
Zein, Galla, Ayesha, dan Ricky datang bersamaan kerumah Retta yang memang sudah mereka niat kan untuk melihat Iffi yang kemungkinan berada di dalam.
Mereka yang sudah sampai di pintu gerbang pun hanya bisa mengintip-intip halaman rumah itu dengan ragu.
"Kaya gue gak ngerasa kehadiran Iffi ada di rumah ini deh, " filling Galla memegang dagu nya.
"Eh bambang, lu kira dia makhluk gaib apa, bisa lu rasain segitu gampang nya, " sembur Zein tidak membenarkan filling yang di berikan Galla.
"Kan ini perasaan sesama manusia men, "
"Kepala kau itu botak, "
"Ini yang di bawah, "
"Sstt.. berisik banget sih, bisa diem gak? " kedua nya menciut dengan celotehan Ayesha yang cerewet level tertinggi.
"Enggak, " sahut mereka kompak.
"Atau gue yang buat kalian diam, " sontak mereka langsung mengulum bibir nya rapat-rapat.
"Diem!! " sentak Ayesha membuat mereka mengangguk manut.
"Kalau gue liat-liat sih, rumah nya kosong lagian nih gerbang di gembok, " seru Ricky yang sedari tadi terus memperhatikan rumah kosong Retta yang penghuni nya lama tidak kembali pulang.
"Jadi itu anak kemana? "
"Coba tanya warga sini deh, mana tau ada yang pernah liat, " usul Galla mengajak mereka mengunjungi salah satu tetangga dekat rumah Retta.
"Permisi, " seru Ricky celingak-celinguk di depan gerbang rumah itu.
"Maaf tidak menerima sumbangan!!! " teriak sang penghuni mengira mereka yang meminta sumbangan.
"Lah.., " beo mereka kompak dan tertekan karena di anggap pengemis.
"Kita bukan minta sumbangan, duit gue banyak, " teriak Zein balik, pintu rumah itu langsung terbuka dan keluar lah seorang pria paruh baya berniat membuka pintu gerbang nya.
"Jadi ada perlu apa? " tanya nya langsung menatap mereka penuh tanda tanya.
"Emm.. gini kek--
" Saya bukan kakek-kakek.. panggil sayang abang, "
"Waduh, " celetuk Galla menggaruk tengkuk nya merasa kurang nyaman dengan sebutan itu. Mereka saling pandang dan akhir nya menurut saja.
"Begini bang... tetangga sebelah kemana yah? " tanya Ricky sedikit canggung.
"Oh, den Retta sama temen nya itu? "
"Iya bang, abang tau gak mereka kemana? "
"Den Retta sama temen nya itu sekitar dua minggu yang lalu kecelakaan mobil, jadi rumah nya lama kosong, tapi temen nya itu udah sehat kok. Kalau gak salah tiga hari yang lalu dia udah balik ke rumah itu, "
"Terakhir kali saya lihat, dia berangkat kuliah bareng temen ganteng nya itu. Setelah itu saya gak pernah liat dia balik lagi kerumah itu, " mereka tampak diam tidak bergeming, Ricky membalas dengan senyum getir.
"Kalian siapa nya? "
"Kami temen satu kampus nya, baru aja liat Retta di rumah sakit. Kami cari Iffi dari kemaren gak ada kabar nya, "
"Balik kerumah lama nya mungkin, "
"Oh, Terima kasih yah bang. Kami pergi dulu, " seru Ricky berpamitan dengan pria itu. Mereka berjalan penuh tanda tanya.
" Gue ngerasa Iffi gak mungkin balik kerumah lama nya, apa kita lapor ke kantor polisi aja? "usul Ayesha sedikit khawatir dengan Iffi.
" Makin rumit nanti Yes kalau kita lapor polisi, "
"Tapi kita juga gak bisa bilang ke Retta kalau Iffi hilang, "tambah Zein berpihak pada Ayesha.
" Gak bisa gitu dong Zein, Iffi gak mungkin hilang atau di culik. Gue yakin itu, "pupus Galla bersungguh-sungguh dan tidak lama ia merasakan getaran di saku Hoodie nya.
" Kenapa Gal? "
"Notif youtube gue keluar, tapi ..., " Galla mendekat ka handphone nya dengan mata nya, raut wajah nya tidak terbaca, ia terkejut dan juga heran.
"Banyak banget vidio pembunuhan, " gumam nya membuka iKON notif itu.
"Udah yuk balik ke rumah sakit, lu jangan nonton itu nanti aja, " Ayesha merampas handphone sang abang dan mengajak mereka untuk segera kembali ke rumah sakit.
Sesampai nya di sana, Retta yang sudah di pindah ke ruang rawat tampak murung melihat jendela transparan. Mereka masuk kedalam kamar rawat Retta setelah di antar oleh perawat.
"Retta, " sang empu pun memutar tubuh nya melihat keempat sahabat nya sudah kembali.
"Gimana? " tanya nya langsung to the poin.Wajah mereka mengeluh ragu untuk mengucapkan nya.
Ricky menggelengkan kepala nya pelan,tampak Retta merubah raut wajah nya sangat pias.
"Tetangga rumah lo gak liat Iffi balik kesana, sekitar dua hari rumah itu udah kosong, "
"Lu udah telpon Iffi belum? " tanya Zein pada Retta.
