When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Karena Buah



Mereka saat ini masuk ke dalam rumah, Erin begitu senang akhirnya kembali pulang setelah sekian lama berada di rumah sakit. Jo juga mengantarnya dan membawakan barang-barangnya. Diakui Erin bahwa Jo sangat membantu.


"Kau ingin masuk kamar dan istirahat ?." Tanya bunda saat mereka masuk kedalam rumah.


"Iya bunda aku rindu kamarku."


Erin di bantu berbaring di kasur oleh bunda tapi agak kesulitan untuk itu Jonathan membantu dan memegang bahu Erin. Layaknya seorang suami yang sigap membantu istrinya, Jo seperti tak kena lelah dan tak pamrih membantu Erin.


"Sudah lebih nyaman ?." Tanya saat kaki Erin di bantu naik ke atas kasur.


"Iya, terima kasih." Erin malu saat ia masih belum mampu melakukan semua sendiri bahkan hanya untuk naik ke kasur saja. Di lihatnya kamar ini yang agak berantakan setelah di tinggal lama dan foto kenang-kenangan dari mas Raihan yang terpampang di dinding.


"Ini sudah jam 11 sebentar bunda masak dulu ya, Jo tolong jaga Erin."


"Iya tante."


Sepeninggal bunda ke dapur suasana kamar nampak sepi, kecanggungan terasa antara mereka berdua. Andai saja Erin bisa membantu bunda di dapur maka ia akn memilih pergi dari kamar daripada harus di tatapan Jo seperti ini.


"Kau butuh sesuatu ?." Tanya lelaki itu untuk menghilangkan kecanggungan yang terjadi rapi gelengan Erin membuat semuanya lebih canggung lagi.


Bunda sudah menitipkan dirinya kepada Jo jadi tidak mungkin kalau Jo diusirnya keluar dari kamar. Erin sekali lagi melihat Jo tapi lelaki itu memerhatikan beberapa foto di dinding dan memperhatikan satu yang menurutnya menarik.


"Kau masih menyimpan foto ini ?." Tunjuk Jo kepada foto 4 orang yang tersenyum tanpa beban dan masih memikirkan masa muda yang indah.


"Itu satu-satunya foto kenangan kita berempat bersama Rani dan Andika, tentu saja aku menyimpannya. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat sampai aku bahkan tidak menyangka lagi itu sudah beberapa tahun yang lalu, ternyata aku sudah tua ya ?."


"Iya kau benar, fotoku juga masih ku simpan tapi bukan di kamar tapi di meja kerjaku di kantor. " Satu-satunya foto dimana ada Erin disana dan ada alasan Jo untuk menyimpan foto Erin dengan nama sahabat seperti teman yang lain meski Jo kerap sedih melihat foto itu.


"Gimana ya sekarang keadaan danaunya, kapan-kapan aku rasanya pengin ke sana."


"Danaunya sekarang kotor sekali, aku sudah melihat dan sudah tidak seperti dulu." Jo duduk di pinggir kasur sambil bicara dengan Erin." Sekarang semua sudah di ketahui orang lain maka keindahannya sudah tercemar."


"Sayang sekali, tapi aku masih ingin melihat ke sana kapan - kapan kalau sudah sembuh."


"Baiklah aku akan mengantarmu ke sana supaya kau tidak mengecap ku bohong kalau tiba-tiba danau itu bersih sendiri."


"Baik, kalau danau itu bersih berarti kau pembohong." Erin terkekeh, tidak menyangka pembahasan masa muda mereka begitu menyenangkan untuk diingat kembali dan kedatangan bunda menginterupsi.


"Lama nunggu ya, sudah matang Erin mau makan disini atau di meja makan ?."


"Erin makan di meja makan saja tante, kalau makan disini nanti makanannya belepotan di bantal."


"Hei aku tidak jorok seperti itu." Mereka berdua kembali tertawa dan kali ini Erin tidak merasa canggung saat Jo membantunya untuk ke meja makan dengan pelan dan penuh hati-hati.


"Terima kasih." Ucapnya dengan tulus.


