
7 Tahun Berlalu
Erin sekarang telah menjadi dokter disalah satu rumah sakit swasta di salah satu kota di Jakarta sedangkan Rani menjadi auditor di perusahaan besar yang kantornya saling berhadapan dengan kantor milik Andika.
Lelaki yang biasa mendapat nilai buruk itu tiada yang akan menyangka bahwa berhasil menjadi pengacara seperti yang di minta orangtuanya. Berbekal kerja keras pantang menyerah, memperbaiki nilai dan kepintarannya yang terus menerus di asah, ia mampu untuk berjejer dengan pengacara hebat lainnya.
Saat ini mereka sedang berkumpul, jadwal padat yang tidak bisa di perkirakan nyatanya membuat mereka bertiga sulit berkumpul, apalagi Rani dan Andika meski kantornya tepat berhadapan tapi siapa sangka bahwa hampir tidak pernah mereka berpapasan.
"Udah lama banget kita nggak kumpul, kangen sama kalian."
"Kan yang paling susah jadwalnya buat kumpul kamu Rin, bu dokter mah kayaknya nggak ada jam istirahat." Rani mengaduk minumannya setelah itu di minum hingga habis seperempat, ia lapar karena terlalu banyak berpikir membuat perutnya cepat kosong.
"Kayaknya nggak di bolehin sakit juga." Timpal Andika.
"Dokter juga manusia Dik, nggak mungkin nggak sakit."
Makanan datang sesuai pesanan masing-masing dan Erin mengeluarkan HP, banyak sekali pesan yang ia belum balas. Baik dari pasien online maupun yang lain termasuk juga dari kehidupan pribadinya.
"Eh sekolah kita kapan kumpul buat reuni ya, pasti seru kalau mengenang masa lalu." Ujar Rani sambil makan.
"Katanya bakal diadain sih tahun ini tapi kapan belum pasti, teman-teman di grup chat pada bahas, ayo reuni aku juga ingin kumpul sama teman sekolah dulu." Timpal Erin.
"Kalau reuni mah yang di bahas bukan masa lalu tapi yang sekarang kayak kerja dimana, udah ada istri apa suami nggak, atau anaknya udah berapa. Takut gue kalau ketemu temen sekolah buat reuni." Andika bergidik ngeri, terakhir ia datang untuk reuni nyatanya hanya untuk pamer apa yang sekarang mereka punya sedangkan ia lebih memilih berada di pojokan lalu pulang karena tidak menarik.
"Iya juga ya, soalnya pas reuni tahun lalu aku nggak dateng karena keluar kota. Kalau kamu gimana Rin dateng yang tahun lalu ?."
"Eh apa ?." Erin yang terlalu sibuk dengan hp tidak memperhatikan bahkan saat Rani sampai mengulang pertanyaan ia hanya bisa menggelengkan kepala, setiap reuni selalu saja Erin tidak ada waktu.
"Kalau ada reuni lagi tahun ini kita ikut ajalah, nggak apa-apa nggak ada pasangan atau anak yang penting kumpul dulu." Ajak Rani yang sangat ingin bertemu teman sekolahnya.
Karena teman sekantor semuanya adalah orang bermuka dua yang akan berusaha baik di depan pimpinan tapi dari dalam sikut-sikutan dengan karyawan lain. Rani ingin teman baik yang tidak seperti itu dan setidaknya ia memiliki Erin juga Andika meski sulit untuk bertemu.
"Aku harus pergi ya soalnya rumah sakit katanya ramai pasiennya nambah banyak, dah."
"Eh Rin makannya belum habis." Rani berteriak tapi tidak di dengar, selembar uang seratus ribu Erin taruh di bawah piring makanan dan berlalu pergi.
Mereka semua sudah dewasa sekarang dan berkumpul atau bermain bersama seperti remaja sudah bukan prioritas utama. Apalagi Erin yang sibuknya sudah melebihi seorang pimpinan, bahkan akhir pekan saja masih bekerja lalu bagaimana dengan mereka mencari pasangan.
"Erin kalau kayak gitu terus yang ada susah nyari pacar nggak sih, kok aku kasian." Ujar Rani dan menaruh sendok juga garpu di piring karena usai makan.
"Nggak tau juga, kalau lihat hp selalu bilangnya chat dari pasien yang konsul. Mungkin kapan-kapan kita mesti nyariin Erin pasangan ya Ran."
"Pas kita udah nikah bareng ya."
"Iy....eh apaan nggak, nggak mau." Rani baru tersadar dan meralat kata-katanya.
*****
Sebuah pesawat mendarat di bandara, semua yang ada di dalamnya keluar tak terkecuali seorangpun. Seorang lelaki menyeret koper besar memakai kaca mata dan mantel keluar dari bandara dan masuk ke mobil yang sudah menunggu kedatangannya.
"Lama aku tidak melihat Indonesia." Sesampainya di dalam mobil, ia melepas kacamata dan menikmati pemandangan kota yang banyak berubah terutama gedung pencakar langit yang kian tinggi dan banyak.
Padatnya jalanan yang penuh dengan kendaraan membuatnya terjebak macet, ini masih jam kerja jadi hirup pikuk kota sangat terasa.
"Sudah lama tuan Jonathan nggak nggak pulang, selamat datang tuan." Ucap supir yang kembali menjalankan mobil setelah kemacetan berangsur hilang.
Mata tajam itu menoleh disertai senyuman khas yang di miliki, wajah tampannya tak pernah hilang bahkan kian bertambah tampan seiring bertambahnya usia. "Terima kasih, sudah lama aku merindukan Indonesia tapi tidak dengan macetnya." Suara beratnya menambah daya tarik tersendiri.
Jonathan menggulir layar hp dan mencari satu nama pada kontak hpnya yang telah lama tidak ia hubungi bahkan tidak memberi kabar. Terakhir kali setahun yang lalu tapi yang di hubungi seakan enggan menerima telfon darinya.
Belum sampai di pencet supir sudah memberitahu bahwa mereka telah sampai di kediaman milik Jonathan dan disana sang papa telah menyambut. Lelaki paruh baya yang sudah mulai banyak rambut berwarna putih itu tersenyum tulus menyambut kedatangan anak semata wayangnya yang telah kembali.
"Kau sekarang sudah tambah dewasa." Kata-kata pertama yang keluar dari papanya dan tepukan di pundak seolah pertanda bahwa ia bangga akan kesuksesan Jonathan selama di luar negri membangun bisnis sendiri.
"Kau sendiri ? Kukira kau membawa pacar ?." Tanyanya setelah melihat ke sekitar Jonathan tiada siapapun di sana kecuali pak supir yang membantu mengangkat koper Jonathan.
"Wanita lokal lebih menarik pa." Ujarnya singkat.
"Kau benar, ayo kita masuk."
Setelah sampai di kamar dan berganti pakaian dengan lebih santai Jonathan kembali menghubungi orang yang hendak di telfon tadi. Andika, teman sekaligus sepupu Jonathan itu tentu harus di beritahu jika dirinya telah pulang.
Lama telfon berbunyi ternyata Andika sedang bersama dengan klien yang konsultasi mengenai masalah perceraiannya dan Andika harus meminta izin untuk mengangkat telfon karena sedari tadi berbunyi.
"Maaf aku angkat telfonku dulu." Nomer tidak di kenal yang terus menerus menghubungi membuat Andika jengkel, ia ingin tau siapa orang yang iseng kepadanya.
"Hallo siapa ini ?." ~ Andika
"Lama tidak bertemu, apa kau masih mengingatku ?." ~ Jonathan
"Jo.....??."