When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Hamil



"Huek huek." Erin muntah sudah kali ke berapa ia lupa karena terlalu sering akhir-akhir ini dan ia merasa seperti gejala orang hamil tapi belum bisa di pastikan karena jadwal datang bulannya untuk bulan ini memang belum saatnya.


Kemeja berwarna putih itu ia lepas dan meminta suster untuk memberitahu pasien lain agar sabar menunggu. Kepala pusingnya menghambat pekerjaan dan ia juga tengah menanti hasil testpack yang di coba beberapa menit yang lalu.


"Bismilah semoga memang hamil." Erin tidak berani membuka matanya karena takut gagal dan negatif hamil. Saat hendak melihatnya tiba-tiba seorang pasien nyelonong masuk kedalam.


"Maaf dok saya sudah bilang tapi ibu ini memaksa masuk."


"Tidak apa-apa, ibu ada keluhan apa ?." Erin memasukkan testpack itu sementara sampai nanti ada waktu untuk melihatnya. Untung saja kepalnya yang pusing berangsur membaik juga rasa mual yang kian menghilang.


Semakin malam dan pasien kian sedikit, Jonathan sudah mengabari akan menjemput setelah Erin selesai praktek. Waktu menunjukkan pukul 9 malam dan ia sadar belum makan malam sejak tadi. Tidak hanya dirinya suster yang bekerja bersama juga sudah ganti shift, kini waktunya Erin untuk pulang.


"Sudah makan ?." Jonathan langsung masuk ke ruangan setelah mengetuk pintu dan memastikan Erin tidak sedang memeriksa pasien. Memiliki istri seorang dokter ada kebahagian sendiri tapi di lain sisi Jo harus mengalah pada jadwal Erin yang kadang tidak mengenal waktu untuk mengabdi dan menyembuhkan pasien.


"Belum, aku lapar kita nanti mampir ke tempat makan apa ke kantin rumah sakit?."


"Kenapa jam segini masih belum makan ? Apa karena kau dokter makannya bisa seenaknya tidak makan , ya sudah aku akan membelikan mu makan di kantin, kau mau makan apa ?."


"Apa saja yang kau belikan pasti akan ku makan." Jonathan berlalu ke lantai bawah mencari kantin, ia tidak kesulitan karena beberapa kali ke sini sebelumnya.


Di lain sisi Erin ingin merapikan barang agar nanti saat setelah makan mereka bisa langsung pulang dan Jo tidak lama menunggunya lagi. Baru teringat sejak tadi siang Erin tidak ada waktu untuk melihat tespack yang di beli dan di gunakan.


"Benarkah ini ?." Tiba-tiba ia lupa bahwa dirinya adalah seorang dokter saat melihat hasil testpack yang bergaris dua pada 3 tespack tersebut. Jika hanya satu yang bergaris dua maka Erin akan meragukan tali ini ada tiga sekaligus maka harusnya hasil ini cukup akurat.


"Sayang aku belikan kau banyak makanan, makanlah yang banyak."


Erin melihat Jonathan lalu sudut matanya berair hingga menangis karena bahagia, tidak butuh waktu lama bagi keduanya untuk memiliki keturunan dan Erin memeluk Jo tanpa mengatakan apapun.


"Sayang ada apa ? Apa ada masalah ?." Beberapa bungkusan plastik itu di jatuhkan tanpa peduli, Jo melepaskan pelukan Erin dengan panik dan mencoba mencari jawaban.


Tiga kata itu membuat Jo membeku, antara bahagia dan terkejut menjadi satu setelah ia kira akan lama mendapatkan anak karena jadwal keduanya yang lumayan padat. Nyatanya Tuhan berkata lain bahkan untuk usia pernikahan mereka yang baru tiga bulan langsung di beri keturunan.


"Aku akan menjadi ayah dan kau akan menjadi ibu."


"Iya benar kita akan menjadi orangtua." Kebahagiaan Erin menghilangkan rasa lapar yang sedari tadi melanda. Ia terlalu senang bahkan seperti orang bodoh yang meragukan hasilnya.


Pantas saja ia kerap kali mual, muntah dan pusing juga menginginkan sesuatu yang kadang tak lazim akhirnya terjawab sudah alasan Erin untuk itu dan meski berat tapi semuanya sebanding. Mulai hari ini ia akan lebih berhati-hati dan sekarang yang utama adalah mengisi perut karena bunyi dari perutnya yang kosong membuatnya harus melepas pelukannya Jo.


"Si kecil sepertinya lapar, makanlah akan ku temani." Dengan lahap Erin memakannya tanpa ada protes apapun, rasa cinta yang Jonathan berikan lewat makanan membuat makanan itu terasa lebih nikmat dari sebelumnya.


"Makannya akhir-akhir ini kau meminta aneh-aneh." Ujar Jonathan.


"Bukan aku yang mau tapi anak kita, benar kan sayang ?." Perut Erin yabg masih rata di elis dengan pelan, sekarang ada kehidupan di dalam rahimnya jadi Erin harus ekstra memikirkan sumber nutrisi yang baik. Ia yakin ilmu yang selama ini di pelajari akan berguna selama kehamilannya sampai melahirkan.


"Iya bayi kita yang mau, kalau ibunya mau sesuatu juga ayah akan mengabulkannya apapun itu ?."


"Benarkah termasuk kalau aku mau kau belikan istana ?."


"Kalau itu aku yakin kau yang mau."


Mereka berdua tertawa sampai habis makanannya dan kembali pulang, saat itu rumah sakit sudah sepi karena pasien yang rawat inap sedang tidur. Jonathan memegang tangan Erin agar berhati-hati dalam melangkah mengingat sekarang sedang hamil.


"Kau tau di rumah sakit ini banyak penunggunya ?". Jonathan tidak bisa menahan diri saat melihat Erin yang takut dan malah tambah menakuti. Dikira menjadi dokter akan membuat semua dokter menjadi pemberani nyatanya tidak semuanya dan Erin salah satu pengecualian itu.


"Aku tau bahkan bukan rumah sakit ini saja tapi semua rumah sakit, kau tidak usah juga mengingatkan begitu kan aku jadi takut ."


"Baiklah-baiklah." Setelah mereka di rumah barulah Erin merasa lega karena sampai dengan selamat.