
"Fiiii.... Iffiiii!!! " teriak Retta panik, ia mencari Iffi dengan langkah tergesa-gesa.
"Apa sih lo Rett, gue lagi mandi kan tadi udah bilang. Lo kangen yah sama gue, " terkait Iffi menggoda Retta yang tampak panik dan gelisah.
"Singkirin omong kosong lu, kita harus kerumah lo Fi, " seru nya tergesa-gesa. Iffi mengerutkan dahi nya.
"Emang kenapa sih Ta, mau ngapain kerumah gue, "
"Lo liat ini, " Retta memberikan ponsel nya kepada Iffi, tak lama kemudian Iffi melebarkan bola mata nya setelah membaca artikel di website.
"Anjing!!! ngelunjak ya lama-lama, " Iffi melemparkan handuk nya, ia dan Retta berlari keluar rumah mengendari mobil dan berjalan menuju lokasi.
Sesampai nya di kompleks perumahan Iffi, ternyata sudah banyak warga dan beberapa mobil polisi dan ambulans yang mengerumuni kompleks itu. "Lo yakin Ta ini pembunuh yang sama? " tanya Iffi pada Retta setelah mereka keluar dari mobil.
"Fi, sebener nya gue udah nandain mana pembunuh yang sama mana bukan, " seru Retta berusaha membelah kerumunan. Iffi menarik tangan Retta.
"Jangan dari situ Ta, gak bakal bisa lewat. Ikut gue, " Iffi menarik tangan Retta memutari kerumunan itu, berjalan melewati semak belukar dan beberapa rumah kompleks yang mereka lalui.
Iffi menghentikan langkah nya, ternyata ia mengajak Retta berdiri di sebalah rumah nya, jarak nya sangat dekat dari lokasi kejadian, mereka juga sudah di halangi garis polisi.
"Ta, itu bukan perempuan yang berada di sekitar kompleks rumah gue. Itu gadis luar Ta, "Retta melihat Iffi dengan tatapan bingung.
" Selama tinggal di sini, gue gak pernah liat tu cewek, "
"Lo kan tinggal sama gue, dari mana lo tau itu bukan cewek dari kompleks ini, "Iffi mendecakkan lidah nya, ia membuang wajah nya dan kembali memperhatikan jasad itu yang sedang di selidiki polisi.
" Gue yakin dia bukan cewek kompleks sini, lo liat aja, kalau dia tinggal di kompleks ini pasti ada yang menangis dan mencari nya. Lo liat deh di antara warga yang liat ada yang bersikap berlebihan gak ngeliat tu cewek, "Retta langsung memperhatikan warga yang mendekati garis polisi, semua nya berekspresi sama. Retta terdiam, ia berfikir dua kali lebih keras dan mencoba mengartikan kenapa pembunuh itu melakukan nya di tempat ini.
" Fi, lo tau gak cara masuk kerumah lo selain dari pintu utama? "tanya Retta tiba-tiba membuat Iffi bingung.
" Kenapa emang nya? "
"Nanti gue jelasin, "
"Ada Ta, tapi lewat jendela dapur. Gue inget itu gak pernah di kunci karena kunci nya rusak, paling cuma di halangi barang-barang yang gak kepake, "
"Kita langsung kesana, " tukas Retta berlari menuju belakang rumah Iffi. Setelah Iffi menemukan lokasi jendela itu, mereka langsung saja menyingkirkan barang-barang yang menutupi jendela itu.
Setelah mereka masuk kedalam rumah, Iffi meminta Retta menjelaskan kenapa ia ingin memasuki rumah nya dengan sangat terburu-buru.
"Ta, emang kenapa sih, kan kita bisa lewat dari pintu utama, gue juga bawa kunci nya, " seru Iffi berselonjor kaki di atas sofa.
"Lo tau gak kenapa pelaku itu ngebunuh korban nya pas banget di depan rumah lo, "
"Yaelah Ta, mungkin aja tu cewek nge lintasi rumah gue pas dia minum racun, lagi pula gue gak yakin kalau itu pelaku pembunuhan berencana. Kalau pun itu pembunuhan gue juga gak yakin pelaku nya orang yang sama, " Retta mengusap wajah nya dengan kasar, kenapa sahabat nya ini sulit sekali di ajak berbincang serius.
"Gue ajak lo masuk dari pintu belakang itu karena nanti lo bakalan di interogasi polisi kalau kita lewat dari pintu utama karena lo pemilik rumah ini, lu kok goblok banget sih, " Iffi terke siap, ia mengubah mimik wajah nya menjadi sangat serius.
"Lo gak lagi nakutin gue kan Ta? "
"Lu pikir deh pakek logika, "
"Ada satu hal lagi yang mau gue omongin, wanita itu tewas di tempat bukan karena minum racun atau cuma kebetulan aja, gue yakin ini ada hubungan nya sama gue, " Iffi melirik Retta dengan tajam.
