
Rani menarik tangan Andika dengan keras, mengajaknya ke belakang sekolah setelah sebelumnya melihat ke sekeliling dan memastikan tidak ada orang yang melihat. Setelah sampai di tempat sepi akhirnya Rani melepaskan gangan Andika.
"Kasar banget, kalau mau ngajak mojok bilang aja nggak usah maksa, gue suka rela kok diapain aja."
"Mulut lo tuh hobi ngelantur."
Rani kembali mengawasi dan sekiranya sudah aman kini dia mengatakan apa maksud mengajak Andika kesini. " Gue mau tanya satu hal penting dan elo harus jawab jujur."
"Oke siap, selalu jujur kok gue mah."
"Oke kalau gitu gu mau tanya soal Jonathan yang manggil gue Jihan, siapa itu Jihan ?."
Andika meneguk kembali saliva nya, ia tiba-tiba gatal di kepala. Bingung harus berkata apa karena kenyataan yang akan masalah jika diungkap dan tambah masalah kalau di sembunyikan terus-menerus.
"A-aduh perut gue mules Ran, gue ke kamar mandi dulu ya." Andika ingin melarikan diri karen tidak mampu berbohong dengan Rani tapi saat hendak pergi baju seragamnya menjadi korbans aat di tarik Rani dengb kencang.
"Jangan alasan, jawab gue dulu Dik baru gue lepasin."
Sial, kali ini Andika tidak bisa kabur kemanapun. Bahkan untuk mengelabui Rani saja tidak bisa, maka dengan sangat terpaksa harus bicara yang sebenarnya. Semoga saja setelah ini Jonathan meu mengampuni.
"Jihan dulu mantan pacarnya Jo." Hanya jawaban singkat yang Andika katakan, ia berharap itu cukup untuk membuat Rani kehilangan rasa penasaran, tapi Andika salah dan Rani tetap meminta jawaban yang lebih detil.
"Terus apa hubungannya sama gue sampai Jo nyebut nama Jihan pas manggil gue dua kali, gue mirip sama Jihan ?." Gelengan Rani dapatkan dari Andika.
"Bukan tapi mata elo, gue tau elo pernah operasi mata dan itu mata seseorang bukan mata elo yang asli, dan mata itu milik Jihan makanya tiap Jonathan lihat elo maka dia kayak lihat Jihan."
Pegangan tangan Rani terlepas, kenyataan yang baru saja di dengar seolah petir yang menyambar. Ia kita Jonathan memperlakukan dirinya dengan spesial tapi ternyata hanya karena mata Jihan ada pada dirinya. Sungguh ironi sekali.
Andika langsung pergi, ia takut akan ada masalah besar jika tetap berada disana. Kepergian Andika tidak dis adari oleh Rani begitu juga Erin yang mengikuti dan sembunyi sambil mendengarkan percakapan penting itu.
Jihan dan matanya yang kini berada di dalam tubuh Rani, tentu akan semakin membuat Jo ingat, Erin merasakan hal yang sama. Kecewa karena Jonathan masih memikirkan Jihan dan sepertinya akan sulit lupa.
*****
Hari demi hari berlau hingga ujian sekolah telah mereka lewati, masa tegang telah usai dan beberapa dari mereka yang di nyatakan lulus bahkan sudah bepergian jauh untuk merayakan. Dan masa coret mencoret seragam kini telah tiba, baju Erin masih kosong debgan coretan karena ia asik membaca buku dari pada metusak seragamnya dengan tanda gangab dari teman.
Buku adalah teman baik yang selalu menemani Erin hingga kadang bisa membantunya melupakan masalah karena asik membaca. Tiba-tiba ada seseorang yang datang dan Erin memeriksa dengan menurunkan sedikit buku yang di pegang. Orang itu adalah Jonathan yang akhir-akhir ini coba di hindari tapi malah datang sendiri.
"Erin." Jonathan duduk di sebelah dan nampak seperti serius dari raut wajahnya. "Ada yang mau aku katakan."
"Kalau begitu kau duluan." Ucap Jonathan.
Erin menghembuskan nafas berat dan berdoa sebelum mengatakan, ia merasa janyungnya hampir lompat tapi sebelum itu perasaan ini harus di ungkapkan. "Aku menyukaimu Jonathan, sudah sejak lama."
"Erin a-aku......"
"Tunggu," Rani datang menginterupsi dan berasama Andika yang tidak tau apa yangs edang terjadi. " Ada hal penting yang ingin aku katakan padamu, tolong ikut aku Jo."
"Kenapa mesti pergi, disini aja." Andika berusaha menghentikan langkah Jonathan agar tidak mengikuti Rani.
"Nggak apa-apa Dik." Mereka pergi menjauh dari sana, baik Erin dan Andika mengikiti karena penasaran, memang ini adalah privasi Rani yapi baru saja Erin mengungkapkan perasaan dan takutnya Rani juga melakukan hal yang sama.
Mereka berhenti di bawah pohon rindang tempat mereka sering berkumpul. Sepi karena kebanyakan siswa berada di sekitar kelas saling minta tanda tangan satu sama lain untuk kenang-kenangan.
"Ada apa Rani ?."
"Udah lama Jo aku tau kalau sebenarnya mata ini milik Jihan, dan sebenarnya aku cinta sama kamu Jo. Nggak apa-apa kalau kamu nganggap aku ini Jihan."
Buku yang Erin bawa terjatuh, hingga kehadiran Andika dan Erin di sadari oleh Rani juga Jonathan. Ia berlari pergi setelah mendengar apa yang di takutkan terjadi. Memang Erin sudah tau kalau Rani suka Jo tapi Erin tidak menyangka kalau Rani bahkan sudi di anggap sebagai pengganti Jihan.
"Eriin." Teriakan Jonathan tidak bisa menghentikan Erin yang kian menjauh, ia mengejar Erin dan meninggalkan Rani yang berteriak memanggil namanya. Tapi percuma baik Rani dan Erin hanya akna membuat Jonathan kian bingung memilih.
Jonathan berhenti dan terduduk di lapangan sekolah, bahunya di tepuk Andika dari belakang. Ia mendongak lihat wajah sepupunya tersebut.
"Sekarang aku harus apa ?." Tanya Jonathan.
"Jangan tanya gue, elo harus bisa memutuskan sendiri masalah elo." Ujarnya dan menjauh.
Jonathan memilih untuk pulang ke rumah, ia tidak tau harus apa dan bagaimana, ia takut salah langkah malah akan menyebabkan masalah baru. Baik Erin dan rani adalah gadis baik. Mau apu . keputusan Jonathan pasti salah satu akan tersakiti.
"Ada apa ? Papa lihat akhir-akhir ini kau terlihat kurang baik."
Sudah lama Jonathan tidak bicara dengan papanya tapi, Jonathan bahkan sangat pusing memikirkan hal ini. Mungkin saja dengan mengatakan masalah yang sedang dihadapi maka akan ada jalan untuk Jonathan.
Panjang lebar Jonathan jelaskan kepada papanya awal mula sampai jadi seperti ini, papanya ikut berdikir setelah mendengarkan penjelasan dari Jo. Seakan catur yang tidak bisa bergerak dan hanya bisaberhenti di tempat maka kesimpulan dari papanya Jo untuk penyelesaian masalah ini adalah mundur dulu untuk maju.
"Bagaimana jika kau pergi keluar negeri dulu ?."