
Notifikasi hp berbunyi, hp yang berada di saku celananya di ambil tapi sebelum sempat melihat isi pesan, terlebih dulu bola basket hendak mengenainya jika ia tak berhasil menangkap. Satu tangannya memegang bola sedangkan yang lain memegang hp. Terlihat Jo cukup ahli dan waspada.
"Elo anak baru kan ? Ayo main." Diam sejenak hingga Andika datang dan tidak tau mereka sedang bicara apa pada sepupunya tersebut.
"Ada apa, jan pada kelahi ya gue aduin nanti." Ia menunjuk memberi peringatan, sebelumnya omnya yang sekaligus ayahnya Jo telah berpesan agar Jo tidak membuat masalah di sekolah dan Andika harus mengawasi.
"Jangan kayak banci." Ucap salah seorang lelaki yang menantang Jo tersebut, sayang kata yang baru saja terlontar nampaknya menyulut emosi Jo hingga menerima, ia ingin melawan toh ini bukan jalan kekerasan hanya bermain basket sebentar.
"Jo jangan gegabah." Andika menghadang tapi dihiraukan oleh Jonathan hingga menerima tantangan. Mereka berada di lapangan basket dan orang-orang sekitar memperhatikan karena yang menantang Jonathan adalah pemain basket unggul sekolah sedangkan Jonathan adalah anak baru yang viral dalam sekolahan.
"Pasti seru nih." Salah seorang gadis dari kelas yang sama dengan pemain basket tersebut berkomentar dan kebetulan terdengar oleh Erin dan juga Rani, merasa penasaran akan kehebohan apa yang terjadi.
"Ada apa ?." Rani bertanya setelah sebelumnya melihat Jonathan dan Andika yang berada di lapangan dengan di tonton oleh hampir seluruh siswa sekolah.
"Pemain basket sekolah kita versus anak baru yang yang ganteng itu, pasti seru."
Erin dan Rani memperhatikan tapi tangan Erin tidak diam, ia meremas jemarinya dengan spontan dan tidak sadar sembari melihat jika hanya bermain basket bukan adu fisik dengan kekerasan.
Sementara yang di tonton malah menyunggingkan sebelah senyumnya, ia merasa tertantang dengan orang yang katanya anak baru dan incaran para gadis populer di sekolah. Akan di buktikan jika lelaki di hadapannya hanya bermodalkan ketampanan tapi selain itu tidak ada yang di banggakan. "Kalau mau mundur silahkan, sebelum terlambat."
"Jangan terlalu meremehkan seseorang sebelum kau malu." Ucap Jonathan.
Andika ikut berada di sana, ia ingin menyeret Jonathan keluar dari lapangan tapi tapi melihat Jo yang nampak serius rasanya tidak mungkin. Dan dua melawan satu pasti akan sulit untuk menang, maka untuk itulah ia akan membantu, sialnya para siswa malah menonton dan mengabadikan lewat vidio.
"Lo nggak pergi ?." Bisik Jonathan kepada Andika di sebelahnya.
"Udah terlanjur nyebur basah sekalian, kalau elo hadapin mereka sendiri nanti cepet kalah, terima kasih lo sama gue ntar." Ujarnya.
Permainan di mulai bola basket di kuasai tim lawan, Andika menyerbu daan permainan semakin panas. Teriknya matahari membakar mereka berempat di lapangan, keringat bercucuran. Selisih angka yang dekat membuat mereka berempat bertekat akan memenangkan permainan ini.
Cukup lama mereka bermain dan semakin panas, rasa lelah menghampiri dan permainan di detik terakhir menangkan oleh Andika dan Jo. Lawan tidak terima dan enggan saat Jo mengajak salaman tapi permainan berakhir dan mau tidak mau hanya ada satu pemenang.
"Gila capek banget." Seru Andika dan lemparan air mineral dingin ia tangkap secara tiba-tiba. Mencari sumber pelempar ternyata adalah Rani dan Erin yann mendekat setelah semua para penonton pergi.
Erin memberikannya secara langsung kepada Jo juga sapu tangan untuk mengelap keringat, wajah kedua sepupu itu nampak kemerahan di terpa sinar matahari yang terik. "Kalian suka ya sama tantangan, kalau kalian yang kalah tadi gimana ?."
