
Menjadi seorang dokter membuat Erin lebih mengetahui apa yang baik dan buruk untuk kehamilannya, selama itu juga Jo menjadi calon ayah yang siapa apapun yang di inginkan oleh Erin termasuk ngidamnya yang aneh-aneh.
Masih teringat dengan jelas saat Jonathan diminta memasakkan mie instan yang di campur dengan buah-buahan yang ada di kulkas. Berbagai toping yang di biasa di buat untuk tambahan mie instan nyatanya tetap membuat sang istri menginginkan buah yang kerap kaki di buat rujak itu.
"Tambah keju aja ya ?." Bujuknya karena Jo membayangkan rasanya yang pasti akan kocar-kacir.
"Maunya sama buah."
Mau tidak mau Jo menuruti dengan syarat Erin tidak boleh terlalu sering membuat mie instan dan wanita itu tau juga bahwa makanan yang cepat dalam penyajiannya tersebut kurang baik di konsumsi terus-menerus.
"Kamu nggak mau makan bareng, cobain kayaknya enak."
"Nggak kamu aja yang makan."
Erin menyantapnya tanpa merasakan sesuatu yang aneh, sebaliknya ia merasa mie itu sangat enak dan segar layaknya makan mie instan dengan penyajian spesial.
Jonathan hanya duduk diam sambil melihat Erin makan dan sesekali melihat jam yang menunjukkan pukul satu dini hari. Waktunya untuk seseorang beristirahat dan Jo malah terbangun.
Mie telah tandas dan langsung di cuci, Jonathan mengajak Erin untuk tidur lagi siapa tau diantara sekarang hingga pagi masih bisa untuk memejamkan mata sejenak sebelum berangkat kerja.
Hari demi hari dinikmati Jonathan meski ia kerap kali kelelahan tapi melihat perut Erin yang kian buncit juga kaki yang bengkak membuatnya merasa iba dan menyadari bahwa pengorbanan Erin lebih besar jadi ia tidak mau mengeluh untuk hal yang masih remeh.
"Udah siap ?."
"Udah."
Mereka mau ke rumah sakit tapi bukan mengantar Erin kerja melainkan memeriksa kandungan yang sudah semakin dekat dengan hari perkiraan lahir.
"Kalian bisa lihat itu bayinya dan jenis kelaminnya laki-laki." Dokter kandungan itu memperlihatkan dengan jelas posisi bayi yang sudah sesuai.
"Jangan lupa di minum vitaminnya."
Jonathan mengelus tangan Erin dengan antusias saat melihat bayi pertamanya, itu akan menjadi Jonathan junior di masa depan bahkan Jo sudah membayangkan bisa bermain bola dengan anaknya.
"Aku tidak sabar menunggunya lahir di dunia." Bisik Jonathan.
"Aku juga."
*******
Dahi erin berkeringat karen kelelahan setelah habis membuat beberapa masakan untuk menyambut suaminya pulang. Kandungannya yang sudah besar membuatnya mudah Lelea dan kesulitan bahkan ia sudah cuti kerja.
Jo berulangkali menyuruh Erin membeli makanan saja daripada harus memasak atau menyerahkan kepada bibi. Tapi niat tulus Erin sudah bulat dan terasa lebih puas jika ia masak sendiri bagaimanapun hasil masakannya.
"Sayang kau dimana ?." Jonathan pulang dan langsung mencari keberadaan Erin di dapur, ia mencium dahi itu dan tak lupa mengelus perut buncit sang istri.
"Aku disini." Erin berjalan perlahan menghampiri Jonathan dan langsung mengambil tas kerjanya. "Akan ku simpan di kamar."
"Tidak perlu aku saja."
Erin melihat Jo menaiki tangga dan tersenyum bersyukur selama kehamilan ia sangat di perhatikan dan semua kebutuhan bayi sudah tersedia sebelum lahir. Tiba-tiba perut Erin mendadak sakit, ia merintih kesakitan dan bibi yang berbeda di sekitar segera mendekat.
"Ni tolong panggil Jo, sepertinya aku akan melahirkan."
Bibi memanggil Jonathan dan Erin menunggu di bawah dengan tidak sabar karena semakin lama semakin sakit. Segera Erin ke rumah sakit dan Jo disuruh tunggu di luar.
"Erin, biarkan aku masuk dokter ku ingin menemani istriku."
"Baik pak tapi harap apapun yang terjadi bapak nanti harus tenang."
Ruang bersalin itu tiba-tiba seolah berubah menjadi ruang kematian yang siap menjemput nyawanya karena melahirkan taruhannya adalah nyawa. Biasa jadi anak mereka tidak selamat, bisa juga Erin yang tiada atau bahkan mungkin keduanya.
"Air ketubannya sudah pecah."
Dokter menyuruh Erin untuk mengejan tapi baru beberapa kali ia sudah merasa lelah dan ingin terpejam sebentar.
"Sayang berjuanglah."
"Sebentar lagi, kepalanya sudah terlihat."
Berulangkali Erin mengejan dan berulangkali juga ia melawan kantuk juga sakit. Tulangnya terasa di patahkan semua di saat yang bersamaan dan tenaganya hanya tersisa sedikit untuk membuka matanya.
"Ayo sayang sebentar lagi."
"Jo ku tidak kuat." Air mata itu mengalir deras tanpa di sadari, rasa sakit membuatnya hampir kehilangan kesadaran.
"Oek oek."
Akhirnya setelah perjuangan panjang yang melelahkan dan rasa sakit di sekujur tubuh Erin, ia berhasil menjadi seorang ibu dan seorang istri yang sempurna. Seorang bayi laki-laki dengan tangisan kencang yang memenuhi seluruh ruangan lahir ke dunia dengan bangan dan senyuman dari kedua orang tuanya menyambut.
"Alhamdulillah terimakasih sayang." Jonathan mencium dahi Erin sebagai tanda sayang dan terima kasih, ia melihat sendiri betapa besar perjuangan untuk melahirkan bahkan Jo sangat kagum Erin bisa melalui hal itu.
Suster memberikan bayi laki-laki nan tampan tersebut dan Jonathan menghadap kiblat lalu mengadzani bayinya juga Iqamah sesuai anjuran. Ia menangis karena terharu dan bayi mungil itu begitu menggemaskan.
"Jagoan kita telah lahir." Jonathan memberikan ke Erin agar melihat bayi yang selama ini di dalam rahim dan hari ini lahir ke dunia bertepatan dengan tanggal ulang tahun Erin, sehingga ini seperti kado ulang tahun yang begitu besar juga paling indah.
"Anak tampannya mama, selamat lahir ke dunia sayang."
Harta yang paling indah adalah keluarga dan bersama orang yang kita sayangi, itulah rumah tempat untuk pulang dimana ada orang yang selalu menunggu kita kembali.
.
.
.
.
.
.
.
...~FIN~...
...Terima kasih telah sabar dan membaca When Jonathan Meet Erin ...