
"Selamat pagi, " Iffi mengerutkan dahi nya saat Vakenzo mengucapkan waktu yang salah kepada tupai itu.
"Eh.. Jamal ini bukan pagi, noh masih siang. Maksud gue masih malam, " koreksi Iffi ia pun masih terlihat parno.
"Selamat pagi, karena tupai kita gak akan bisa tidur malam lagi, " seru nya terdengar mengancam, Iffi terhenyak dengan kaki gemetaran Iffi memundurkan kaki nya perlahan. Retta yang berada di belakang Vakenzo pun melirik Iffi.
Retta meletakkan satu jari di depan bibir nya, Retta menyuruh nya untuk tetap diam.
Tupai itu melihat Vakenzo dengan tajam,Vakenzo memberikan nya smirk singkat saat mereka satu kontak mata.
"Siapa yang menyuruh mu? " bisik Vakenzo di telinga tupai itu.Ia menggeleng tegas, tampak nya ia sangat setia dengan tuan nya.
"Wahhh.. si tupai nurut sama babon nya, " celetuk Iffi keluar begitu saja, padahal suasana itu sedang genting.
Vakenzo mengambil pistol yang terselip di belakang pinggang nya, Vakenzo mengarahkan ujung pistol nya di hadapan pria itu, sebelum memulai nya, Vakenzo berniat membuat suasana menjadi rilex dan lebih santai, ia bermaksud ingin bermain-main sebentar.
Vakenzo menatap Retta dengan wajah tanpa berdosa nya, "Kaya nya pelembab di bibir nya sudah bisa di buka, " ujar nya, Retta sangat senang peluang pertama ia dapat kan. Sedikit usaha lagi, Retta dapat membalaskan dendam nya. Retta tersenyum sembari menaikkan sebelah alis nya.
"Mungkin begitu, " jawab nya melangkah mendekati sang tupai, "Gak baik terlalu lama di beri pelembab bibir. Nanti bibir mu bisa menyatu dan kau tidak memiliki mulut untuk berbicara, " Tupai itu tampak mengalami tremor di kaki nya,tampak nya ia sedang ketakutan.
Jraakkkk
Retta menarik lakban itu dengan sekali sentakan, "Aaarrrggghhh, "
"Uuowaahh, sura tupai berkedok manusia seperti ini ternyata, " takjub Vakenzo berpura-pura .
"Bwuahaha, kelamaan di kasih pelembab tuh bibir sampe merah begitu, persegi lagi bentukan nya, " kelakar Iffi tertawa geli melihat area bibit tupai itu memerah bak sedang di bakar.
"Huh.. kaya nya gue perlu beli banyak nih, " usul Retta, tupai itu menyelis tajam kearah Retta.
"Boleh juga, " jawab Vakenzo santai menyelonjorkan kaki nya di atas kotak kayu persegi sembari memutar-mutar pistol nya dengan jari telunjuk.
"Siapa kamu? " tanya si tupai kepada Vakenzo dengan marah.
Vakenzo dengan santai nya mengunyah permen karet di mulut nya, dan membuat pelembungan hingga meletup. "Gak tau, " jawab nya lempeng.
"Mengapa kamu lakukan ini pada saya, " tupai itu menguncal-guncalkan tubuhnya agar ikatan tapi itu terlepas. Vakenzo langsung menyelis.
"Hmm? gak salah? kenapa kamu lakukan ini pada mereka? " tupai itu terdiam, ia melirik Iffi dan Retta secara bergantian.
Vakenzo menodongkan pistol nya kearah tupai itu, "Siapa tuan mu? " tanya nya sekali lagi, dan tupai itu tidak menjawab meski sudah berkeringat.
"Katakan sebelum peluru ini menembus jantung mu, " ujar Vakenzo membuat Iffi bergetar ketakutan.
"Woeehh... cepet bilang tolol, kalau lu matur gue yang repot, sialan loo!! cepet bilang anjing!! " umpat nya dengan ketakutan kepada tupai itu.
Vakenzo menatap nya dengan tajam, dan beralih menodongkan pistol nya di kepala tupai. "Pilih mana? " tawar nya sekali lagi sebagai peringatan terakhir.
Tupai itu diam tidak bergeming, keringat sebesar biji jagung mulai menetes satu persatu. Tetap tidak ada jawaban, Vakenzo mengulum bibir nya lalu menurunkan pistol nya.Vakenzo berbalik badan meninggalkan tupai itu, tupai itu pun bernafas lega. Tanpa ia duga Vakenzo mengambil langkah berbalik lagi dan...
Jdaaarrrr!!!
***
"Adoohh.. Ta pusing banget kepala gue, " keluh Iffi saat berada di perjalanan menuju kampus.
"Lebay lu, "
"Emh.. lu aja yang gak ngerasain posisi gue, " cibir nya melirik Retta yang sedang mengemudi.
"Noh cewek lu, " ujar Iffi saat melihat dari kejauhan, seorang gadis tengah mengayuh sepeda nya di pinggir jalan.