"Kalah ya kalah aja harus terima, nggak gimana-gimana." Katanya.
"Video kalian main basket udah di rekam tadi dan viral, siap-siap aja kalian jadi selebriti sekolah." Kini giliran Rani berkomentar.
Andika yang tidak mengerti maksud Rani hanya bisa tersenyum, padahal setiap hal ada baik buruknya dan bagi Rani akan menjadi masalah jika mereka terlalu terkenal.
"Terserah deh." Rani menuju kelas, ia meninggalkan mereka bertiga dan mereka menyusul Rani untuk secepatnya masuk sebelum guru mengajar.
******
Di bawah pohon rindang yang banyak di takuti oleh para siswa, Jo malah merasa nyaman dis ana dan akan beristirahat disana sambil memakan makanan yang sebelumnya telah di bungkus dari kantin.
Ternyata ia telah keduluan seseorang dan orang itu adalah Erin sendiri yang merupakan teman sekelasnya. Seperti biasa gadis itu tidak bisa jauh dari buku.
"Ini tempatku, kau harus izin jika ingin duduk disini." Jo tersenyum begitu juga Erin yang menyadari itu buka serius dan hanya lelucon semata.
"Berapa yang harus ku bayar, sepertinya mahal karena tempat ini terlalu nyaman."
"Kau tidak takut ada penunggu pohon yang akan membuatmu merinding dan ketakutan ?." Ujar Jonathan sambil duduk si depan Erin, mencari tempat ternyaman sambil membuka tutup minuman kaleng.
"Satu-satunya penunggu pohon ini kan cuma kau."
Dan mereka tertawa, Jo melihat kali ini Erin tidak membaca buku tentang pelajaran tapi novel dari salah satu series penulis kenamaan.
"Kau membaca buku ini juga ternyata."
"Kau juga suka ?." Erin menatap tidak percaya bahwa mereka membaca buku yang sama dan mungkin selera mereka yang lain jga sama.
"Iya aku tidak suka bagian pertengahan, karakter utamanya pergi dan kembali dengan tokoh baru, terlalu tidak adil." Jo berkomentar akan buku yang telah ia baca tapi tidak sampai pada bagian akhir, hanya berhenti di pertengahan karena jalan ceritanya tidak ia sukai.
"Kau tenang saja, mereka akan bersama di akhir, aku sudah membaca buku ini yang ketiga kalinya dan jika aku sudah selesai akan jadi yang ke empat kali, aku tidak menyangka kalau seorang Jonathan akan membaca buku genre romance."
Jo tertawa sumbang, ia melihat Erin dengan sendu meski bibirnya tersenyum. "Ini buku terakhir yang ibuku baca sebelum meninggal, aku penasaran buku apa yang ia suka baca, tapi setelah membacanya di pertengahan aku merasa jalan ceritanya kurang lebih sama dengan nasibku, di tinggal seseorang terdekat tapi bedanya, aku untuk selamanya."
"Kau tau setiap buku pasti tidak akan selalu indah di awal atau pertengahan tapi siapa tau bahagianya ada di akhir, tapi untuk dunia nyata akan selalu ada kebahagian meski hanya sebentar atau lama waktu terlalu banyak kesedihan dahulu." Erin memegang bahu Jonathan, ia seolah memberikan kekuatan agar bisa menghadapi hidup tanpa membandingkan dengan dunia novel.
"Ayahku meninggal saat aku lulus sekolah dasar, saat itu aku merasa ingin ikut mati saja, tapi kesedihan ibuku membuatku sadar bahwa bukan aku saja yang merasa sedih tapi orang lain juga, saat itu ibuku berusaha bangkit sendiri dan aku rasa aku juga harus bisa karena ibuku lebih lama hidup dengan ayah, jadi kesedihan ibu pasti lebih besar dariku."
"Kau tau saat aku bercerita tentang ibuku yang meninggal biasanya semua akan menatap iba dan aku tidak suka tatapan itu karena aku merasa dikasihani padahal itu tidak perlu jadi aku tidak mau membicarakannya, aku senang bisa bicara denganmu."
"Sepertinya hidup kita kurang lebih sama, aku juga lebih suka di berikan semangat daripada di tetap dengan tatapan iba dan kasihan."