
Seorang wanita berkaca mata dan rambut di kepang dua tengah kebingungan mencari kamar pasien yang ia cari.
"Kamar 103 yah, " gumam nya baru menemukan angka nomor ruangan 100.
"Tiga ruangan lagi, itu pasti tempat nya, " seru nya berjalan melewati kamar-kamar pasien, hingga sampai lah ia di kamar yang ia cari.
Wanita itu membuka pintu kamar itu secara perlahan, agar tidak menganggu penghuni yang
ada di dalam nya.
Tepat di hadapan nya, seorang pria tengah menggeret tiang infus juga berniat membuka pintu untuk nya keluar.
"Lucy? " beo nya heran saat wanita yang sudah ia anggap sahabat ada di hadapan nya saat itu.
"Retta, kamu gak papa? "
"Lo kesini sama siapa? " tanya Retta balik sembari celingak-celinguk mencari seseorang yang kemungkinan ada bersama nya.
"Aku kesini sendirian, kamu gimana? "
"Gue baik kok, besok juga udah boleh pulang, "Retta menggiring Lucy masuk kedalam ruangan nya dan berbicara empat mata dengan nya sambil duduk di atas soffa.
"Aku cari kamu, aku terus nunggu kamu di deket caffe yang sering kamu kunjungi. Udah lama banget aku gak pernah lihat kamu lagi, "
"Sorry.. gue kena musibah dua minggu gue dirawat dirumah sakit, " Lucy menatap Retta dengan tatapan serius.
"Kamu kenapa emang nya? "
"Aku kecelakaan, sempat koma selama empat hari," jawab nya tersenyum getir, "Lo tau gue dirawat dari siapa? " sambung nya.
"Berani-beraniin tanya ketemen kampus kamu, mereka bilang kamu di rawat di rumah sakit. Jadi aku langsung kesini waktu di kasih tau alamat nya," Retta menggusal pucuk kepala Lucy dengan gemas.
"Thanks ya lo udah jengukin gue. Gue kesepian banget memang, "
"Iya sama-sama. Tapi aku gak bawa apa-apa buat kamu, gak papa kan. Soal nya mendadak banget, " lirih Lucy merasa bersalah, Retta mendengus senyum.
"Gue gak minta kok lu yang panik, "
Tiba-tiba pintu ruangan ny terbuka lagi, Retta dan Lucy langsung mengalihkan atensi nya setelah mendengar suara decitan pintu. Hal yang tidak terduga saat Retta melihat tiga manusia yang tampak di pandangan nya tengah tersenyum lebar.
"Retta, maafin tante gak bisa temenin kamu selama di rumah sakit, "Sybra berlari memeluk Retta yang kalau itu menatap keluarga munafik dengan tatapan dingin. Tetapi ia masih mengingat ucapan Vakenzo, berpura-pura lah untuk tidak tahu apa-apa.
" Gak papa kok tante, temen-temen juga nemenin aku kok selama di rumah sakit, "jawab Retta fake smile.
" Sorry bro, denger kabar lu kecelakaan gue lagi tugas di luar kota. Gue harap lu maklum yah, "Jeff menepuk bahu Retta dengan senyuman persahabatan.
" No.. no problem brother, "
"Om juga masih di luar negeri sama tante kamu, jadi telat deh liatin kamu nya, " sambung Bimo mendudukan diri nya di sofa single.
"Gak papa om, Retta bener-bener gak papa, "
Kalau kalian gak dateng... sambung nya dari dalam hati.
"Wanita ini temen kamu? " tanya Syera menunjuk Lucy yang sedari tadi merunduk malu.
"Oh iya, dia Lucy temen aku, "
"Tante kira pacar kamu, "
"Ahahaha... Tidak seperti itu juga tante, " kelakar Retta sangat terpaksa.
***
Ricky, Galla, Ayesha dan Zein baru saja keluar dari gedung fakultas hukum. Mereka sudah menyelesaikan sidang kelulusan mereka dan hasil nya...
"Wuuuu!!! akhir nya sukses semua, " pekik Galla merangkul kedua sahabat nya serta adik perempuan nya.
"Iya nih, eh by the way Retta sukses gak yah sidang online nya, " Ayesha bertanya-tanya.
"Semoga aja dia lulus, soal nya kan bisa di bilang sih Retta itu jago banget debat nya, "ujar Zein di setujui yang lain nya.
" Gue setuju sih. Tapi gue masih kepikiran Iffi, kalau sampai acara kelulusan nanti Iffi gak di temukan juga... gue.., "
"Speechless, " sahut Ricky tersenyum hambar.
"Hancur banget pasti selama empat tahun dia kuliah tapi...
" Ngerumpi aja, "George datang dari belakang mereka motong ucapan Zein yang kala itu ia terpelongo.
" Woeeh.. lu ngapain di sini? "
"Suka-suka saya lah, "
"Hey.. saya itu masih muda cuma karena termakan usia saja, makanya wajah saya sedikit berkerut karena beban yang di berikan pak...
