
Sebuah kursi roda yang di dorong oleh Jonathan memasuki tempat pemakaman umum, melewati beberapa makam untuk sampai ke satu makam yang di tuju. Erin memperhatikan sekitar dimana ia mencari nama di setiap nisan yang ada di sana.
Kursi roda Erin berhenti di dorong oleh Jo saat berada di depan makam Raihan yang tanahnya masih basah dan bau harum dari bunga yang di tabur masih terasa. Erin mengeratkan genggamannya dan menutup mana sejenak, ia harus mampu untuk menerima kenyataan meski sulit.
"Jo tolong tinggalkan aku sendiri."
"Tapi Rin aku nggak bisa...."
"Satu jam lagi kau bisa kembali lagi ke sini, aku hanya ingin sendiri saja sebentar."
Jo mengerti dengan benar perasaan Erin saat ini, ia menurut dan pergi dari sana ke tempat dimana ia masih bisa melihat dan memperhatikan Erin dari kejauhan. Dulu dua kali Jo merasa kehilangan orang yang di sayangi dan Jo yakin Tuhan tidak memberikan takdir yang sama tanpa alasan, tentu Jo yakin agar ia dan Erin bisa saling melengkapi dan tau luka masing-masing.
Di tempat Erin berada ia kesulitan saat ingin mengusap nisan Raihan, nama yang terukir disana membuat hatinya sakit sekali, air matanya tak mampu di tahan lagi hingga menetes kian deras, banyak sekali keinginan yang ia mereka wujudkan bersama setelah menikah tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, usia Raihan tidak lama di dunia hingga keinginan itu kini berubah menjadi sebuah angan.
"Kenapa mas Raihan pergi nggak ngajak aku, kita suami istri kan harusnya hidup dan mati bersama tapi kenapa hanya aku yang hidup ?."
Tiada jawaban Erin terus bicara dan mengungkapkan rasa kesal juga sedihnya, Jo masih memperhatikan dari kejauhan Erin menangis tapi Jo memberikan waktu.
"Kita baru sebentar bersama, kenapa mas harus pergi secepat ini."
Kian keras Erin mengatakan keluh kesah dan waktu satu jam yang di bilang hampir habis, tiada kata bosan untuk Jo menunggu, ia mendekat dan mengelus kepala Erin juga berusaha menenangkan Erin.
"Apa kau masih ingin disini ?." Tanya Jonathan untuk memastikan tapi kali ini Jo tidak akan membiarkan Erin sendiri disana.
"Sebentar lagi."
"Baiklah."
Dalam diam mereka berdua memandang makam yang sama, tiada ada suara sampai beberapa tetesan hujan mengenai kulit keduanya, pertanda akan hujan.
"Ayo kita pulang, sebentar lagi hujan."
"Baiklah."
Erin menoleh ke belakang saat kursi rodanya di dorong meninggalkan pemakaman, ia hanya bisa merelakan Raihan yang makamnya mulai di guyur gerimis, terkubur di dalam tanah seorang diri dalam kedinginan. Semua akan seperti itu pada akhirnya hanya saja Erin masih tidak menyangka kini suaminya telah tiada untuk selamanya.
*****
"Bagaimana kondisi Erin tante ?." Jonathan setiap hari tidak lupa untuk bertanya kondisi Erin, waktunya sekarang semakin sedikit saat papanya meminta bantuan mengurus perusahaan dan bunda mengerti akan hal tersebut.
"Erin setiap hari murung dan tidak ada semangat hidup, dokter mengatakan Erin sudah membaik dan besok boleh pulang tapi aku merasa Erin yang dulu masih terjebak dalam rasa penyesalan.
"Ini memang tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa, Erin pasti akan tersenyum lagi suatu hari nanti."
"Iya, sekarang temui dia."
"Bagaimana kondisimu hari ini tuan putri ? Aku bawakan buah." Satu parcel besar berisi buah-buahan segar di taruh Jo, senyumannya mengembang meski di respon dengan wajah datar.
"Kenapa kau datang terus ?."
"Aku akan datang setiap hari sampai kau sembuh."
"Besok aku sudah boleh pulang, itu tandanya aku sudah sembuh dan kau tidak perlu lagi mengunjungi ku."
"Sayangnya bukan luka itu yang ingin ku sembuhkan." Jonathan menghindari tatapan Erin dengan membuka parcel dan mengupas kulit jeruk, ia membersihkan bagian yang putih agar tidak pahit saat di makan dan di berikan kepada Erin.
"Ini makanlah, bu dokter tentu saja tau kalau kandungan vitamin dalam buah sangat bagus bukan ?."
Erin menghembuskan nafas jengkel tapi ia makan jeruk itu, jujur saja terasa manis dan segar. Lumayan untuk menambah gizi daripada harus memakan makanan rumah sakit yang ia akui rasanya hambar.
"Ini makanlah lagi." Jo kembali memberikan buah itu dan Erin memakannya dengan tenang tanpa protes. Jonathan kembali mengupas buah yang lain, kali ini apel dan usai di kupas sebelum di berikan ke Erin tiba-tiba seseorang datang tanpa diundang dan di jemput langsung mengambil begitu saja apel tersebut lalu melahapnya.
"Apaan sih Dik itu buat Erin."
"Minta satu aku lapar dari tadi siang belum makan, kasihani dong."
Mau di minta kembali juga Jonathan tidak akan mau karena sudah di gigit oleh Andika hingga setengah. Meski usia telah bertambah tapi ada masanya mereka masih seperti remaja.
"Ada lagi nggak, masih lapar nih."
"Ada banyak di toko buah, tinggal kasih kertas gambar pak Soekarno sama pak Hatta aja ntar dapat banyak."
Andika tergelitik hingga tertawa, ia duduk di kursi yang ada di sana dan memperhatikan mereka berdua sambil sesekali ngobrol sebelum kedatangan Rani menginterupsi, untung saja wanita itu datang sambil membawa beberapa makanan supaya Andika tidak lagi mengambil buah yang seharusnya untuk Erin.
"Malem banget Ran kesini, aku udah dari tadi." Ujar Andika padahal ia baru 10 menit saja ada di sana tapi baik Jo dan Erin hanya memperhatikan.
"Iya kerjaan banyak, mesti lembur dulu tadi untungnya bisa kelar." Beberapa makanan Rani keluarkan dan ada pula untuk Erin beberapa buah karena Rani tidak tau orang sakit boleh makan apa saja jadi ia hanya membawa beberapa buah yang ia tau boleh di konsumsi Erin.
"Makanan buatku ?." Tanya Andika.
"Nih kan aku baik."
"Iya emang calon istri yang baik deh." Jawab Andika saat menerima makanan.
"Apa ?!." Rani spontan menoleh dan memastikan apa yang baru saja di dengar.
"Nggak apa-apa, itu si Jo baik bantuin habisin makanan kita."
"Nggak kebalik ?." Sindir Jonathan.