When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Perselisihan Erin Dan Rani



Tiba-tiba Rani seolah kehilangan keseimbangan hingga mundur dan hampir terjatuh, ia berlari menjauh dari Erin hingga tidak menghiraukan panggilan dan terus berlari. Sedangkan Erin masih disana dan mencerna apa yang barusan mereka katakan.


"Kenapa harus Jo ? Dan kenapa kami harus mencintai lelaki yang sama ?." Dulu Erin berpegang teguh untuk tidak jatuh cinta dan pacaran saat sekolah agar nilainya tetap stabil dan bagus.


Definisi pacaran untuknya adalah di waktu yang tepat saat nanti ia sudah mulai serius dan mencari tambatan hati untuk sekalian ke jenjang yang lebih matang. Tapi perasaan ini datang sendirinya tanpa di duga dan kecewanya saat ternyata memiliki perasaan pada lelaki yang sama dengan sahabat sendiri.


Erin kembali ke kelas dan saat melihat Rani yang juga melihatnya, tatapan Rani nampak berbeda seperti ada kilatan permusuhan diantara mereka berdua hingga Rani berdiri membawa tas dan menghampiri salah satu teman kelas.


"Sonia gue boleh ya duduk sama elo ?." Selain Erin, Rani juga dekat dengan beberapa teman sekelas yang lain tapi Erin susah dianggap sahabat tapi sekarang sepertinya tidak.


"Terus kalau elo duduk sama sonia gue gimana ?." Tanya Desi yang merupakan teman sebangku Sonia.


"Elo duduk sama Erin dulu ya, gue lagi pengin cari suasana baru, please ya ?." Rani memohon dan mereka saling tatap sebelum menyetujui permintaan itu, ini bukan pertama kalinya ada teman yang sedang bertengkar dan beberapa hari duduk secara terpisah, tapi untuk Rani dan Erin yang semula baik-baik saja dan seperti saudara tentu mereka agak merasa aneh.


Sementara Erin hanya bisa melihat bagaimana Rani duduk di kursi hang lain dan bertukar dengan Desi. Erin memaklumi jika mereka sedang mencintai lelaki yang sama tapi tidak disangka jika ini akan benar-benar membuat hubungan pertemanan keduanya renggang.


"Hai Rin, gue duduk sini ya."


"Iya Des."


Bukan satu atau dua hari lagi mereka berpisah dalam tempat duduk tapi sudah seminggu lamanya dan Andika juga Jonathan hang mengetahui itu merasa harus bertanya setelah sebelumnya hanya diam dan mengamati duku karena mereka pikir akan segera usai pertengkaran ini.


Erin hendak ke perpustakaan untuk mengembalikan buku, ia akan makan di kantin nanti dan menghindari Rani. Tidak enak rasanya jika makan namun merasa canggung saat Rani berada dalam lingkup tempat yang sama.


"Mau kemana ?." Jo yang sebelumnya melihat Erin kini mengejar dan menyamakan langkah, sebelumnya dia dan Andika sudah sepakat untuk menanyakan ini kepada Erin dan Rani.


"Aku mau ke perpustakaan, kamu mau ke sana juga ?."


"Aku, iya."


Setelah mengembalikan buku, Erin juga mengambil buku yang lain. Ia akhir-akhir ini tertarik dengan biologi dan membacanya. Saat duduk bersebelahan dengan Jonathan ia merasa senang.


"Rani nggak di ajak ke perpustakaan ? Atau kamu nitip makanan ke dia ?." Jonathan tidak tau harus bertanya seperti apa tapi ia memilih untuk pura-pura tidak tau dulu jika pertemanan Erin dan Rani sedang renggang meski semua siswa di dalam kelas mereka tau tapi memilih diam hingga ini menjadi rahasia umum.


"Aku nggak nitip apa-apa sama Rani." Jawaban singkat Erin berikan, jujur saja dirinya tidak merasa nyaman saat nama Rani di sebut karena selain mengingatkan bahwa Rani dan dirinya sedang bertengkar juga karena Erin ada rasa cemburu.


