Valencia

Valencia
Rencana Terselubung



"Ini rumah lo? " tanya Iffi yang melihat isi rumah Vakenzo.


"Yah, bisa di bilang begitu, "


"Ada apa? " tanya Retta kepada Vakenzo toh the poin. Retta tidak menghiraukan isi rumah Vakenzo yang terbilang tampak mewah dari dalam, simpel dari luar. Vakenzo melihat Iffi yang masih terpukau dengan benda-benda mahal di rumah nya, Vakenzo menarik Retta keruangan tersembunyi.


"Ada yang perlu gue omongin ke lo, " Retta mengerutkan dahi nya.


"Lo kok bisa bahasa nonformal, gue kira lo gak bisa , " seru Retta dapat melihat perubahan Vakenzo yang tidak ia lihat selama ini.


"Gue udah di sini selama satu tahun, gue kaya gini sebenarnya hanya untuk memanipulasi keadaan, " jawab Vakenzo enteng. Vakenzo mendudukkan tubuh nya di kursi kayu jati yang tersedia di ruangan itu. Retta sedikit terkejut, manipulasi katanya?


"Berarti lo juga bohongi gue? "


"Gue terpaksa, teman lo yang satu itu lamban gue bisa lihat dari kelakuan nya. Tapi lo gak perlu cerita juga ke Iffi kalau sebenarnya gue cuma manipulasi, biar gak ribet, " Retta tersenyum miring.


"Kenapa lo? " tanya Vakenzo heran saat melihat senyuman Retta.


"Kaya nya kita satu circle, "


"Bisa jadi, "


Retta menatap Vakenzo dengan tajam bahkan ia mendekatkan wajah nya agar lebih dekat menatap Vakenzo.


"Lo beneran mafia? " tanya random nya. Vakenzo melirik kiri kanan dengan gusar dan panik.


"Lo bisa diem gak sih, "


"Gue khawatir gue cari orang yang salah, "


"Gue tau lo dan Iffi diam-diam cari tau identitas asli gue kan, "


"Lo kok bisa tau? "


"Bego banget sih lu, "


"Terus apa rencana lo? " tanya Retta langsung, Vakenzo menatap nya dengan cepat.


"Sialan!! "


"Yaa gue kan nanya, "


"Gue punya rencana tapi lo jangan kaget, "


***


"Kita beneran pulang malam ini Ta? " tanya Iffi kepada Retta yang langsung memutuskan untuk pulang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, sangat bahaya menyetir di malam hari dalam perjalanan jauh.


"Ada urusan mendesak gue, " Retta tampak terburu-buru membuka pintu mobil, Iffi pun kebingungan dan hanya mengikuti Retta dari belakang.


"Jamal, kita balik pulang dulu, " pekik Iffi kepada Vakenzo yang diam berdiri melihat mereka yang akan segera pergi. Ia mengangkat tangan nya ke udara.


"Grazie fartello, " seru nya menggunakan bahasa Italian.


"Ya ya, " pasrah Iffi tidak mengerti arti dari bahasa tersebut.Retta menyalakan Klakson sebagai salam perpisahan, Vakenzo mengembangkan senyum nya karena ini bagian dari rencana nya.


"Ada urusan apa sih Ta? " Iffi begitu penasaran dengan Retta yang sangat terburu-buru. Tiba-tiba Retta menghentikan laju mobil, Iffi kebingungan sedangkan Retta menatap Iffi dengan tajam.


Retta merogoh sesuatu dari saku celana nya, "Lu kenapa sih Ta, jangan buat gue takut, " Iffi mulai gelisah, ada apa dengan Retta.


"Retttaaaaaaaa!!!" teriak Iffi saat Retta menempelkan selebar tissue kemulut Iffi, Iffi berada dalam kendali obat tidur yang sudah ada di tissue tersebut.


"Sorry Fi," gumam nya, Retta membuka pintu mobil. Dan dua orang pria berbaju hitam, memakai masker dan juga topi seperti seorang paparazi. Mereka mendekati mobil Retta dan salah satu dari mereka membawa Iffi keluar dari mobil Retta memindahkan nya ke mobil yang akan mereka kendarai.


"Anjing, cepet banget lo ganti, " umpat Retta ternganga melihat orang yang ia kenal bagai Jin yang bergerak dengan cepat.


"Diem lu, " gerutunya dan itu adalah Vakenzo.


"Apa begini cara kerja lo di Italia, "


"Ini hanya permulaan, cepet lo pake baju nya, " pinta Vakenzo kepada Retta agar mengganti baju yang sama seperti mereka.


Flashback On


Saat berada di ruangan tersembunyi, sebenar nya Retta dan Vakenzo sudah merencanakan hal itu.


"Lo yakin? " Retta tersentak dengan rencana Vakenzo.


