Valencia

Valencia
Mata Duitan



"Woy.. Jamal bangun kenapa. Gue gak ada temen nya nih, betah banget lu pada tidur mulu, "


"Kalau gue hitung-hitung nih. Udah seminggu tujuh hari lu tidur, gak pengen bangun apa? gue janjiin lu makan sayur jengkol di warung bu Imron, "


"Iiisss.. tega banget sih lu berdua sama gue.. hiks, " Iffi merunduk meneteskan air mata nya.


"Gue sakit gak ada yang jenguk, kecuali George, tapi itu anak buat kepala gue makin pecah aja, "


"Harta nyokap gue, habis gue plorotin buat bayar biaya rumah sakit lu berdua. Nih gue tempatin di perawatan kelas atas lagi, "Iffi merunduk lebih dalam, ia menyeka air mata nya.


" Ayo ke bank, "


"Sialan lu malah ngajak ke bank bukan nya bangun," ucap nya tanpa sadar Iffi langsung tertegun, barusan ia berbicara dengan siapa?


Vakenzo membuka mata nya, tampak seperti tidak memiliki riwayat penyakit. Ia terlihat sugar bugar, Vakenzo mencabut alat medis dan jarum infus yang menempel di bagian tubuh nya.


"Ha.. lo kok udah bangun? " Iffi planga-plogo melihat Vakenzo yang sehat luar dalam.


"Tadi lu minta gue buat bangun, ini gue udah bangun lu nanya lagi kenapa gue bangun, "


"Bu.. bukan gitu maksud gue.. ha ini apa sih? " ia kebingungan dan terbodoh seketika dengan Vakenzo yang baik-baik saja padahal ia koma.


Vakenzo menatap Iffi jengah, ia turun dari brankar nya. Iffi terkejut dan berusaha menghentikan nya.


"Eh Jamal, lu kan baru sadar. Jangan kemana-mana dulu, gue panggilin dokter deh, "Vakenzo mengerutkan dahi nya.


" Siapa bilang gue baru sadar? dari kemaren gue udah sadar. Lu aja malah bangunin gue tidur dengan cerita dramatis lo, "Iffi mendecih, susah payah ia mengeluarkan air mata ternyata ketahuan juga.


" Sialan lo!! "umpat nya dengan kesal, Vakenzo menyerongkan bahu nya.


" Retta gimana? "mimik wajah Iffi berubah sendu.


" Belum ada perkembangan, dia kehilangan banyak darah setelah kecelakaan itu, "Vakenzo terdiam.


" Lu udah di mintai kesaksian? "


"Udah, gue bilang. Gue gak tau apa-apa soal nya mobil itu nabrak mobil kita secara tiba-tiba, " Iffi mengedikkan bahu nya.


"Menurut lo ini di sengaja gak sih? "Vakenzo diam seribu bahasa, ia juga sempat berfikir begitu.


" Gue gak tau, gue mau liat Retta. Setelah itu gue mau tagih janji lo traktirin gue makan Jhing Khol di warung bu Imbron, "Iffi mendesisi.


" Giliran makan aja lo inget, yaudah ayo, "


Vakenzo dan Iffi memasuki ruang ICU Retta, alat-alat medis saling berbunyi beriringan. Retta masih belum ingin bangun dari tidur nya, Vakenzo berharap Retta segera bangun dan bersama-sama menuntaskan dendam ini.


"Dokter bilang, Retta bisa aja ngalamin cidera otak. Karena tabrakan itu lebih banyak mengarah ke Retta. Lu berdua waktu itu susah di keluarin dari mobil, karena terhimpit. Beruntung nya lu gak ngalamin cidera serius sama organ dalam. Tapi Retta...


" Gue takut dia kenapa-kenapa pas bangun nanti, "Iffi menatap Sendu tubuh Retta yang sangat lemah.


Vakenzo menarik nafas lalu menghembuskan nya lagi dengan sangat lelah. " Biar kan Retta istirahat, kita keluar, "pinta Vakenzo mengajak Iffi keluar dari ICU itu dan beralih menuju tempat selanjut nya.


***


Bu Imron sang pemilik warung tampak heran karena Iffi hanya membawa Vakenzo ke warung nya, biasa nya Retta tidak pernah ketinggalan menyantap sayur jengkol bu Imron.


" Den Retta kemana? "Iffi dan Vakenzo saling melempar pandangan. Iffi bingung harus menjawab apa, tapi mau tidak mau ia harus memberitahu nya.