"Oh kamu nggak laper ya ? Oh ya minggu ini ayo kita berempat pergi bersama lagi."


Erin spontan menutup bukunya lumayan keras hingga ia menghela nafas berat, dirinya tersenyum kecut saat nama Rani kembali disebut tapi mau di tutupi sampai kapanpun juga akan kelihatan jika mereka bertengkar.


"Aku sama Rani lagi nggak bicara, ada sedikit masalah antara aku sama Rani."


Namun Erin hanya diam memandang Jo dan ia menutup mulutnya dengan rapat karena tidak mungkin memberitahu alasan kenapa bisa bertengkar dengan Rani. "Itu karena kita suka sama kamu Jo, tapi nggak mungkin aku jawab sebenarnya." Ucapnya dalam hati.


"Wajar kan kalau teman kadang berselisih, tapi tenang aja pertemanan kami akan baik-baik saja kok nantinya." Erin tersenyum dan ia beralasan mengembalikan buku itu kembali ke rak buku. Senyumannya luntur saat menjauh dari Jo dan dirinya sendiri tidak yakin atas apa yang baru saja diucapkan.


*****


Di tempat lain tepatnya di kantin, Andika mencoba untuk bertanya kepada Rani dan mendapati gadis itu duduk sendirian makan bakso sambil lihat hp. Ia memesan mie untuk di makan agar Rani tidak curiga ia mengorek informasi, sekaligus untuk mengisi perutnya yang lapar.


"Ran gue duduk sini ya." Andika sudah duduk lebih dulu baru bicara dan ia tidak merasa terganggu dengan tatapan Rani yang merasa terusik ketenangannya saat makan.


Tidak menunggu lama mie pesanan Andika telah matang dan siap di santap. Ia menambahkan saus sebelum di makan dan beberapa menit tenang hanya ada sendok makanan yang menjadi fokus.


"Sendirian aja nih, Erin mana ?."


Rani enggan menjawab dan lebih memilih mengalihkan pertanyaan dengan pertanyaan juga. "Terserah gue sendirian, lha elo juga sendiri Jo mana ?."


"Sabar Dika sabar, ni cewek nggak cuma gemesin di muka tapi juga bikin kesabaran elo teruji." Gumam Andika dalam hati.


"Oh Jonathan males ke kantin katanya, tapi tadi dia nitip batagor sih. Kalau Erin nitip sesuatu nggak ?."


"Nggak." Jawab Rani dengan singkat, padat dan sangat jelas.


Andika harus memutar otak agar Rani bisa diajak bicara dengan enak dan bisa di cari informasi mengapa dengan pertemanan mereka. Tapi nyatanya tidak semudah perkiraan Andika, tau begitu tadi waktu membuat kesepakatan dengan Jo harusnya Andika memilih bertanya ke Erin daripada Rani.


"Lo tau nggak Ran dulu waktu kecil gue bener-bener nggak bisa pelajaran matematika, eh untung ada temen gue yang ngajarin tapi sayang tuh anak udah pindah rumah. Nyesel gue sebelum dia pindah gue sempet ngomong kasar."


Sejenak diam, Andika bercerita sambil melihat reaksi Rani yang berhenti mengunyah kemudian dilanjutkan lagi ceritanya.


"Andai waktu bisa di puter ya, nggak mau gue ngomong kasar lagi dan pasti dia masih jadi temen gue sampai sekarang."


Tiada tanggapan lagi, Rani malah kembali mengunyah makanannya dengan lahap.


"Gue yakin elo sama Erin pasti bakalan...."


Satu butir bakso di tusuk menggunakan garpu dan di tunjuk Andika dengan itu." Sekali lagi elo ngomong, elo bakal sama kayak ni bakso." Ancamnya dan Andika mengurungkan niat untuk bicara, gagal sudah rencana mengorek informasi perselisihan Rani dan Erin.


"Iya deh ampun Ran."