
"Kan bener Jo disini." Suara yang membahana itu menginterupsi Jonathan yang sedang bicara dengan Erin, Andika yang sudah menduga keberadaan Jo yang selalu berada di rumah Erin tidak salah, dan Rani percaya begitu melihat.
"Kirain di tempat kerja Jo, kita tadi mau ke sana tapi Andika bilang pasti di rumahnya Erin." Rani duduk di sebelah Erin sebelum di persilahkan dan mengambil sesuatu di dalam tasnya. "Nih buat kalian."
Sebuah undangan yang berwarna biru toska berlapis plastik dengan nama Rani dan Andika tertulis di sana, Erin dan Jo langsung tau meski belum di buka dan di baca dengan benar.
"Kalian mau nikah ?." Tanya keduanya tak percaya, sebuah keajaiban dunia yang ke sekian dan tiba-tiba mereka datang membawa kabar menakjubkan.
"Wuis kompak udah, iya kita mau nikah." Jawabnya dengan percaya diri. " Jangan lupa datang bawa hadiah yang gede tapi kalau ngerasa susah bawanya cek kosong nggak apa-apa, gue terima dengan bahagia."
"Cek kosong dari Hongkong ! Kalian saja nggak kasih tau kapan lamaran atau tunangan tiba-tiba udah mau nikah aja." Protes Jo.
"Iya Ran kok bikin kaget nggak ada angin hujan tiba-tiba kasih undangan, nikahnya sama Andika lagi dan kita nggak tau kapan kalian pacarannya ?."
"Maaf Rin, sebenarnya pas dia nyatakan cinta juga rada ragu kan kita semua temenan jadi takutnya ntar kalau putus malah jadi berantem dan pecah pertemanan kita, eh dia malah ganti pengen langsung nikah aja ya aku terima kan biar pertemanan kita tetep langgeng."
"Kok aku rada gimana ya ? Jadi kalian mau nikah cuma karena temenan bukan karena cinta ?." Tanya Jo kembali.
Andika langsung menatap Rani dengan tatapan penuh tanya seperti Jo, lama memendam perasaan kepada Rani dan akhirnya di terima padahal dulu ia sering kali tak di hiraukan sama sekali. Andika juga penasaran mengapa Rani menerima ajakannya untuk menikah, benarkah tidak ada cinta sama sekali ?.
"Denger ya Jo, ada dua pilihan cewek nerima lamaran cowok, yang pertama karena cinta dan yang kedua karena terpaksa." Jawabnya dan mereka masih bingung.
"Tapi aku nggak pernah maksa." Seru Andika.
"Yang berarti ?." Timpal Erin hingga semua mengerti dan mengangguk begitu pula Rani.
"Udah faham semua kan ? Kalau nggak paham aku ragukan nih gelar tinggi kalian."
Bunda datang membawa beberapa cemilan yang rencananya itu untuk Jo dan Erin, tapi berhubung ada Andika juga Rani maka mereka juga ikut makan. Obrolan seputar pernikahan disampaikan kepada Bunda yang turut bahagia, teman baik anaknya akan segera menikah tapi di lain sisi juga sedih karena tiba-tiba terlintas kejadian buruk dulu waktu Erin menikah.
"Bunda doakan semuanya lancar ya."
"Iya bunda makasih doanya."
*****
Andika dan Rani telah pulang tapi Jo masih berada disana, tiba-tiba seorang tetangga yang lewat melihat dengan tatapan mata tajam dan lirikan menghina.
"Jeng kayaknya sekarang anaknya udah laku lagi ya ? Cepet banget jeng !."
"Padahal belum ada setahun meninggal suaminya, ya ikut senang saya kalau Erin dapat jodoh lagi. Biar ada yang nemenin boboknya."
"Saya hanya teman Erin." Jonathan inisiatif untuk menjelaskan namun sepertinya tidak di anggap dan tidak merubah pandangan tetangga Erin tersebut.
"Oh cuma teman, kasian di kasih harapan aja padahal tiap hari masnya main kan ya ? takut jadi fitnah ."
Sabar adalah kata yang selalu Jo ucapkan dalam hati untuk menghadapi orang yang dangkal pemikirannya seperti ini, tapi ia harus sadar diri disini yang menjadi sasaran adalah Erin dan bunda jadi jangan sampai mengacau.
"Kalau Erin mau saya bisa kenalkan ke ponakan saya sama-sama udah pernah nikah, anak satu udah mapan juga, kalau statusnya sama kan enak." Lanjutnya.
"Soal itu saya pasrahkan kepada Erin yang menjalani." Hanya itu yang bisa bunda katakan.
"Memangnya kenapa kalau Erin dapat yang belum pernah menikah ?." Rasa marah dan ingin tahu mendorong Jo untuk bertanya. "Bukankah semua orang punya hak yang sama soal pernikahan.
"Kalau masih gadis sama yang perjaka masih cocok, kalau janda kan bagusnya sama yang duda biar pas kalau dapat yang perjaka itu namanya maruk, yaudah saya permisi."
Tetangga itu pergi dengan senyuman tipis yang sangat menjengkelkan.
"Aku tidak menyangka ada orang seperti itu, Erin kau jangan...."
Kata-kata Jonathan terhenti saat melihat Erin yang masih ke dalam dengan wajah sedih, ia ingin masuk dan menenangkan Erin tapi di cegah oleh bunda.
"Biarkan dia sendiri dulu, ini urusan wanita yang kadang lelaki tidak pahami.
"Baiklah tante, aku pamit pulang dulu." Kepergian Jo menyisakan banyak tanda tanya, nampaknya hati Erin begitu terluka mendengar ucapan tetangga tadi yang mulutnya tidak di rem.
Jonathan sudah sulit untuk menaklukkan hati Erin dan jika omongan tetangga tadi di dengar maka kesempatan bagi Jo akan lenyap sudah. Ia masih mencintai Erin tidak peduli apa status gadis itu sekarang.
Di saat yang sama Erin berada di dalam kamar menangis sejadi-jadinya, ia merasa sakit hati sekali dan seperti sebuah barang yang tidak ada nilainya lagi. Bukan inginnya untuk menjadi janda dan bukan kesalahan pula untuk punya status ini tapi mengapa janda selalu dipandang rendah.
"Sudah jangan dipikirkan lagi, semua sudah takdir yang tidak bisa kau pegang dan kendalikan." Bunda memeluk Erin dengan erat untuk menenangkan anaknya tersebut, memiliki status yangs ama dengan Erin membuatnya mengerti dengan benar apa yang di rasa.
"Tapi aku nggak punya salah sama dia bunda, kenapa dia harus mengatakan itu."
"Kadang ada orang yang suka menganggu meski tidak di ganggu, apapun yang membuatmu bahagia asal tidak menyakiti hati orang lain lakukanlah, sekarang jangan bersedih lagi karena orang yang menyakitimu akan merasa menang."
Erin sudah berhenti menangis, sekarang ia lebih percaya diri setelah mendapat kekuatan untuk bangkit. Memang tidak ada yang bisa merubah keadaan tapi setidaknya suasana hati kita masih bisa di perbaiki dengan tidak memperdulikan apa kata orang toh mereka tidak ikut memberi makan atau mengurus kita dan yang terpenting kebahagiaan kita bukan karena menyakiti orang lain.