
Mobil Jonathan terparkir di depan rumah Erin, ia sudah rapi mengenakan kemeja lengan panjang dan jas berwarna abu-abu gelap, ia masuk ke dalam rumah Erin untuk menjemput wanita itu.
"Erin sudah siap tante ?." Tanyanya kepada bunda saat berada di dalam.
"Sebentar lagi mungkin, biasa cewek dandannya lama."
"Tante apa ikut ke nikahannya Rani dan Andika juga, mereka ngundang tante kan ?."
"Iya tante diundang tapi tante harus kerja dan nggak bisa ijin jadi mungkin tante datangnya malam saja, smaikan ke Rani dan Andika ya."
"Iya tante."
"Jo aku sudah siap." Erin berjaln menghampiri Jonathan, dengan gaun panjang berwarna biru muda tanpa lengan dan flatshoes ia sudah siap, meski hanya menggunakan make up tipis tapi itu mampu memancarkan kecantikan Erin yang seutuhnya.
"Jo Erin sudah siap." Bunda mengulang kata Erin karena lelki itu nampak melamun, dan terkesiap saat ia menyadari tadi tidak fokus.
"Baiklah kita berangkat sekarang, kami permisi dulu tante."
"Iya hati-hati bawa mobilnya."
Saat berada di dalm mobil hanya ada kesunyian, sesekali Jonathan melirik ke arah Erin dan tentu saja Erin menyadari itu karena tidak satu dua kali saja. Lalu lintas yang ramai membuat mereka sedikit lebih lambat untuk sampai.
Dan untuk ke sekian kalinya Jonathan melihat Erin tapi langsung melihat ke depan saat Erin memergokinya.
"Sudah lihat jalan saja, nanti kalau kita nabrak kan bahaya."
Pipi Jo memerah, ia memegang lehernya dan berdehem canggung, "Itu karena kau... cantik sekali." Ujarnya dengan malu-malu dan berusaha fokus menyetir meski sulit untuk tidak melihat Erin kembali.
Ciuman beberapa hari lalu entah kenapa ingin Jo ulangi lagi saat ini, andai saja bisa tentu Jo akan menjadi lelaki paling bahagia tapi ia menyadari bahwa saat itu Erin tidak marah saja sudah bersyukur.
"Aku bawakan hadiah untuk Rani baju tidur, kira-kira dia suka apa tidak ya ?." Erin berusaha mencari topik pembicaraan saat perjalanan mereka masih jauh dan untuk menghilangkan rasa canggung tadi.
"Sepertinya suka, kadang selera kalian kan sama."
"Iya juga, kalau kau kasih Andika atau Rani apa ?." Erin melihat kado di jok belakang, sebuah kotak besar dengan bungkus berwarna biru muda.
"Aku memberi sepatu yang di cari Andika selama ini dan.....tisu." ucapnya dengan ragu.
Kening Erin berkerut, biasanya kalau beli air galon di kasih tisu tapi ini sepatu, mungkinkan saat beli sepatu juga di kasih tisu juga ? Erin jadi bertanya-tanya dalm hati sepanjang jalan. "Apa kalau sepatu mahal bonusnya tisu ?." Tanyanya benar-benar tidak tau.
Jonathan menggaruk lehernya, ia kira Erin tau tapi mau di jelaskan juga takutnya Jo dianggap mesum, mungkin lebih baik berbohong daripada terjadi pertengkaran. Lagipula tisu itu Andika sendiri yang minta carikan bukan Jo yang inisiatif memberi sebagai kado.
"Iya saat itu memang ada promo beli spatu gratis tisu untuk membersihkan sepatu kalau kantor jadi itu tisu spesial." Jawabnya seraya memohon ampun kepada Tuhan dalam hati karena berbohong kepada orang yang di cintai.
"Kalau ada promo lagi bisa memberitahuku, aku juga ingin tisu itu karena biasanya sepatuku langsung kotor pas pemakaian kedua atau ketiga."