******


7 Bulan Berlalu


Bunda pergi untuk bekerja sehingga sekali lagi Erin dititipkan kepada Jonathan dan lelaki itu selalu bersedia. Berbeda dengan hari lain dimana Erin merasa tidak nyaman, canggung dan tidak leluasa. Kini ia malah sudah tau mau melakukan apa dan tidak sabar untuk menunggu kedatangan Jonathan.


"Jo apa kau lelah ?." Tanya Erin saat Jo sampai di depannya, lelaki itu di sambut senyuman Erin seperti saat masih sekolah dan Jonathan merasa sangat senang seperti kehadirannya menjadi sesuatu yang berarti.


"Tidak, kenapa ?." Tanyanya tapi ia malah di gandeng ke belakang rumah hingga sampai di kebun belakang. Banyak pohon buah juga bunga mawar yang di tanam di sana.


"Siapa yang menanam semua ini ?."


"Aku dan bunda kalau ada waktu senggang pasti menanam pohon kalau nggak bunga, dulu awalnya sekecil ini tapi sekarang sudah sangat besar dan berbuah, "Erin mendongak mencari pohon yang sudah berbuah dan menunjuknya. " Yang itu sudah matang."


Diambilnya galah dan mencoba untuk mengambil, seperti yang Erin duga bahwa ia masih kurang tinggi hingga Jo harus membantu untuk mengambil buah kelengkeng tersebut.


Beberapa buah Erin coba san sesuai perkiraannya bahwa semua sudah matang, terasa lebih enak karena ini di tanam sendiri. "Cobalah rasanya sangat manis."


"Iya kau benar." Rasanya lebih enak dari yang Jo beli di toko buah selama ini san entah bagaimana rasanya juga bahagia padahal hanya sebutir buah, mungkin karena makannya bersama orang yang di cintai.


"Ayo kita ambil rambutan juga." Pohon rambutan lebih pendek daripada pohon kelengkeng jadi Erin memilih untuk mengambilnya sendiri dengan galah, tapi beberapa buah malah berjatuhan mengenai kepalanya sampai berdenyut dan ia jatuh terduduk.


"Erin kau tidak apa-apa?." Jo langsung menghampiri dan berusaha agar Eri tidak jatuh mengenai batu besar di sekitar sana, gadis itu langsung memegangi kepala.


"Rasanya sangat sakit Jo." Erin bahkan tidak sadar saat ini ia sedang di peluk Jonathan, rasa sakit itu begitu membuatnya lemah.


"Kita masuk kedalam rumah dulu dan minum obatmu ya ?."


"Tidak, aku akan segera pulih." Semakin lama rasa sakit itu semakin menghilang dan Erin sudah mulai sadar bahwa tubuhnya terasa lebih hangat saat Jo memeluknya, mereka saling menatap dan terasa dekat.


Tataan mereka seolah terkunci satu sama lain, Jo merasa terdorong tanpa sadar untuk merasakan sesuatu yang lebih, ia melihat bibir merah muda hingga akal sehatnya menghilang dan kian mendekat hingga bibir keduanya menempel, gerimis membasahi dan menyadarkan keduanya untuk melepas tautan itu segera berteduh.


"Kau basah, aku ambil handuk dulu." Erin segera masuk ke dalam karam, disana ia membelakangi pintu dan menyentuh bibirnya, berbagai rasa bercampur antara rasa bersalah kepada mas Raihan dan bingung mengapa ia seolah menerima ciuman itu tanpa penolakan sama sekali.


Rasa canggung terasa saat Erin menyodorkan handuk kepada Jonathan dan mereka berdua diam. Bunda tidak kunjung pulang sementara hujan kian deras tapi jika berlama-lama lagi yang ada nanti gawat.


Mereka hanya berdua dan mau bagaimanapun Jo adalah laki-laki dan Erin perempuan dan mereka hanya berdua saja di rumah, takutnya yang ketiga adalah setan.


"Nanti kalau sudah agak reda aku akan pulang, kau sudah tidak apa-apa kan ?."


"Iya aku sudah baik-baik saja."