
Meski terlihat aneh dan begitu membingungkan gapi Erin menepis semua kemungkinan yang di rasa saat ini. Hanya kata 'tidak mungkin' yang terus diucapkan untuk meyakinkan diri sendiri. Erin mengajak Andika untuk menghampiri mereka berdua dan kegembiraan tadi tiba-tiba senyap berganti rasa canggung.
"Main basket nggak ajak kita." Andika terlebih dahulu membuka suaranya untuk mengusir kecanggungan yang ada dan ternyata tetap tidak berhasil untuk Jo dan Erin yang saling beradu pandang tapi hanya diam saja.
"Kalian kan lagi sibuk." Pandangan mata Jo tertuju kepada Erin dengan tatapan tajam seolah menusuk hingga dalam, semua ungkapan hati tidak di katakan dan hanya di pendam tapi tatapan itu sudah mewakili semuanya.
Andika menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena situasi canggung ini dan hanya Rani yang sepertinya tidak tau. Tapi kedekatan keduanya membuat Andika cukup terkejut karena yang ia kira mereka tidak sedekat itu.
Namun bukan hanya Rani dan Jo, persoalan Erin adalah awal mula dari semua ini. Jika daja Andika bisa bertanya langsung sekarang dan Erin ternyata tidak dekat dengan ketua OSIS itu mungkin kesalahpahaman ini bisa di selesaikan tapi berbanding terbalik jika kebenarannya berbeda.
"Haus ni Rin kekantin yuk, lo juga Jo ntar gue traktir." Dengan tatapan malas Rani melihat Andika, tidak enak juga meninggalkan Andika sendiri." Lo juga ayo gue traktir semuanya."
Tanpa ada perlawanan dari siapapun mereka ikut Rani berada di kantin dengan suasana nampak canggung. Dan rasa penasaran Rani akan situasi yang tidak ia mengerti membuatnya kebingungan.
"Kalian kenapasih ? Lagi PMS semua apa gimana, diem mulu daritadi ?." Rani menyedot jus mangga favoritnya dan tinggal setengah, mengedarkan pandangan dimana hanya saling melihat ke arah lain. "Tadi kemana Rin, dicariin nggak ada ?."
Erin merasa tersentak dari lamunannya, ia tadi masih terbayang wajah Wisnu yang menyatakn cinta dan sampai sekarang tidak enak hati. Melihat Jonathan dengan yang menatapnya tajam ia bahkan lebih tak enak hati lagi. Mungkin lebih baik Erin jujur.
"Aku tadi di tembak Wisnu."
Klontang
Suara sendok terjatuh tapi di hiraukan saja dan semua mata tertuju pada Erin, beragam pertanyaan ingin di lontarkan semua yang duduk di meja itu tapi berusaha tidak terlalu membebani Erin hingga di tahan.
"Kapan ? Hari ini ? Kok bisa." Dan Rani tidak bisa membendung banyaknya pertanyaan tersebut, apa yang selama ini Rani ketahui tentang Erin nyatanya tidak sebanyak yang ia kira padahal Erin sudah ia anggap sahabat hingga seperti saudara tapi ternyata Rani masih belum tau apapun tentang Erin.
"Ini tadi." Jawabnya singkat, tatapan mata tertuju lada Jonathan dan ia kecewa saat lelaki itu memalingkan muka seolah tidak peduli.
"Terus jawab apa ?." Kali ini Andika bertanya dan ia berharap bahwa Erin menolak, sekalian saja bertanya disini mumpung Jo ada juga agar sama-sama mendengarkan. Melihat wajah Jonathan yang nampak di tekuk bisa di simpulkan jika Erin sudah sangat mengecewakan Jonathan.
"Huh udah aku kira." Rani dan Andika menghembuskan nafas lega, seketika Andika menyenggol bahu Jonathan lumayan keras hingga wajah lelaki itu nampak kesal, dengan tersirat Andika mengatakan bahwa semua masih baik-baik saja.
"Kenapa emangnya saumpama aku jadian sama Wisnu ?." Pertanyaan kini di lontarkan kepada semua, ia hanya ingin tau alasan yang lebih jelas. Mungkinkah jika bersama dengan Wisnu hanya akan berdampak tidak baik atau memang mereka kurang suka.
"Ya nggak kenapa-napa sih." Rani melihat Andika yang tadi juga nampak lega setelah tau Erin menolak, mungkin Andika punya jawaban yang lebih pasti. " Kalau elo Dik, kenapa ?."
Andika melirik Jo yang nampak fokus dengan makanan yang di makan padahal sudah hampir habis dan ia tidak mungkin menjawab karena telah pro dan ingin menjodohkan Erin dengan Jonathan.
"Menurut gue Erin pantes dapat yang lebih baik dari Wisnu tapi gue rasa tuh cowok gercep juga, salut gue." Sindiran tanpa melihat di tunjukkan Andika meski tidak mendapat reapon tapi ia yakin Jo menyadari hal itu secara Andika memberikan support jika memang Jo dan Erin bersama.
Tapi meski Jo hanya diam, Andika yakin kekeliruan ini telah usai dan kemudian akan kembali normal seperti biasa.
*****
Beberapa siswa menguap saat pelajaran sejarah di jelaskan dan bahkan ada yang enggan untuk mendengarkan. Satu menguap maka yang lain terturar hingga membuat guru sejarah yang menyadari hal tersebut agak marah dan merasa tersinggung.
Ia memutar otak agar anak muridnya mau belajar dan berfikir bukan hanya mendebgarkan saja dan mengantuk seperti di dongeni untuk terlelap. Keaktifan diuji dan juga sampai sejauh mana mereka mengerti.
"Ibu akan memberikan soal tentang sejarah Indonesia dan proklamasi, kelas akan di bagi ke beberapa kelompok......"
Andika, Jonathan, Erin san Rani saling melihat satu sama lain. Tidak perlu susah payah karena mereka sudah tau akan satu kelompok dengan siapa.
Berbeda dengan lainnya yang langsung berbisik untuk mencari anggota yang kurang.
Lagi bu guru melanjutkan, " Diam dulu semua dan tiap kelompok berjumlah tiga orang."
"WHAT..."