
"Tidakkah itu namanya lari dari masalah, aku tidak mau melakukannya karena itu hanya menghindari saja dan bukan perbuatan lelaki sejati."
"Bukan menghindari Jo tapi biarkan waktu yang mendorongmu untuk memilih mana yang harus kau pilih, kalau kau tidak setuju lalu apa jawabanmu untuk sekarang ? Tidak ada kan ?."
Jo tidak ingin pergi tapi di lain sisi ada Erin dan Rani, dua hubungan yang hancur karena adanya Jonathan dan mereka jadi seperti ini juga karena Jonathan. Pergi bukn jalan terbaik tapi untuk saat ini lebih baik dari pada tetap tinggal dan tambah mengacaukan segala hal.
"Baiklah aku akan pergi."
"Kalau begitu kemasi barang mu, besok pagi kau akan pergi."
Jonathan mengangguk dan mengambil koper besar yang berada di kamarnya, diisi dengan baju dan beberapa barang yang di perlukan karena ia tidak tau akan sampai kapan pergi. Teringat Andika yang selalu menemani saat dirinya di Jakarta, tidak adil jika merahasiakan kepergiannya kepada Andika.
Pesan singkat Jonathan kirimkan dan tak menunggu waktu lama sebuah taxi berhenti di depn rumah, Andika langsung masuk begitu saja tanpa permisi menemui Jonathan yang masih memilah mana yang hendak di bawa.
"Jangan lari elo, masak elo mau lari dari masalah." Ujarnya dengan nada keras, seperti yang Jonathan duga bahwa sepupunya tersebut pun tak setuju dengan keputusan diambil.
"Terus gue harus bagaimana ? Mau gue milih Erin atau Rani pasti salah satu ada yang tersakiti dan gue nggak mau mereka tambah bertengkar, mereka usah lama temenan dan hancur dalam sekejap gara-gara gue, gue mesti gimana Dika ?."
Bingung tentu saja, memilih antara A dan B tentu seperti Andika mwmihak salah satu dari mereka. "Bukannya elo dulu suka sama Erin ? Atau elo suka sama Rani sekarang ?."
Jonathan berhenti memasukkan barang di kopernya, ia duduk di sebelah Andika di atas tempat tidur dan memegnag kepalanya yang terasa sakit memikirkan ini. "Gue nggak tau mungkin gue hanya penasaran sana Erin dan mungkin gue liht Rani sebagai sosok Jihan atau malah gue suka sama mereka berdua, gue nggak tau."
Bagai benang kusut gang sulit di urai, Andika ingin sekali menonjol Jonathan setelah lelaki itu mengatakan suka kedua gadis tapi juga bingung ataukan itu hanya rasa penasaran. Kemarahan bercampur rasa iba, tidak ada yang bisa Andika katakan atau beri nasihat kepada Jo untuk kali ini. Memang sepertinya lelaki itu harus pergi lebih dulu.
"Gue hargai keputusan elo untuk pergi, dan gue harap elo jangan kembali sebelum elo buat keputusan yang baik untuk kedua temen kita, sorry gue nggak bisa antar elo ke bandara." Andika pergi dengan rasa kecewa.
*****
Jonathan mengirimkan pesan untuk Erin dan Rani, berpamitan karena ia harus pergi dan sengaja di beritahukan secara mendadak. Dengan cepat beberapa pesan balasan ia terima tapi hanya di baca tapi tidak di balas kembali.
"Sorry gue buat kalian jadi kayak gini."
Panggilan penerbangan Jonathan mengharuskan lelaki itu untuk segera masuk kedalam pesawat, London menjadi tujuan Jonathan untuk pergi dari masalah sekaligus meneruskan pendidikan. Ia harap sekembalinya Jonathan masalah akan mudah di selesaikan.
Berpisah untuk mencari ke segala tempat, Erin dan Rani bertemu kembali dan kedua tangan mereka di pegng oleh Andika yang baru saja datang. Firasat bahwa kedua gadis itu akan datang untuk mencegah Jonathan pergi nyatanya benar dan sungguh keterlaluan Jonathan meninggalkan keduanya hanya dengan sebuah pesan.
"Nggak usah di cari, Jo udah pergi. Kalian mempertaruhkan persahabatan demi cowok kayak Jo ? Nggak malu, nggak nyesel ?."
"Kok elo ngomong gitu, Jo kan temen sekaligus sepupu elo sendiri Dik ?." Tanya Rani.
"Gue tau tapi kali ini gue kecewa sama Jo, dia nggak pantes kalian dapatkan dengan mempertaruhkan persahabatan, kali ini lupakan Jonathan dan kalau emang dia suka sama salah satu diantara kalian harusnya dia balik kesini."
Erin dan Rani terdiam saling melihat kemudian tertunduk malu, sudah lama persahabatan di jalani seperti saudara sendiri. Lalu kemudian Jonathan datang dan mereka musuhan. Tentu mereka merasa malu bahkan untuk mendapat jawaban dari Jonathan saja tidak dan itu memang tidak layk untuk di tukar dengan persahabatan.
"Maafin aku Rin."
"Aku juga minta maaf Rani."
Andika lega akhirnya kedua gadis itu berbaikan, sepenunggal Jonathan Andika enggan untuk memberitahu bahwa Erin dan Rai berbaikan. Biarlah Jonathan menganggap mereka masih bertengkar dan memperebutkannya toh ini semua salah Jonathan dan Jo harus membayar semua kesalahannya.
Baik Erin, Rani dan Andika mencoba menjalani kehidupan seperti sebelumnya dimana mereka memilih dan daftar di salah satu universitas. Erin dan Rani harus terpisah karena berada dalam kampus yang berbeda sedangkan Andika berada di salah satu kampus di Jogjakarta untuk mengikuti keinginan mamanya agar dirinya lebih pintar.
"Kalau libur kita ketemuan gimana ?." Usul Andika sebelum ia berangkat ke Jogjakarta menggunakan transportasi udara dan di antar Erin juga Rani.
"Boleh, pasti aku bakal rindu kalian." Timpa Erin.
"Elo gimana Ran, bakal kangen gue nggak, jangan kangen gue ya karena kangen itu berat biar gue aja yang tanggung."
Andika hanya mendapat balasan acuh dari Rani, panggilan untuk penerbangan Andika membuatnya berpisah. Dengan menyeret koper ia pergi sambil melambaikan tangan untuk melanjutkan pendidikan demi meraih keinginan dan cita-cita.
"Selanjutnya kita juga semangat kuliah, perpisahan nggak akan ada artinya kalau kita masih memegang erat persahabatan ini, semangat untuk cita-cita kita."
"Iya Rin aku juga akan semangat, aku akan buktikan bisa menjadi orang yang berguna untuk diri sendiri dan orang lain, ayo kita semua semangat di kampus masing-masing."
...Kelulusan Bukan Akhir Tapi Awal Baru Menyongsong Masa Depan Yang Kita Inginkan...