Valencia

Valencia
Nambah Telor



Retta diam membatu setelah mendengar diri nya sudah menjadi target pembunuhan selanjut nya. Vakenzo melirik Retta dengan tajam, "Siap bos, saya akan melakukan nya, " jawab Vakenzo menggebu-gebu ia tampak sedikit bersemangat padahal itu trik cara bermain nya.


"Tapi bos apa kau tidak berniat untuk melihat mayat sahabat Retta untuk yang terakhir kali nya, mungkin kau harus bersenang hati karena sudah membunuh orang terdekat Retta, " seru Vakenzo membuat umpan yang besar agar mendapatkan ikan yang besar juga.


"Benar juga, aku akan turun. Kau tetap lah di tempat, " ujar nya memutuskan sambungan telepon.Vakenzo dengan tergesa-gesa memberitahu Retta karena sudah menarik mangsa keluar.


"Sebelum dia datang kita harus bereskan ini, bawa mereka ke dalam mobil, " pinta nya kepada Retta dan Tupai.


Retta dan Tupai itu pun langsung menyeret dua penjaga itu kedalam mobil mereka. Tidak berselang lama mangsa yang mereka tunggu-tunggu telah datang, di selimuti gelap nya malam wajah nya tidak terlihat jelas dari sudut pandang mereka.


Semakin dekat ia berjalan, sinar bulan semakin menerangi wajah nya. "Dimana mayat sahabat kesayangan Retta? " tanya nya dengan senang dan berbangga hati, Retta mengepalkan kedua tangan nya dan menajamkan sorot mata penuh dendam kepada wanita itu.


"Oh, ini ternyata, " takjub nya berjongkok di hadapan mayat Iffi. "Kenapa baru sekarang kau mati, kau menghalangi jalan ku bersama dengan sahabat mu itu, " ucap nya dingin dan sadis.


"Bereskan dia, " pinta nya melenggang pergi sementara dada Retta naik turun menahan sesak nya emosi yang ingin meluap-luap. Vakenzo membisikkan sesuatu kepada nya.


"Jangan gegabah, biarkan mereka bebas tapi dari kebebasan itu mereka akan mendapatkan ganjaran nya, "


Vakenzo melepas ikatan tali pada tubuh Iffi dan membawa nya masuk kedalam mobil, "Kau tidak ingin pulang? rencana kita sudah berjalan baik, simpan dulu emosi mu. Bila saat nya sudah datang, kau boleh melakukan nya sendiri, " ujar Vakenzo, Retta membuka masker dan topi nya lalu masuk kedalam mobil itu.


Selama diperjalanan, Retta hanya diam memandangi luar jendela. Vakenzo juga ikut terdiam memikirkan rencana selanjut nya.


"Adooohhhh, "


"Astagaaa!!! " pekik Vakenzo dan Retta terkejut dan ikut berteriak karena Iffi membuat masalah ketika ia terbangun.


"Kepala gue pusinggg,"


"Lebih pusing kalau lo gak punya kepala, "


"Ni siapa lagi yang nyulik orang ganteng, " celetuk nya masih saja ke PD an padahal baru saja bangun dari tidur nya.


"Bagus lo tidur aja deh Fi, pecah dunia lo buat kalau lo bangun, " ujar Retta frustasi dengan sahabat nya itu.


"Takut tersaingi kah? "Retta mendecakkan lidah nya.


" Terserah lu, "


"Eh ada Vakenzo, kenapa diem? pup di celana ya?" Vakenzo langsung menyelisnya dengan kasar.


"Pilih diam sendiri, apa mau saya yang diam kan kamu, " tenggorokan Iffi tercekat setelah Vakenzo mengatakan itu.


***


"Mau di apain dua orang ini? " tanya Iffi saat membawa dua penjaga tadi ke gudang rumah Retta.


"Mana air nya? " pinta Vakenzo pada Tupai, dan ia langsung memberikan sebotol air mineral yang baru keluar dari lemari pendingin.


Vakenzo menyiram kedua nya dengan bringas, tampak nya ia sedang kalut dengan wanita tadi. Mungkin ada lagi yang harus ia rencanakan.


Kedua penjaga itu tersentak dan bangun dengan tubuh menggigil. "Siapa kalian? " tanya salah satu nya.


Vakenzo berjongkok di hadapan mereka dengan tatapan tajam nya. Iffi dan Retta memundurkan langkah mereka sedikit demi sedikit.


"Masih mau hidup? "


"Heh, kau tidak bisa mengancam kami seperti ini, " salah satu dari mereka mendengus tawa meremehkan ancaman dari Vakenzo.


"Kalian tau orang Italia? saya salah satu nya, " kedua penjaga itu tertawa terbahak-bahak.


