
Jalan berpasir di pijak hingga membentuk jejak kaki, angin dari pantai mengubah suhu menjadi agak dingin. Tangan mereka berpegangan dan Erin sedikit gemetar karena rasa dingin akibat baju yang ia kenakan dari bahan tipis.
Jonathan inisiatif menanggalkan jas dan memakaikan kepada Erin, ia masih tidak apa walau hanya mengenakan kemeja. "Kalau masih dingin kita bisa pulang sekarang ?."
"Aku masih ingin disini, sudah lama aku tidak ke pantai." Erin melihat ke bawah saat kakinya menginjak sesuatu dan mengambil benda itu. "Cangkang kerang, bagus sekali."
"Iya, lebih baik bawa pulang satu untuk kenang-kenangan." Tangan Jo menyelipkan rambut Erin ke belakng telinga yang sedikit berantakan karena angin, senyuman tak berhenti terukir dari bibir Jonathan dan bisa sedekat ini dengan Erin sebagai tunangan adalah mimpi yang akhirnya terwujud.
"Setengah jam lagi kita pulang ya, angin pantai tidak terlalu bagus untuk mu."
"Baiklah."
Mobil Jonathan telah sampai ke rumah Erin setelah usai dari pernikahan Andika, semua berjalan lancar termasuk Jo yang telah melamar Erin dan di terima. Saat ini hatinya seperti kebun yang di penuhi oleh bunga bermekaran.
Meski telah sampai tapi Jo tidak membuka pintu mobilnya karena masih ingin berlama-lama dengan Erin. Dan wanita itu bertanya saat ia tidak bisa keluar dari sana.
"Ada apa ?."
"Aku masih ingin bersamamu sebentar lagi." Jonathan melihat sekitar dimana tidak ada Bunda disana, kaca mobilnya juga hitam dan Jo ingin kembali merasakan bibir Erin. Sekarang ia sudah diterima sebagai calon suami jadi harusnya tidak masalah, Jo kian mendekat dan Erin otomatis memundurkan kepala.
Jo langsung mengurungkan niatnya dan berusaha untuk menahan diri, mungkin Erin memang menerima lamarannya tapi hatinya bisa saja belum 100% siap. Jadi Jo akan menunggu toh cepat atau lambat setelah ia telah sah menjadi seorang suami bisa melakukan apapun kepada gadis itu tentu dengan izinnya.
"Ayo kita turun." Ujarnya dan membukakan pintu mobil untuk Erin. Layaknya tuan putri yang sangat di sayangi dan di kagumi, tentu hal ini bukan yang pertama kali di lakukan Jo kepada Erin tapi ini pertama kali sejak mereka mempunyai hubungan lebih dari seorang teman.
"Bunda, bunda." Erin memanggil bunda yang tidak tau entah dimana padahal pintu depan terbuka dan harusnya bunda ada di dalam rumah. "Bunda dimana ya Jo ?."
"Entahlah mungkin pergi."
"Ada apa Erin ?." Bunda yang sedari tadi di kamar mandi penasaran akan Erin yang memanggil namanya berulangkali, mungkin ada hal darurat.
"Bunda lihat ini." Jemari yang tersemat cincin diperlihatkan dan berlian di bagian tengah nampak berkilau dengan indah. "Jo melamar ku."
"Bunda ikut senang kalian bisa segera meresmikan hubungan kalian."
"Iya bunda."
*****
Di sebuah taman indah dengan konsep outdoor seperti keinginan Erin, dan band kesukaan Jo yang ikut di hadirkan sebagai pengisi acara agar tambah meriah. Tidak banyak tamu yang datang karena hanya orang tertentu yang di undang dan tetangga juga tidak banyak.
Inti dari pernikahan ini adalah bahagia meski tidak terlalu mewah yang penting mereka bisa secara resmi menikah. Dengan satu tarikan nafas dan bimbingan dari penghulu Jonathan mempersunting Erin menjadi istrinya.
Saat doa di baca ia tidak hentinya mengucap syukur, begitu juga Erin yang menangis bahagia pada pernikahan keduanya ini. Ia menyalami tangan Jo sebagai suaminya dan Jo mengusap sudut mata Erin yang basah.
"Kenapa menangis?."
"Ini air mata bahagia." Ujarnya dengan senyuman.
Saat waktu untuk bersalaman Jo dan Erin bertemu dengan Andika dan Rani, ada yang berbeda dengan sahabat Erin itu yang nampak agak berisi dan ternyata kabar yang di berikan begitu mengejutkan.
"Akhirnya kalian nikah juga, ikut senang deh." Ujar Rani saat memeluk Erin sambil mengucapkan selamat.
"Kayaknya gemukan Ran ?." Tanya Jonathan dan beralih melihat Andika. "Kayaknya vitaminnya cocok." Lanjutnya kemudian.
"Ini tuh kita udah ada hasil jeri payah tiap malem, aduh." Andika mengusap pinggangnya yang di cubit dengan keras. "Sakit tau yang."
"Dalam perut aku ada dedek bayinya, makanya kalian juga gas pol biar ntar anak kita temenan juga, siapa tau kita bisa jadi besan."
"Lahir aja belum udah di tentuin jodohnya." Cibir Andika dan mendapat tatapan tajam dari Rani.
Erin bertanya apakah ia boleh mengusap perut Rani dan setelah diizinkan, dengan penuh kasih sayang dan pelan ia berharap juga bisa segera hamil. Erin menantikan bayi Rani dan bayinya kelak bisa menjadi sahabat baik.
Lama berbincang dengan Andika dan Rani akhirnya mereka pulang dan beberapa tamu juga berpamitan. Hanya tinggal beberapa saja yang masih asyik mengobrol tapi Erin dan Jo sudah tak terlalu sibuk menyalami seperti tadi.
Jonathan memegang tangan Erin dan mengusapnya, ia juga memandang wajah Erin dengan penuh kasih lalu tersenyum. " Cantiknya istriku, akhirnya aku bisa memilikimu untukku seorang."
"Kita saling memiliki dan tidak akan terpisah."
"Kau benar, aku tidak sabar untuk menyelesaikan pernikahan ini dan langsung istirahat." Jo mendekatkan bibirnya ke telinga Erin dan berbisik. "Ayo kita ciptakan Erin dan Jo junior."
Wajah Erin merah padam dan tertunduk malu, untung saja hanya yang mendengar dan jantung Erin berdegup tidak karuan.
Erin melihat sekitar dan memastikan ia tidak sedang di lihat orang lalu berbisik juga ke telinga Jo. " Jo aku.....masih di segel." Lalu kembali tertunduk malu.