngumpul.


"Soal nomor 25 gimana sih, gue nggak ngerti." Rani membolak-balik halaman untuk mencari rumus yang bisa di gunakan untuk mencari jawaban.


"Sini Ran aku ajarin." Erin dengan suka rela berniat memberi bantuan sekaligus mengajari dan menerangkan.


"Nggak usah, Jo aja soalnya lebih paham kalau diajari Jo."


Bahkan sampai saat ini mereka masih bersaing hanya saja secara halus, dan penolakan Rani menyadarkan Erin bahwa Rani masih sangat berambisi.


"Oh yaudah kalau gitu."


Erin kembali mengerjakan dan menghitung dengan konsentrasi, namun bolpoin yang di gunakan lama-lama hilang tintanya sampai benar-benar tidak ada. Erin yakin jika bolpoin itu sudah habis tapi ia lupa untuk membeli cadangan.


"Ada yang punya bolpoin dua nggak ? Punyaku habis ?."


Jonathan memberikan bolpoin miliknya kepada Erin dan buru-buru Rani juga memberikan bolpoin miliknya.


Dengan dua bolpoin di hadapan Erin membuatnya bingung harus memilih yang mana, di lain sisi ingin mengambil milik Jonathan tapi dia hanya punya satu sedangkan di sisi lain Rani terlihat punya cadangan. Kemudian Andika memberikan bolpoin miliknya juga.


"Pakai punya gue, nggak apa-apa ambil aja gue punya banyak nih." Ada sekitar 5 buah bolpoin yang di miliki lelaki itu dan Erin mengambilnya sebagai keputusan yang netral.


"Makasih Dik, kamu mau aku ajarin nggak ? Aku ada cara singkat biar cepat hafal."


"Boleh."


Erin mengajari Andika sebagai terima kasih, sekaligus membantu agar nanti saat ujian kelulusan mereka bisa lulus bersama. Diantara mereka berempat nilai Andika yang paling mengkhawatirkan dan di takutkan tidak lulus.


Dalam mengajari Rani Jonathan tidak sengaja melihat matanya dan kembali melihat sosok Jihan dari pantulan kornea tersebut. Buru-buru Jonathan memalingkan muka agar sadar bahwa itu Rani bukan Jihan.


"Jawaban gue bener nggak ini ?".


"Iya Jihan, gimana ?.


Jonathan tersadar saat mendengar Rani berbicara kepadanya dan tanpa sadar malah memanggil Rani dengan nama Jihan, sontak yang lain juga ikut melihat.


"Jihan ? Rani Jo, emang siapa Jihan ?."


"Nggak bukan siapa-siapa, gimana tadi ?."


Jonathan berusaha mengalihkan pembicaraan dan agar semua melupakan kekeliruannya, tapi nama Jihan yang sudah terlanjur di sebut dua kali saat bersama Rani tentu membuat Rani dan Erin kian penasarannya. Sulitnya Jonathan seperti tidak mau memberitahu soal Jihan


"Ini jawabanku bener nggak ?."


"Iya bener, udah bisa sekarang."