
Mata Jonathan dan Erin saling memandang dan tidak berkedip. Keduanya terkejut oleh keadaan dimana Erin tidak menyangka bahwa Jonathan akhirnya pulang sedang Jo sendiri baru tau kalau Erin sudah bertunangan.
Erin memutus pandangan dengan memalingkan muka untuk menghindari tatapan Jonathan. Mengajak mas Raihan untuk ke meja yang berisi makanan juga minuman. Erin tidak ingin Jonathan mendekatinya.
Jo sendiri melangkah hendak mendekat tapi di tahan oleh Andika, meski mereka sama-sama terkejut karena Erin baru saja memberitahu pasangannya hari ini tapi Andika tetap bersikap seperti biasa. Ia menahan Jo agar tidak membuat kekacauan.
"Jangan dekati Erin, setidaknya pas nggak ada tunangannya." Ujar Andika.
Mau tidak mau Jonathan mengikuti kata Andika dan kembali ngobrol dengan teman sekolah mereka dulu tapi diam-diam Jo memperhatikan Erin yang berada dekat darinya tapi terasa begitu jauh.
Beberapa kali Jo tidak sengaja melihat tatapan Rani yang memancarkan kebencian mendalam, masalah ini hendak ia selesaikan dan ingin meminta maaf tapi siapa sangka Jo terlalu terkejut dengan status Erin yang menggandeng pasangan baru hingga ia menjadi tidak percaya diri untuk meminta maaf sekarang.
Jonathan melangkah ke arah balkon yang sepi dan hanya di sendiri disana, tujuan awal dan rencana tidak sesuai dengan kenyataan. Malam ini Jonathan merasa gagal dan ia kaget saat melihat Rani yang sudah berada di sebelah.
"Kenapa kau kembali ?." Tatapan dan nada bicara Rani memperlihatkan tatapan kebencian, ada amarah yang ingin keluar tapi berusaha di tahan. Banyak orang yang akan melihat dan membicarakan kalau sikapnya tidak baik malam ini.
"Aku rindu tempat kelahiran ku........juga teman-temanku." Ujarnya sendu.
"Cih, temanmu ? Sudah bertahun-tahun lamanya tapi aku masih ingat kejadian dulu, aku terlalu naif pernah jatuh cinta dengan orang seperti dirimu yang bahkan tidak berhak untuk dicintai."
"Aku minta maaf, aku tidak bermaksud begitu tapi saat itu aku tidak bisa memilih salah satu dari kalian, aku benar-benar minta maaf."
"Setelah sekian lama kau baru ingat untuk minta maaf ? Tidakkah ini begitu terlambat, kau tau sangat menyebalkan untuk aku bertemu denganmu lagi." Rani pergi membawa rasa kesal yang akan di lampiaskan dengan pukulan jika saja ia tidak ingat ini adalah tempat reuni.
Sepeninggal Rani Jonathan seolah teringat bahwa baik mama maupun Jihan yang pergi meninggalkan dirinya dan membawa rasa cinta yang ia miliki membuktikan ucapan Rani bahwa Jo memang tidak pantas untuk di cintai.
"Apa aku benar-benar tidak boleh mendapatkan rasa sayang dati seseorang yang ku sayangi ?." Ia tersenyum getir.
Selama di reuni baik Jonathan dan Erin hanya menyapa teman lama, bahkan untuk melihat saja Erin seolah menjaga diri dan membatasi. Mereka bertemu saat di parkiran, kebetulan mobil tunangan Erin dan mobilnya Jo bersebelahan tapi kembali mereka hanya diam.
"Erin." Suara Jonathan lirih saat hanya kembali melihat Erin yang masuk kedalam mobil dan pergi. Suasana canggung itu seakan memperlihatkan dengan jelas kalau mereka sekarang sudah seperti orang asing.
*****
"Kenapa dia kembali ?." Pertanyaan Erin saat bersama dengan Rani dan Andika lain hari, mereka duduk di tempat biasa tapi suasananya tidak santai seperti sebelum-sebelumnya. Topik Jonathan yang kembali membuat mereka berfikir keras.
"Apa Jo nggak hubungi kamu Dik pas mau pulang ?." Tanya Rani.
"Pas mau pulang ke Indonesia sih enggak tapi pas udah sampai emang dia nelpon dan kita ketemu tapi gue udah kasih tau ke dia secara nggak langsung kalau kedatangannya nggak kita terima."
Buku menu di hadapan Rani langsung di gunakan untuk memukul Andika hingga merintih kesakitan, rasa kesal dan kecewa di limpahkan kepadanya. "Elo kenapa nggak bilang sebelumnya sih, kan kesel lihat dia di tempat reuni berasa pengin gue bejek-bejek tau nggak."
"Ya sorry, habis bingung caranya kasih tau ke kalian. Sekarang aja ditindas gini."
Mencoba mengalihkan topik agar Andika tidak kembali menjadi sasaran, Andika sebenarnya masih terkejut akan status Erin yang ternyata tunangan orang dan bahkan baru bilang.
"Iya Rin kok aku juga nggak di kasih tau ?." Timpal Rani.
"Maaf sebenarnya niat mau kasih kejutan ke kalian soalnya memang hubungan aku sama mas Raihan nggak ada pacaran, kita cuma sering ketemu bareng di rumah sakit, merasa nyaman dan mas Raihan melamar aku, aku rasa sudah waktunya untuk berkomitmen dan mas Raihan adalah orang baik dan tepat bagiku."
Panjang lebar Erin menjelaskan dengan malu-malu, sekian lama semenjak kepergian Jonathan dan Erin merasakan rasa nyaman lebih dari seorang teman kepada seorang lelaki. Sudah waktunya untuk ia melangkah lebih lanjut dengan tambatan hati menuju ke jenjang serius.
"Iri banget aku tuh sama kamu."
Satu toyoran Andika berikan ke dahi Rani yang terkesan akan jalinan cinta Erin dengan tunangannya. "Ingat iri boleh tapi jangan setipe lagi sama Erin sampai rebutan kayak dulu." Peringat nya.
"Kali ini sih dijamin aku nggak bakal jatuh cinta sama tunangannya Erin, udah kapok." Ujarnya.
Erin termenung mengingat kembali pertemuan dirinya dengan Jonathan dan merasa sangat canggung, rasa sakit akibat di tinggalkan keluar negeri hanya berpamitan lewat pesan masih teringat jelas di benaknya. Tapi jika Jonathan mengungkit kembali masa lalu sejujurnya Erin takut ini akan berdampak kepada hubungannya dengan mas Raihan.
"Rin, Rin ?." Panggil Rani untuk kesekian karena Erin tidak menjawab. "Mikir apa sih ?."
"Aku kepikiran soal Jonathan yang tiba ada di reuni, dan tadi waktu kerja aku dapat telepon dari nomer nggak dikenal, ternyata itu Jo dan dia ngajak aku ketemuan."
"Hiraukan aja dia." Rani begitu sensitif jika membahas soal Jo dan ia begitu tidak suka lelaki itu kembali lagi. "Kita mending pura-pura dia nggak kembali."
"Nggak apa-apa Ran, aku ingin tau apa yang coba dia katakan."
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Lupa Like Dan Komen
Thank You