"Ba-baiklah." Kini Jo meyakini satu kebohongan akan menciptakan kebohongan yang lain, haruskah Jo langsung membelikan sepatu dan menyelipkan tisu galon saja kalau Erin bertanya di kemudian hari ?.
Tempat pernikahan berada di hotel depan pantai jadi Rani dan Andika mengusung tema Outdoor untuk perniakahan mereka, nuansa pantai dengan angin yang berhembus terlihat sangat cantik.
"Akhirnya kalian datang juga." Andika menyambut kedatangan keduanya dengan sedikit marah karena hampir telat.
"Erin dimana Dik ?."
"Dia di dalam, kau tolong temani dia ya soalnya aku nggak di bolehin ketemu sebelum sah."
Erin mencari Rani berdasarkan arahan dari Andika tadi, disana Rani sudah terlihat cantik mengenakan gaun berwarna putih dan juga hiasan kepala yang nampak cantik.
"Permisi apa aku boleh masuk." Erin mengetuk pintu untuk mengejutkan Rani yang tengah mempersiapkan diri di temani MUA yang sedang membereskan barang karena sudah usai bekerja.
"Erin akhirnya kau datang, kemarilah aku gugup sekali, apa seperti ini rasanya menikah aku bahkan susah tidur semalam kau tau ?."
Erin terkekeh dan mengingat dulu ia juga sama dan kembali mengenng masa indah sekaligus pahit, semoga Rani tidak merasa hal yang sama dengannya. Erin mencoba menenangkan Rani dan percaya nanti semua akan baik-baik saja.
"Nanti kamu berdiri pas belakangku ya, aku mau kamu yang nerima buket hunga ini pas aku lempar bunga."
"Lebih baik kau berikan kepada gadis lain saja, aku sudah pernah menikah Ran kau lupa ya."
"Tapi kau kan sahabatku Rin dan aku mau melihatmu bahagia juga."
"Aku sudah bahagia hanya dengan melihatmu, buket bunga hanya mitos jadi aku tidak terlalu masalah aoal jodoh kau tenang saja."
Rani di panggil ke acara karena sudah akan di mulai, dengan menggandeng Erin agar Rani tidak menginjak gaun yang di kenakan karena bentuknya yang agak tumit tapi masih sopan untuk ijab qobul.
Satu tarikn nafas Andika telah berhasil menjadikan Rani sebagai kekasih bahagia dan akhirnya, mereka telah resmi dan semua berjalan lancar sampai di mana acara pelemparan bunga dan Erin memilih untuk menikmati duduk bersama dengan Jo saja.
"Kau tidak ingin menangkap bunga itu ?". Tanya Jo heran.
"Aku tidak percaya sial buket bunga dan jodoh, biarkan para gadis yang belum menikah yang berebut saja." Ucapnya dengan singkat, tapi Jo beranjak dari duduknya meminta buket itu dari Rani setelah tadi berbincang dengan Andika dan mengeluarkan sebuah cincin dari dalam sakunya lalu berjongkok di depan Erin.
"Ku juga tidak percaya soal itu tapi bisakah kau mempercayaiku untuk melangkah ke pelaminan denganku, aku berjanji akan membuatmu bahagia Rin bersama selamanya kita tidak akan terpisah lagi."
"Tapi Jo aku....kau tau kan masa laluku ?."
"Aku menerima masa lalumu Rin dan aku harap akulah masa depanmu, bagaimana ?."
Erin melihat ke arah Andika juga Rani yang mengangguk agar Erin menerima lamaran Jo, bahkan ara tamu sudah bersorak agar lamaran romantis itu di terima. Tiba-tiba air mata Erin menetes seraya mengangguk dan meminta maaf kepada mas Raihan dalam hati.
"Aku menerima lamaranmu Jo."
Jonathan langsung memeluk Erin sking bahagianya, tak lupa ia menyematkan cincin di jari manis itu. Hari itu bukan hanya hari bahagia bagi Andika dan Rani tapi juga bagi Jonathan dan Erin yang akan menyusul sahabat mereka untuk menikah.