"Maksud lo, dia sengaja ngebunuh korban pas di depan rumah gue hanya untuk memberi peringatan ancaman karena gue ada hubungan nya sama lo yang berusaha cari pelaku? " Retta menjentikkan tangan nya, ia bangga dengan pemikiran teman nya yang cepat tanggap.
"Kemana aja otak lo dari tadi. Ada satu alasan lagi yang buat gue ajak lo masuk kedalam rumah, " ujar Retta membuat Iffi penasaran.
"Apa emang nya? "
"Gue harap lo jangan lemah mental, tenang kan diri lo jika udah gue kasi tau, " Iffi menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya dengan perlahan.
"Lo harus tau ini, Fi, "
"Tunggu Ta, lo kok tau di dalam kamar gue ada sesuatu? "
"Astaga Fi, dia tau ini kamar yang setiap hari nya lo pake, penjahat itu gak bodoh Fi, mereka tau gimana cara meletakkan ancaman untuk sasaran nya, " jelas Retta masuk akal, itu adalah kamar kesayangan nya tidak heran lagi jika penjahat meletakkan ancaman pada batang kesukaan korban ancaman.
Retta membuka pintu kamar Iffi dengan perlahan, Iffi memejam kan mata nya karena ia takut hal apa yang harus dia lihat.
"Buka mata lo Fi, " pinta Retta, Iffi membuka mata nya secara perlahan dengan getaran ketakutan yang sulit ia kendalikan.
Mereka berada di kaca lemari Iffi yang terbilang cukup besar, Iffi melebarkan mata nya, wajah nya sangat pucat dan tubuh nya bergetar hebat setelah melihat ada sebuah bercak darah di kaca itu.
"Haaaa!!! "pekik Iffi tekerjut dengan tulisan di permukaan kaca.
"Ta, itu angka apa? " seru nya dengan suara berat.
"13 1 20 9," eja Retta membaca tulisan angka yang di tulis dengan darah.
"Dia ngancam lo Fi, " Iffi melirik kearah Retta sangat ketakutan.
"Kenapa lo tau dia ngancam gue, kan itu cuma angka yang di tulis dengan darah, " Retta melepas genggaman tangan Iffi, ia mencari secarik kertas dan sebuah pena.
Retta menulis huruf abjad dari A samapai Z. Iffi awal nya bingung, namun saat Retta menulis urutan abjad itu dengan urutan angka baru lah ia mengerti.
"Lo liat, angka pertama yang dia tulis 13 itu berada di urutan huruf M. Angka kedua 1 urutan pertama A. Angka ketiga 20 urutan huruf T. Angka keempat 9 urutan huruf I. Coba lo baca sendiri, "pinta Retta pada Iffi yang sedari tadi ikut memperhatikan penjelasan Retta.
" M A T I, "eja nya dengan bibir yang bergemeletuk kuat hingga menciptakan bunyi dari gigi nya yang bertautan.
" Dia udah ngancam lo Fi, karena lo ada hubungan nya sama gue. Ini ancaman pertama lo Fi, entah nanti gue bakal dapet ancaman kedua dari dia, "Iffi jatuh terduduk ke lantai dengan tidak berdaya nya setelah mengetahui arti dari angka yang di tulis di kaca.
" Ta kita harus gimana? "Retta membuang wajah nya ke sembarang arah, ia juga bingung harus berbuat apa.
" Kita gak bisa berhenti sampai di sini Fi, lo juga udah terlanjur selidiki kasus ini bareng gue. Gak ada cara lain, kita harus ngelanjutin rencana kita buat nyari pelaku nya, "
"Tapi gue takut kita bakalan dapet ancaman lagi, "
"Itu udah pasti Fi, kita pasti bakal Terima ancaman lagi, atau teror, "
Iffi dan Retta terdiam di tempat, mereka tengah memikir kan apa rencana selanjut nya agar bisa menyelidiki kasus berbahaya ini.
"Lo tau gak jasad nya di bawa ke rumah sakit mana? " tanya Retta pada Iffi yang terdiam sedari tadi.
"Mungkin di bawa kerumah sakit terdekat dari kompleks sini, " jawab Iffi, Retta mengetuk-ngetukkan tangan nya di atas meja.
"Rumah sakit terdekat, berarti rumah sakit Pelita, " gumam nya.
"Fi, besok pulang dari kampus kita kerumah sakit itu,"
"Ha... ngapain Ta? "
"Kita harus cari tau penyebab kematian nya, gue juga mau ngeliat jasad korban, " awal nya Iffi ragu, namun ia memutuskan untuk mengikuti Retta yang akan mulai menyelidiki nya lagi.
.... ...
.... ...
.... ...
...Bersambung.. ...