"Mentang-mentang kamu orang Italian bisa mengancam kami dengan modal patungan muka anda itu? " Vakenzo mengeraskan rahang nya, kesabaran nya sudah di ubun-ubun. Sekali tarikan nafas, Vakenzo mencekram kerah leher mereka dan menabrakkan tubuh mereka di dinding gudang itu. Retta dan yang lain terkejut dengan perlakuan Vakenzo yang sudah tidak terkendali.


"Kau hanya orang biasa, membunuh mu sebenarnya sangat merepotkan bagi saya. Jika di Italian mungkin bangkai tubuh kalian sudah di jadikan pupuk kompos di ladang anggur yang kemudian di jual kemana-mana dengan lebel, beli satu...


" Gratis satu, " gumam Vakenzo melemahkan mental kedua penjaga itu.


Iffi menahan nafas nya sesaat, tubuh nya bergetar saat mendengar gumaman Vakenzo mengatakan 'beli satu gratis satu'.


"Bagaimana? "


"Katakan, "


"Dia direktur Firma Hukum Wesley, nama nya Berren Octavia. Kami hanya menjalan kan perintah nya selama ini, "


"Siapa nama mu? "


"Daniel, "


"Saya Beno, "


"Termasuk kau sebagai anggota pembunuh berantai? " tanya Vakenzo lagi, mereka berdua menengadahkan kepala nya menatap Vakenzo.


"Tidak, kami hanya menjalan kan tugas untuk mengekspor obat-obat terlarang dalam bentuk makanan ringan, " Retta dan Iffi melebarkan kedua bola mata nya, Vakenzo memejam kan nya dengan erat. Berarti selama ini mereka bertindak di luar batas, selain membunuh mereka juga mengedarkan obat terlarang dalam bentuk makanan.


"Siapa yang membantu kalian? "


"Kepala direktur merekrut seorang dokter dari Rumah sakit pelita bunda untuk bekerja sama dengan Nona Berren. Awal nya dokter itu menolak, tetapi setelah di beri gaji dua kali lipat, dokter itu menyetujui kerja sama itu. Sekitar ada 14 dokter telah bekerja sama dengan nya, " jelas Daniel kepada Vakenzo. Retta mendekati mereka dengan langkah tergesa-gesa.


"Dokter? maksud lo mereka menyuplai obat terlarang itu agar tidak di ketahui? "


"Maksud saya, mereka menyuplai obat-obat an itu ke dalam bumbu penyedap, "jawab Beno lebih membuat Retta terkejut.


" Apa? "


"Tunggu bukan kah setiap makanan ringan harus di periksa di kantor BPOM? tidak mungkin mereka tidak menemukan jaringan obat terlarang itu? " sambung Iffi mencairkan fikiran nya.


"Kepala BPOM juga bekerja sama dengan nya, "


Gubraakkkk


Vakenzo melemparkan kursi rongsokan kearah dinding. Jadi lah kursi itu hancur berantakan. "Haaaaaaaaaa!!! " pekik nya memenuhi gendang telinga yang mendengar.


"Jangan bunuh kami tuan, " pinta mereka mohon dalam keadaan tangan terikat mereka menundukkan kepala nya di bawah kaki Vakenzo.


Emosi nya memuncak, ini di luar batas ekspetasi nya.Ia terlambat mengetahui hal ini. "Apa kalian benar bukan anggota dari pembunuh berantai? " tanya Retta sekali lagi,ia berusaha mengontrol emosi nya agar tidak terlampiaskan saat ini.


"Tidak, kami hanya mendapatkan perintah untuk mengekspor makanan ringan itu ke negara luar, "


"Lepaskan mereka, " pinta Vakenzo, dan tupai itu langsung membuka ikatan tali di tubuh mereka. Vakenzo menundukkan tubuh nya menatap Daniel dan Beno yng masih terduduk di lantai.


"Saya tidak akan membunuh kalian, tapi bekerja lah dengan benar. Sampai kan perintah dari Berren kepada saya, dan jadi lah mata-mata yang terbaik, " gumam Vakenzo dengan nada dingin nya. Daniel dan Beno bergidik ngeri melihat keseriusan Vakenzo mengatakan hal itu.


"Ba.. baik tuan, "


"Jangan coba-coba menghianati saya dari belakang, ingat kau akan mendapat ganjaran nya, " mereka semakin ketakutan, apalagi Iffi.


"Kembali dan bekerja lah, "Vakenzo merapikan Jaz nya dan melenggang pergi meninggalkan gudang itu bersama dengan Retta dan Iffi yang kesulitan berjalan.


Setelah kepergian Vakenzo Daniel, Beno dan Tupai pun segera menjalan kan tugas dari Vakenzo.


"Ta.. gue tremor, " keluh Iffi tidak sanggup berjalan.


"Lo udah tau punya Phobia ngapain ikutan ke gudang, ngendok di kamar aja, "


"Sialan lo, gue lakik. Mana mungkin gue nambah telor jadi tiga, "Retta menyelis Iffi dengan kasar.


"Anjing lo!! "


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...