" Ekhem!!! "
"Tuh kan dateng singa nya, " George tersentak saat Vakenzo sudah berdiri di belakang nya.
"Karena apa? "
"Karena bapak kasih saya banyak uang banyak beban.. hehhh, " jawab George random, mereka tertawa renyah melihat tampang polos George yang sudah membangunkan singa yang berdiri di belakang nya.
"Kedatangan saya kesini ingin mengajak kalian bekerja sama, " seketika mereka terdiam dan saling pandang.
"Kerja sama? gak kerja rodi kan? " celetuk Zein hingga membuat Vakenzo meminjat pangkal hidung nya. Vakenzo melirik di sekitar taman kampus itu, dan memastikan tidak ada yang mencurigakan.
"Sedikit, ini menyangkut kasus pembunuhan itu, " mereka ternganga saat Vakenzo mengecilkan volume suara nya.
"Kita mau bantu sih, tapi kita gak tau harus mulai dari mana. Di tambah lagi Iffi hilang dan belum ada kabar apapun tentang nya, " Vakenzo melirik sekitar nya lagi.
"Dengar.. ini hanya rahasia kita berdua saja, "
"Rahasia apa? " tanya Ayesha sangat penasaran.
"Sebenarnya, Iffi ada sama saya---
" Waahhh!!! "
"Ssstt.. diem dulu, dengerin penjelasan nya, " desis George berkode serius.
"Lu yang nyulik Iffi yah? " tuduh Galla menunjuk nya.
"Bahkan saya yang menyelamatkan nyawa nya, " jawab nya datar.
"Maksud lu nyawa apa? " Ricky menatap Vakenzo dengan tatapan serius.
"Waktu itu Iffi kecelakaan setelah melihat jasad bokap nya, " mereka sampai menahan nafas mendengar kabar mengenaskan itu.
"Jadi kondisi nya bagaimana? " tanya Ayesha sangat khawatir.
"Iffi masih kritis. Dia baru saja mengalami kecelakaan dan ini kecelakaan yang kedua, kepala nya terbentur cukup keras. Dokter bilang, semoga saja sel saraf nya tidak ada yang rusak, " mereka kesulitan menelan salivah nya yang terdekat di tenggorokan.
"Saya yakin penyebab terjadi kecelakaan itu juga ada sangkut paut nya dengan dalang di balik kasus pem---
" Lu gak usah ngomong lagi, kita semua mau bantu lu cari dalang dari pembunuhan ini. Terlebih lagi Iffi dan Retta itu sahabat karib kita semua, jadi... gue gak tega lah, "potong Galla langsung menerima tawaran Vakenzo, dan yang lain nya tanpa berfikir panjang juga setuju dengan Galla.
Vakenzo menghela nafas lega, " Ok kalau begitu.. Terima kasih atas kerja sama nya, "sambung nya tersenyum senang.
" Terus apa tugas kita? "
"Dengar, dalang dari pembunuhan ini itu sangat licik. Dia menyebarkan obat terlarang dalam bentuk makanan ringan, entah itu sebagai penyedap rasa atau sereal, "
"Gila, jahat banget sih. Makanan ringan itu kan bisa di makan anak-anak maupun orang dewasa, jelas aja dong satu persatu mereka bakalan kecanduan dan sel saraf nya pun juga bisa rusak, " Ayesha tidak habis fikir dengan informasi yang diberikan Vakenzo.
"Tapi kan, setiap makanan itu pasti nya ada lebel obat makanan. Arti nya sebelum di edar luaskan, makanan itu harus di periksa lebih dulu, "
"Pertanyaan itu yang saya tunggu, " Vakenzo menjentikkan jari nya setelah mendengar ucapan Ricky yang mengambil kata logika dalam sebuah masalah yang harus di hadapi.
"Dalang ini punya banyak kuasa, terutama ketua dari perusahaan obat makanan tersebut, "
"Maksud lu, ketua badan pemeriksa obat makanan itu bekerja sama dengan dalang tersebut? " tanya Galla memastikan nya lagi, Vakenzo mengangguk pelan.
Mereka membuat wajah nya secara bersamaan,"Apa-apaan ini, brengsek banget cara kerja nya, "sahut Zein tampak marah.
" Tugas ini harus selesai. Kita harus bertatap muka dengan nya langsung, "
"Tapi kan itu gak mudah, orang yang gak berkepentingan gak bisa masuk sembarangan ke perusahaan itu, "
"Itu lah yang harus kalian semua lakuin, " Vakenzo memiringkan sedikit sudut bibir nya keatas, dan tepat nya mereka faham dengan maksud Vakenzo.
"Harus nyamar? "
"Waahhhh... itu keahlian gue banget, "
"Kalian atur strategi untuk masuk ke perusahaan itu, selebihnya saya yang atur, "
.......
.......
.......
.......