
"Kalian....." Sangat dekat dan terasa ada yang nyeri dalam sada Wulan, perasaan yang tidak enak ini seolah mendorongnya untuk protes tapi dlm kehidupan ini tidak bisa.
Dan Jo mengedipkan mata beberapa kali untuk berusaha sadar dan berdiri sambil mengangkat sepeda yang putus rantainya. Sementara Erin membantu Rani berdiri dengan kesulitan. Berbeda dengan Andika yang masih mengamati keadaan dengan berdiam dan masih enggan untuk bicara.
"Mendingan kita cari tempat duduk dulu sambil cari obat."
Di bawah pohon yang tindang mereka berteduh dari teriknya matahari yang menyinari setiap tempat di sana tanpa terkecuali. Angin menerpa sedikit menghilangkan keringat yang menetes membasahi dahi.
Luka Rani di bersihkan dengan telaten oleh Erin tapi entah mengapa justru Erin lah yang merasakan perihnya, bukan di luar tapi di hati. Kini baru benar-benar di sadari bahwa ada rasa cemburu yang di akui timbul oleh rasa cinta. Erin mencintai Jo dan perhatian lelaki itu kepada sahabatnya menimbulkan rasa cemburu.
"Masih sakit ?." Pertanyaan yang muncul setelah selesai mengobati Rani dan dijawab dengan gelengan.
"Yang sakit aku Ran." Gumamnya dalam hati.
Jo datang membawa botol air dan beberapa cemilan untuk beristirahat sejenak di sana, entah nanti akan di lanjutkan bersepeda dengan Rani di bonceng atau perjalanan berhenti sampai sinj saja.
Jo melihat ke arah Rani saat gadis itu sedang mengobrol dengan Erin, entah mengapa seperti de javu. Jo nampak pernah merasakan perasaan ini saat melihat Rani padahal mereka termasuk baru kenal dan dekat dalam artian teman.
"Kenapa Jo ?." Andika datang dengan snack di tangan dan beberapa remahan rontok saat snak yang terbuat dari kentang itu di makan, di tawarkan kepada Jo tapi di tolak.
"Gue ngerasa kayak ada sesuatu pernah gue alamin tapi padahal belum pernha gue alamin sendiri, elo pernah ngerasa gitu nggak ?."
"Pernah malah sering, kayak de javu gitu kan ?."
"Tapi ini beda, ah susah ngejelasinnya." Jo berfikir keras dan semakin ia berfikir maka jawabannya semakin tidak ada, masalahnya hanya kepada Rani ia merasakan itu. Kembali ia melihat para gadis tapi kini Erin dan ia memperhatikan tapi tidak merasakan de javu seperti saat ia melihat Rani.
Telah lama beristirahat mereka melanjutkan perjalanan dan kini posisinya Rani di bonceng oleh Erin namun sebelumnya Andika telah memberikan tawaran untuk Rani di bonceng dirinya tapi jawabannya malah. "Dih ogah mending lo bonceng kelapa aja biar gue pas haus bisa minum."
Tentu Andika hanya pasrah, hamparan danau terlihat di depan mata. Warna hijaunya mendominasi keindahan yang dihias oleh bunga dan pepohonan yang tumbuh di sekitar. Ingin rasa hati untuk melompat dan terjun diantara bebatuan yang tinggi dan merasakan dinginnya danau, sayang mereka tidak membawa baju ganti.
"Gue nggak nyangka ada tempat kayak gini di Jakarta." Mata tertegun melihat keindahan yang masih asri, tidak ada yang datang selain mereka hingga kenikmatan itu bisa di rasakan tanpa ada gangguan, tapi mereka berkunjung tentap menjaga kesopanan.
"Emang Bandung doang yang adem, Jakarta juga asal bukan kotanya." Andika tertawa dan mengarahkn cipratan air kepada sepupunya yang masih berdiri melihat keindahan danau. "Nih rasakan air Jakarta biar glow up."
Berbeda dengan para lelaki, Erin dan Rani lebih memilih untuk mencari spot foto yang sesuai untuk diabadikan. Jarang sekali mereka bertemu tempat yang indah diantara ramainya hiruk pikuk ibu kota negara.
"Gimana Rin bagus nggak disini ?." Rani berdiri bersandarkan pohon besar yang telah tumbang dan Erin memegang hp yang diarahkan ke Rani, banyak sekali foto Rani di sana.
"Gantian ya nanti." Pinta Erin yang juga ingin berfoto dan membuat ini menjadi kenangan.
Rani menyuruh Erin mencari tempat yang bagus untuk goto dan sekarang gantian Rani yang memegag hp. Pohon besar yang di sinari matahari menjadi pilihan, Erin berdiri di bawahnya dengan padangan mata yang sayu ia di foto. Kebetulan Jo melihat dan sejenak tertegun oleh Erin.
Andika menyadari hal itu dan mendekat seraya berbisik. "Ciptaan Tuhan emang indah ya Jo ?."
"Iya." Jo baru tersadar dan mendorong Andika karena salah tingkah hingga tercebur di danau sampai bajunya basah kuyup.
"Hei cowok-cowok ayo kita foto." Rani berteriak dari kejauhan agar para lelaki mendekat, ia tertawa dengan puas melihat Andika basah dan mencoba mengeringkan bajunya dengan cara di peras padahal masih di kenakan.
"Gue klau masuk angin elo mesti tanggung jawab." Tangan Andika menunjuk Jo denga segala ancaman tapi tidak mempan.
"Nggak bakal." Jawabnya.
Mereka bertiga duduk di pohon besar yang tumbang tersebut, hp telah di pasang pengatur waktu 5 detik dan Andika buru-buru ambil posisi. Belum sempat duduk malah hp sudah mengambil gambar, tapi itu sudah cukup sebagai kenangan dan momen yang terabadikan.
*****
Lain hari Jo langsung ke Bandung setelah mendapat panggilan dari dokter Juan yang meminta untuk bertemu dengan alasan permintaan Jo kala waktu dulu. Mobil di kendarainya dengan cepat dan ia tidak sabar untuk segera mendapatkan jawaban.
"Mengenai permintaamu waktu itu sangat sulit mencari sampai membutuhkan waktu lama." Fokter Juan menjelaskan terlebih dahulu untuk sampai ke intinya.
"Tapi benarkah kau tau siapa orang itu ?." Tangan Jonatan mengepal kuat, ia tidak sabar untuk mendengarkan setelah sekian lama menunggu.
"Iya, yang mendapatkan donor mata Jihan namanya adalah Rania Putri Laksani." Sebuah foto yang berasal dari map di keluarkan dan diperlihatkan kepada Jo. "Di penerimanya donor matanya Jihan dulu."
"Dia.....Rani, ini tidak mungkin."