" Retta koma di rumah sakit bu, "


"Innalillahi, " bu Imron sangat terkejut dan langsung menutup mulut nya yang terbuka.


"Kok bisa den.. Yaa Allah gusti, " bu Imron sangat bersedih hati mendengar kabar tidak enak itu. Vakenzo mengerutkan dahi nya dan berbisik di telinga Iffi.


"Dia ngomong apa? " bisik nya sontak Iffi langsung menyikut Vakenzo.


"Berisik banget lu, " gumam Iffi dengan kesal, ia tampak tidak enak dengan bu Imron karena Vakenzo merusak suasana.


"Semua nya terjadi tiba-tiba bu. Saat perjalanan pulang Retta menghentikan mobil nya di bahu jalan, semua juga udah takdir. Kami bertiga yang masih berada di dalam mobil tiba-tiba ada mobil box yang melaju ke arah berlawanan lalu menabrak mobil kami yang masih berhenti, " bu Imron langsung menangis mendengar cerita Iffi.


"Den Iffi sama nak ganteng ini baik-baik saja kan? "


"Saya baik-baik aja. Teman saya juga baru sadar dari koma nya, "bu Imron melirik Vakenzo dengan senyum penuh syukur nya.


" Alhamdulillah Nak ganteng udah sehat, "Vakenzo tersenyum canggung setelah mendapat pujian itu. Iffi mencondongkan kepala nya.


" Saya gak ganteng bu? "


"Ganteng kok, kalian bertiga ganteng-ganteng, " seketika hati Iffi berdebar-debar setelah di puji dengan sepenuh hati.


"Siap ibu negara!! jengkol dua porsi, " seru nya menggebu-gebu.


"Lakasana kan!! " jawab bu Imron dengan tegas dan penuh candaan. Vakenzo berbisik lagi.


"TNA? "


"TNIII!!! " pekik Iffi mengoreksi ucapan Vakenzo.


"Ha itu maksud saya, "


"Bukan, bu Imron ini dulu suami nya seorang TNI militer tapi udah lama pensiun. Bu Imron milih buka warung jengkol di sini, lumayan ramai lah, " bu Imron yang mendengar nya pun tersenyum kecil.


"Ohhh.. berapa uang pensiun nya? "


"Lu mata duitan juga yah rupanya, " ujar Iffi tidak menyangka.


"Bukan.. kalau uang pensiun nya gak setara dengan yang tertulis biar gue tambahin, "


"Udah cukup kok nak ganteng, " seru bu Imron memberikan empat piring pesanan.


"Jhing Khol masak.. jhing Khol matang, " girang Vakenzo menghirup aroma uap jengkol itu.


"Gila lu Kadang-kadang, " Iffi menggeleng-geleng kan kepala nya.


"Biarkan kutil badak berkembang, " Iffi langsung menyelis nya dengan kasar, sementara pelaku dengan santai nya memakan sayur jengkol beserta nasi putih.


"Siapa yang ngajarin lu? "


"Retta, "


Iffi menajam kan bola mata nya, "Awas aja lu Ta, gue bejek-bejek lu kalau bangun, " seru nya penuh dendam.


Plakkkk


"Adoohh.. kenapa lu pukul kepala gue, masih di pake ini, " pekik nya memegangi dahi nya yang habis di geplak Vakenzo.


"Ada nyamuk tadi, jadi gue pukul. Ngomong-ngomong kalau kepala lo gak di pake lagi buat gue jah, nambah pajangan di gudang, " Iffi melebarkan kedua bola matanya.


"Kepala lo siaaakkkkk!!! " pekik nya lagi sangat kesal.


Vakenzo mendengus geli, melihat amarah Iffi di anggap nya bahan lelucon. Sampai-sampai beberapa nasi putih yang sedang di kunyah nya menyembur-nyembur di atas piring Iffi.


"Iiihhh mati aja lah aku, " frustasi nya melihat Vakenzo yang tidak bisa membuat kehidupan nya tenang.


"Buahahahaha.. uhuk.. uhuk.. uhuk, "


"Emh.. mampus kau lah, bu gak usah kasih air dia, gak usah, " puas Iffi melihat Vakenzo terbatuk batuk.


"Kasian den mata nya sampek merah begitu, " bu Imron memberi segelas air untuk Vakenzo.


"Udah bosen hidup lo? "


.... ...


.... ...


.... ...