"Nomor nya gak aktif, berulang kali gue telpon in dia sampe batrai gue habis tetep aja gak ada jawaban, "Galla menghidupkan lagi handphone nya yang terpaksa ia tunda untuk menonton vidio itu.
Saat membuka handphone nya Galla mulai merasa akan terjadi sesuatu, raut wajah nya sangat serius, sebab itu Galla penasaran dengan vidio pembunuhan berencana itu.
"Abang penasaran dek, bentar dulu, " Galla sangat serius melihat channel youtube itu.
"Emang dia liat apa sih? " tanya Retta.
"Biasa dia ngikuti channel kasus pembunuhan, " jawab Zein jengah.
"Weh.. weh... yang di bunuh satu keluarga,deket sama daerah kita, " heboh Galla memukul-mukul bahu Zein tanpa mengalihkan tatapan nya dari handphone.
"Tangan lu juga di kondisi kan juga kali, " sentak Zein menjauhi Galla.
"Emang daerah mana Gal? " tanya Ricky juga penasaran dengan kasus pembunuhan yang di lihat Galla.
"Jalan Melati, Gang Baruni nomor. 339," gumam Galla membaca alamat tempat pembunuhan satu keluarga.
"Sekitar tiga puluh menit dari sini, " jawab Ayesha, lain dengan Retta yang memberikan ekspresi berbeda.
"Lu kenapa Rett?"
"Cobak lu baca lagi alamat nya Gal? "
"Hah? " Galla meloading dan langsung tersadar.
"Oh, jalan Melati Gang Baruni nomor. 339,"
Retta memutar kembali ingatan nya, ia sangat familiar dengan alamat rumah itu, perasaan ia pernah mendengar nya.
"***Retta, gue dapet alamat rumah baru Bokap gue, Gang Baruni no. 339,"
"Lu mau kesana Fi? "
"Nanti aja deh, gue males ketemu ibu tiri gue apalagi sekarang mereka udah punya anak, "
"Sabar Fi, nanti gue temenin lu kalau mau liat Bokap lu***, "
Retta melebarkan kedua bola matanya, jantung nya berpacu dengan sangat deras. Berharap telinga nya salah mendengar.
"Gal, itu vidio apa? " tanya Retta bergetar wajah nya pucat.
"Kasus pembunuhan, satu keluarga yang di bunuh," Galla bingung dengan ekspresi yang di berikan Retta menurut nya terlalu berlebihan.
Ctaass
Tiang infus yang di pegang Retta jatuh, dan ia pun juga ikut terjatuh. Tatapan mata nya tampak kosong, mereka yang menyaksikan perubahan Retta yang tiba-tiba ,seketika menjadi panik.
"Rett.. Retta lu kenapa? " tanya Ricky memangku kepala Retta yang saat itu sudah seperti mayat hidup.
"Retta jangan buat kita panik, " Zein menguncang-guncang kan lengan Retta namun ia tidak bereaksi.
"Retta!! "
Tiba-tiba air mata Retta keluar tanpa di minta, "Lu kenapa nangis, lu ada masalah bilang ke kita Retta jangan buat kita panik, " Ayesha sampai mengeluarkan peluh keringat nya.
"Apa pertanyaan lu ada hubungan nya dengan Iffi?" tanya Ricky langsung membuat Retta menatap nya.Retta menatap Ricky cukup lama dan Retta langsung menangis histeris.
"Ky... gue harus kesana Ky, gue harus kesana!!! "
"Iya lu kenapa, elu kenapa Retta!!! " sentak Galla sedikit meninggikan suara nya. Retta mencekram area leher Galla.
"Gal.. lu pernah nawarin gue naik motor lu kan? anterin gue kesana Galla, "
"Jawab dulu pertanyaan guee Retta!!! "
"Bang lu jangan ngebentak gitu, "
"Haaaaaaaa!!!... itu.. itu.. alamat rumah bokap nya Iffi, gue ingat waktu Iffi ngasih tau alamat rumah baru bokap nya. Gue jelas-jelas inget banget... hiks.. hiks.. hiks.., " mereka semua tertegun tanpa suara, kejutan apa ini? Retta mencekram kepala nya dengan kuat dan berteriak lagi.
"Haaaaa!!... pantesan lu hilang tanpa kabar Fi, sampe buat gue khawatir ternyata ini penyebab nya.. IFFFIIIII!!! "
"Lu pada tolong anterin gue kesana, "
"Lu masih di rawat Ta, dokter gak mungkin bisa ngijinin lu keluar," Retta menggeleng keras dengan linangan air mata yang sulit di hentikan.
"Gue gak perduli, gue mau lihat sahabat gue, " tegas Retta berusaha untuk berdiri.
"Retta.. Retta, "
"Lu mau kesana pun percuma, cuma ada garis polisi doang. Mayat nya juga udah di pindahin, Iffi gak mungkin ada di sana,kejadian nya udah satu hari yang lalu, mungkin dia ada di tempat yang lu dan kita pun gak tau, " Cegah Zein menyadarkan Retta yang sangat egois tidak memikirkan kondisi nya yang baru pulih dari koma.
Retta tidak bisa berfikir jernih, tangisan nya begitu terisak perih, yang ia fikirkan dimana Iffi ia takut Iffi melakukan yang bukan-bukan.
"Haaaa!! maafin gue Fi,gue gak ada waktu lu lagi rapuh dan tebuang.. hiks... hiks, "
.......
.......
.......
.......