When Jonathan Meet Erin

When Jonathan Meet Erin
Egois



Triiing triing


Pagi-pagi buta saat Jo masih tertidur nyenyak di kasur hp nya berdering dengan keras hingga membangunkannya, ia ingin memarahi orang yang telah mengganggunya pagi buta ini karena memikirkan Erin membuatnya terjaga semalaman dan baru tidur jam 3 dini hari.


Nama Andika yang tertera di layar, dengan mata yang masih tertutup Jonathan mengangkat telepon tersebut.


"Ada apa ?." ~ Jo


"Kau tau pesawat yang dinaiki Erin dan suaminya mengalami kecelakaan, sekarang berita mengenai pesawat ada dimana-mana." ~ Andika


Spontan Jo langsung bangkit, rasa kantuknya hilang dan ia memastikan info itu lebih lanjut kepada Andika, siapa tau sepupunya itu hanya bercanda.


"Benarkah ? Kau tidak berbohong padaku kan ?." ~ Jo


"Untuk apa aku bohong, coba kau lihat di tv beritanya dimana-mana." ~ Andika.


Jonathan langsung mengambil remote di atas nakas, ia menyalakan tv dan memilih saluran yang katanya menyiarkan berita itu. Ada sebuah pesawat dengan tujuan ke Bali memang kecelakaan dan Jo berharap Erin tidak ikut jadi korban.


"Kau benar, aku akan cari tahu lebih lanjut." ~ Jo.


Ia mematikan telepon, menyuruh supir untuk segera bersiap ke suatu tempat. Pesawat yang dinaiki Erin ke Bali sama dengan tujuan gadis itu yang katanya memang ingin bulan madu ke sana setelah menikah. Maskapai yang bersangkutan ramai oleh para keluarga yang menjadi korban.


Jo bertemu Andika dan Rani disana juga hendak mencari info yang sama. "Bagaimana apakah Erin benar naik pesawat itu ?."


"Aku sudah mengeceknya dan benar Erin juga suaminya ada di pesawat itu dan para korban sebagian belum di temukan sementara kita harus menunggu info lebih lanjut." Dengan wajah panik Rani menjelaskan.


"Kita berdoa supaya Erin san suaminya selamat." Ujar Andika dan mereka berdoa.


Meski telah berdoa tapi Jo merasa masih tidak tenang sebelum kepastian Erin selamat dan baik-baik saja. Ia menelfon papanya dan meminta bantuan agar penyelamatan di lakukan lebih cepat untuk mencari Erin dan suaminya, saat ini Jo tidak merasakan apapun selain khawatir bahkan rasa sakit hatinya karena di tinggal menikah seketika lenyap.


*****


Hari demi hari berlalu, bahkan saat anak buah papanya ikut mencari nyatanya Erin dan suaminya masih belum di temukan karena banyaknya penumpang yang juga menjadi korban sekaligus harus di identifikasi. Berita mengena pesawat ada di tv setiap hari dan Jo terus berdoa agar Erin lebih cepat di temukan.


Tanpa mengetuk atau memanggil papanya Jo langsung masuk ke kamar karena ada berita penting yang harus di sampaikan.


"Jo temanmu dan suaminya sudah di temukan."


"Benarkah ? Kalau begitu ayo pa."


Mereka langsung ke rumah sakit, tidak lupa Jonathan menghubungi Andika juga Rani untuk ke sana. Sayangnya setelah tiba kondisi Erin dan suaminya dalam keadaan tidak baik.


Mereka tidak di perbolehkan menjenguk Erin dan hanya bisa melihatnya dari balik kaca, Erin saat ini terbaring koma dengan luka lecet dan patah pada bagian kakinya, sementara suami Erin meninggal saat di temukan dan sudah tidak bisa lagi di selamatkan.


Rencana untuk bulan madu bagi pengantin baru nyatanya menjadi mimpi buruk yang akan mengubah Erin dan statusnya selamanya. Musibah itu tidak ada yang diinginkan dan Erin nanti harus menerima kenyataan pahit itu, entah bagaimana nanti ketika ia sadar.


"Kenapa nasib Erin harus malang seperti ini ?." Rani meneteskan air mata, meski bukan ia tapi rasa simpatinya terhadap Erin sangatlah besar.


"Mungkin saat sadar Erin akan sulit menerima, kita sebagai teman tidak boleh membiarkan dia melalui ini sendiri." Ujar Jonathan, mereka mengangguk karena tau benar bahwa meski Erin adalah orang yang sabar tapi siapapun yang mendapat cobaan ini pasti akan sangat sedih.


Hari demi hari berlalu, karena keterbatasan waktu dimana Rani, Andika juga Jo yang harus berkerja membuat mereka berfikiran membesuk Erin. Tiada tanda bahwa Erin akan membuka matanya dan sadar kembali tapi harapan selalu ada.


Pekerjaan Jonathan juga kadang di kerjakan oleh papanya selaku pimpinan, untung saja Jo meneruskan bisnis papanya hingga ia bisa meminta izin kapanpun disaat butuh. Papanya mengerti benar dan membiarkan Jo melakukan yang di inginkan.


Semenjak kedatangan Jo kembali di Indonesia hubungan ayah dan anak itu kian membaik apalagi dalam saat ini dimana Jo amat bergantung dengan papanya.


"Bagaimana keadaannya ?." Suara papanya Jo langsung terdengar begitu Jonathan kembali setelah membesuk Erin, jujur saja banyak waktu Jo yang terbuang karena memperhatikan gadis itu


"Tidak ada perubahan masih sama, aku berharap dia cepat bangun."


"Papa juga berharap seperti itu." Papa menepuk sofa di sebelahnya, instruksi bahwa Jo harus duduk karena ada hal yang akan di bicarakan." Bukankah di teman SMA mu ?."


Pertanyaan itu dia angguki oleh Jo." Papa juga dengan dia belum lama menikah bukan ? Papa ingin tau sejauh mana hubunganmu dengan gadis itu ?."


Jo bukan lelaki bodoh, tentu papanya ingin menilai tapi dari segi apa tentu Jo tidak bisa memprediksi. Yang pasti ini pertanyaan serius dan yang akan mengubah sesuatu jika Jo menjawab dengan salah.


"Dia pernah jadi salah satu orang yang penting di hidupku ?."


Hening sejenak sambil Jo melihat respon yang di berikan, papanya nampak menilai dan pertanyaan selanjutnya cukup mengejutkan Jonathan.


"Kalau sekarang apakah di masih sangat penting bagimu ? Selain sebagai teman tentunya ?."


Jo menunduk seakan ia merasa berdosa, ia tidak yakin apakah ia salah atau benar tapi kali ini Jo hanya mengikuti kata hatinya. " Iya dia masih sangat penting bagiku, aku ingin dia menjadi milikku kali ini pa."


"Tapi dia sudah menikah Jo."


"Aku bisa menerimanya, aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang kusayangi untuk ketiga kalinya, tidak aku tidak sanggup." Jonathan mengusap wajahnya seolah merasa frustasi yang berkepanjangan. "Aku rasa ini kesempatan keduaku untuk mendapatkan Erin, aku tau aku memang jahat tapi musibah ini juga bukan inginku, untuk kali ini aku tidak bisa lagi melepaskannya."


Jonathan pergi sebelum semua terlalu rumit untuk ia jelaskan kepada papanya, ia yakin tidak semua orang bisa mengerti tapi Jo kali ini menjadi egois karena ingin memiliki Erin, terlepas dari semua yang telah terjadi pada Erin dan Jo di masa lalu.