"Gila kali lu, " sinis Retta mengurangi kecepatan nya. Retta membuka kaca jendela nya dan berusaha menyeimbangkan laju mobil dengan sepeda yang Lucy naiki.
"Pagi Lucy, " seru Retta ramah, sedang setan di sebelah nya sudah mengejek Retta.
"Pigi licyi, " cibir Iffi memanyunkan bibir nya.
"Eh, Retta. Lo mau ke kampus? " tanya Lucy sedang mengayuh sepeda nya.
"Iya, "
"Pulang kampus nanti gue tunggu lo di caffe biasa ya, gue duluan, " pekik Retta menutup kaca jendela nya dan menjalankan mobil lebih cepat. Lucy menghentikan sepeda nya dan melihat mobil Retta semakin menjauh.
"Mau ngapain? " tanya Iffi kepo karena tiba-tiba Retta mengajak Lucy pergi ke caffe biasa.
"Hmh... kepo lu, " Iffi mendesis sinis.
Sesampai nya di kampus Retta dan Iffi langsung memasuki kelas mereka,untuk mempersiapkan kelulusan wisuda nanti mereka harus bener-bener fokus untuk ujian.
"Hari ini saya langsung beri soal, jawaban nya bisa kalian cari di catatan minggu lalu yang sudah saya terangkan. Jika ada yang tidak mencatat, bukan urusan saya lagi, " jawab dosen Seno yang killer nya sampai ketulang sumsum belakang.
Beberapa mahasiswa ketar ketir saat dosen mengatakan kunci jawaban ada di catatan minggu lalu, bagi mereka yang tidak mencatat apa yang di terangkan mungkin akan tewas.
"Anjir, gue gak nyatet, "
"Gue juga belom, "
"Mati gue, "
"Sial, "
Riuh mahasiswa dan siswi yang berada di ruangan itu, yang besolek ria pun melupakan make up nya, yang membuat vlog pun meninggalkan vlog nya, dan yang tidur pun melupakan nyawa nya sudah kembali atau belum. Inti nya mereka sudah melupakan jati diri masing-masing.
Sementara beberapa murid tampak tenang, termasuk Iffi dan Retta yang bisa di katakan kedua nya memiliki nilai yang sama di atas rata-rata.Namun kurang nya Iffi terlampau lamban memahami situasi baik dimana pun ia berada.
Tak tak tak
Dosen itu mengge plak meja agar menenangkan keributan di kelas itu, "Dengarkan!! " seru nya bak suara barithon saat di medan peperangan. Seketika ruangan itu bisu, mungkin angin pun enggan berlalu.
"Soal nya cuma satu, dengarkan baik-baik saya tidak akan mengulangi nya lagi, " ujar nya melihat buku jurnal nya, hal itu membuat semua mahasiswa dan siswi bernafas lega. Tetapi juga di landa kebingungan tumben cuma satu biasa dosen Seno yang paling banyak memberikan soal tidak pakai otak.
"Siapp!! "
"Siappp pak, "
"Baiklah kita mulai, "
Semua mahasiswa menggenggam pena dan menyiap kan telinga mereka dengan benar.
"Sebutkan dan jelaskan serta berikan contoh minimal 5 mengenai faktor apa saja... yang mempengaruhi stabilitasi struktural kepemerintahan terkait..
"Dinamika norma berdasarkan sistem standarisasi hak asasi manusia, " Dosen itu menarik nafas, para mahasiswa ketar ketir dengan satu soal itu.
"Dalam upaya pencegahan,Terjadi nya kudeta dan perpecahan di ruang lingkup kenegaraan, "
"Sudah pak? " tanya mahasiswa lain, berkeringat dingin dan sesak nafas.
"Serta, " lanjut Dosen Seno. Iffi meringis ngilu. Bak seperti mesin mereka mencatat soal turnamen kematian.
"Memang gak pakek otak kalau ngasih soal, " gumam Iffi mendramatis wajah nya sesedih mungkin.
"Berikan pendapat mu lalu presentasikan di depan kelas tanpa melihat buku, kumpulkan dalam bentuk tulis tangan dan tidak boleh ada sedikit pun tipe-x, " Dosen Seno mengakhiri membaca soal kematian itu dengan santai nya, namun tidak dengan mahasiswa di dalam kelas itu. Bahkan beberapa dari mereka yang memiliki nilai tinggi pun harus menghela nafas memikir kan soal kematian yang mengancam nyawa mereka.
"Saya beri waktu satu minggu, jika ada satu mahasiswa yang tidak mempresentasikan soal yang saya berikan. Kalian tidak mendapat tanda tangan dari saya untuk lulus dari fakultas ini, " seru nya sekali lagi dan melenggang pergi begitu saja meninggalkan kelas itu.
"Mati gue Ta," Iffi meremas rambut nya, ia sangat pusing dengan soal yang di berikan dosen killer.
Retta membuka laptop nya, ketika semua mahasiswa keluar dari kelas itu, Retta memilih segera mengerjakan tugas itu. Iffi pun mengikuti jalan Retta agar semua nya selesai dengan cepat.
"Hilang jati diri gue, Ta, "
.... ...
.... ...
.... ...