
Keraguan masih ada dalam benak Erin, ia ingin menyelesaikan semua yang terjadi di masa lalu dengan Jonathan dan segera bertemu dengan lelaki itu tapi di lain sisi Erin masih belum siap untuk hanya bicara berdua saja.
Ia akui cukup dalam rasa sayang untuk Jonathan dulu sampai ia dan Rani berebut hatinya, tapi jika dipikir lagi seperti dua orang konyol yang mempertaruhkan persahabatan demi cinta yang bahkan tidak di dapat.
Satu minggu, dua minggu sampai satu bulan barulah Erin menyetujui dan memberikan jadwal resmi kapan mereka ketemuan, untuk status Erin yang saat ini adalah tunangan mas Raihan tentu saja Erin meminta izin agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan di kemudian hari.
"Maaf aku terlambat." Erin melepas mantel dan tas yang di kenakan, duduk di hadapan Jonathan setelah sekian lama, ada rasa gugup yang disembunyikan Erin butuh keberanian untuk menatap mata lelaki yang dulu pernah jadi cinta pertamanya.
"Tidak apa-apa aku juga baru sampai, mau pesan apa ?." Jonathan memanggil pelayan untuk mencatat pesanan dan menanyakan Erin ingin memesan apa, setelah pelayan pergi kembali perasaan canggung itu datang.
"Aku mendengar kau telah jadi dokter sekarang, selamat kau memang pandai dari dulu jadi pasti mudah bagimu untuk sampai di titik ini."
"Tidak juga, masalah selalu ada tapi Alhamdulillah aku bisa melewatinya." Minuman datang dan Erin menyedot langsung karena haus, ia enggan memesan makanan karena hanya akan menambah lama berada dengan Jo.
"Aku terkejut kau tau nomer teleponku tapi itu bukan masalah utama, tujuanku datang adalah ingin tau apa yang mau kau katakan karena kau bilang ini penting."
Jonathan meletakkan gelasnya di meja, ia mulai serius saat Erin terlihat tidak sabar padahal sebenarnya Jonathan ingin bisa mengenang masa lalu saat SMA tentu hal yang baik saja yang diingat tapi Jo harus sadar bahwa ia punya salah dan harus minta maaf lebih dulu.
"Waktu itu aku terkejut karena kau dan Rani tiba-tiba bilang cinta, aku tidak tau harus apa sampai aku ke memilih ke luar negri tapi apa kau ingat dulu aku ingin mengatakan sesuatu padamu ?".
Erin mencoba mengingat dulu, tidak mudah karena itu beberapa tahun yang lalu tapi sedikit ia ingat memang dulu ia dan Jo akan mengatakan hal penting tapi Jo menyuruhnya lebih dulu. "Iya aku ingat." Jawabnya.
"Waktu itu sebenarnya aku juga ingin bilang kalau aku mencintaimu, tapi kedatangan Rani yang tiba-tiba bilang cinta membuatku bingung karena dia pasti akan sedih dan terluka. Aku tidak mau siapapun terluka makanya......"
"Justru keputusanmu untuk keluar negeri tanpa memberikan kepastian kepada siapapun memberikan luka kepada kami, kau datang kembali dan bilang hal ini seperti membuka luka lama Jo, maaf aku harus pergi."
Raut wajah Erin nampak gelisah dan bingung ia mengambil mantel dan tasnya, suara Jonathan yang memanggil semakin keras tidak membuatnya berhenti, taxi yang lewat langsung dihentikan dan ia masuk.
Tanpa sadar air matanya menetes kian deras, Erin sendiri tidak mengapa ia sangat emosional ketika bertemu Jo lagi.
"Kita kemana neng ?." Tanya supir taxi untuk yang ke sekian kali.
"Kita jalan dulu aja pak nanti saya beritahu." Ujarnya, harusnya Erin kembali ke rumah sakit tapi dengan kondisi yang masih sedih bahkan air mata yang kian deras tentu ia tidak bisa memperlihatkan ini kepada pasien maupun mas Raihan.
*****
Setelah berhenti menangis dan merasa lebih baik, Erin kembali ke rumah sakit. Antrian dari pasien membuat hari ini lebih melelahkan di tambah kata-kata Jonathan yang selalu terlintas. Banyak pertanyaan yang muncul di benak Erin dan ini semua karena Jo.
Pintu di ketuk saat malam tiba bahkan ini sudah benar-benar larut, pintu ruang kerja Erin di ketuk lalu mas Raihan masuk setelah Erin menyuruhnya. Senyuman lelaki itu seolah menghilangkan rasa lelah di benak Erin, calon imamnya.
"Keu terlihat lelah, aku khawatir kita tidak bisa mempersiapkan pernikahan nanti kalau jatuh sakit."
"Baiklah besok akan ku jemput jam 8."
"Iya."
Keesokan paginya Erin merasa masih pegal dan lemas tapi ia yakin akan baik-baik saja, vitamin dan sarapan sudah di makan. Siap berangkat saat mas Raihan telah tiba, suara mobilnya sudah sampai didepan rumah dan Erin mengambil tas untuk bersiap.
"Raihan nanti tawari sarapan dulu Rin." Ujar Bunda yang senang akhirnya anak semata wayangnya sudah punya calon pendamping.
"Iya bunda."
"Tidak usah bun, aku sudah sarapan." Raihan langsung masuk seperti biasa, ia mencium tangan bunda yang sudah dianggap seperti orangtuanya sendiri begitu sebaliknya. Tidak ada rasa canggung untuk calon menantu dan mertua tersebut.
"Kami berangkat ya bun, ngejar waktu soalnya hari ini harus sudah selesai karena besok harus kerja lagi."
"Iya hati-hati."
Mobil menjauh membelah kota yang padat akan penduduk dan kendaraan, hari ini rencananya mereka akan memesan undangan dan baju pernikahan juga dekor dan lainnya. Tanggal sudah di tentukan kurang lebih 4 bulan akan resmi menyandang status suami istri.
"Hari ini kita akan kemana dulu ?." Tanya Erin saat mereka masih di perjalanan.
"Kita pesan undangan dulu, baru ke butik ya."
Setelah setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai. Disana ada beragam undangan yang di perlihatkan contohnya. Dari mulai yang sederhana sampai paling unik. Dengan berbagai harga yang pasti sesuai dengan hasil.
"Pilih mana bagus semua ?." Ada beberapa contoh undangan yang Erin pegang begitu juga dengan mas Raihan.
"Yang ini juga ini bagus." Dua undangan dengan warna merah dan ungu menjadi pilihan tapi untuk pastinya mereka masih ragu. "Menurutmu bagaimana ?."
"Iya bagus, tapi aku lebih suka yang maroon, modelnya unik dan klasik."
"Kalau begitu kita pilih yang ini."
Setelah selesai memilih undangan mereka mendatangi salah satu butik di kawasan pusat kota, butik dengan perancang yang sedang naik daun itu menjadi pilihan mamanya mas Raihan agar mereka membuat baju pengantin di sana.
Kebaya jadi berwarna putih dengan jas sama warnanya di pilih. Erin memberikan beberapa tambahan untuk detail yang diinginkan, tidak terlalu mewah tapi terlihat elegan dan anggun sesuai dengan gaya Erin yang ia inginkan sejak lama.
Tidak sampai di situ mereka juga menyiapkan yang lain selagi masih ada waktu, kesibukan keduanya sebagai dokter membuat mereka hanya punya sedikit waktu tapi masih cukup untuk memesan dan memastikan semua siap sampai hari pernikahan yang di tunggu tiba.