"Jadi cerita nya, kita nyamar jadi orang suruhan pembunuh itu buat ngebunuh Iffi, biar kita tau dimana markas mereka? "


"Nah itu lo tau, "


"Tupai? " terka Retta membuat Vakenzo mengembang kan senyuman nya.


...Flashback gudang rumah Retta...


Jdarrrr


Retta dan Iffi ternganga lebar saat tembakan lepas itu sudah mengenai tubuh tupai itu.


"Sudah kalian pasang kan jubah anti peluru nya? " tanya Vakenzo dengan serius menatap Retta dan Iffi.


"U.. u.. udahhhh!! " jawab Iffi gemetaran dengan keringat dingin yang bercucuran.


Retta terkekeh melihat Iffi yang kesulitan menyeimbangkan tubuh nya karena lemas, "Tidur aja lu sana, baru juga permulaan, " Retta berjalan mendekati tupai itu yang masih bernyawa, ini juga rencana dari Vakenzo sebelum tupai itu bangun Retta dan Iffi sudah memasang jubah anti peluru di tubuh nya. Mana mungkin Vakenzo melenyapkan nya begitu saja, jika kunci nya ada di tupai itu.


"Fi bantuin gue, berat tupai nya, "


"Gue gak bisa jalan Ta, hiks, " Iffi bersandar di dinding dan terduduk lemas. Retta menatap Vakenzo penuh harap.


"Haissshhh... bahkan kalian belum membantu saya, " rutuk nya akhir nya pasrah dan membantu tupai itu menegakkan kursi yang ikut terjatuh bersama nya.


Vakenzo menaikkan dagu tupai itu dan berkata, "Tupai ku, sekarang kamu berada di bawah kendali saya. Ini hanya permulaan, turuti saja apa perintah saya dan kamu akan hidup dengan tenang, " gumam Vakenzo menatap tupai itu dengan tajam. Retta langsung membuka ikatan nya setelah tupai itu mengangguk antusias lebih tepat nya ia sedang ketakutan.


"Tapi saya tidak tau siapa dalang asli di balik pembunuhan itu, saya hanya menjalan kan perintah dari seseorang, " ujar tupai itu membuat Vakenzo mengerutkan dahi nya.


"Siapa yang menyuruh mu? "


"Yang saya tau dia direktur perusahaan Firma Hukum Wesley, saya tidak tau nama nya, " Retta dan Iffi yang mendengar itu pun sontak langsung melebarkan kedua bola mata nya.


"Firma hukum Wesley? lo yang bener? " tanya Retta geram ia mencekram kerah baju tupai itu.


"Saya tidak berbohong, " jawab nya dengan gugup. Vakenzo menarik nafas nya dalam-dalam lalu menghembuskan nya kembali.


"Wesley, " gumam Vakenzo ia terlihat santai dan lebih tenang. Mereka terdiam beberapa saat hingga tiba nya Iffi membuka suara.


"Eh Jamal, lu tadi tembak dia dari kaca jendela rumah Retta. Nah itu kok gak ada bekas darah nya di badan si tupai? " tanya Iffi kepada Vakenzo karena sedari tadi ia bertanya-tanya saat memasang jubah anti peluru, Iffi tidak menemukan adanya bekas tembakan di tubuh nya.


"Itu bukan peluru,pistol saya itu pistol mainan di dalem nya ada jarum yang udah ada obat tidur nya," jawab nya dengan santai dan melenggang pergi.


"Oh iya, Tupai, besok kamu ikut saya, " seru Vakenzo memutar badan nya.


Flashback Off


Selama di perjalanan menuju tempat itu, Vakenzo sedang memikirkan rencana selanjut nya. Jika direktur firma hukum Wesley bukan dalang di balik rencana pembunuhan berantai, lalu dalang yang sebenar nya ada dimana?


Mobil itu memasuki gerbang utama jejeran penjaga berjaz hitam berbaris di lorong batu menuju gerbang kedua. Mereka tidak di hentikan karena mobil yang mereka kendarai sudah terdeteksi mobil anggota dari pesuruh mereka.


Tupai itu menghentikan mobil nya saat melewati gerbang kedua yang tidak ada penjaga yang berjaga, dua pria berbaju hitam menghentikan nya. "Target sudah di selesai kan, " seru si tupai kepada penjaga itu,mereka mengangguk. Retta dan Vakenzo memulai aksi nya, mereka membuka pintu mobil dan mengeluarkan Iffi sebagai target pembunuhan selanjutnya.


Dua penjaga tadi melihat kondisi Iffi yang tidak bergerak sama sekali, "Kau membawa nya dalam keadaan hidup? "tanya nya sedikit tidak menyukai hasil kerja tupai itu.


" Aku akan menyelesaikan nya setelah laporan telah sampai kepada bos besar, "seru tupai itu lebih santai dan tidak terdapat kecurigaan. Bibir Vakenzo berkedut tersenyum di balik masker hitam nya.


" Kau jaga dia, aku akan menelpon bos, "ujar nya, saat dua pria itu berbalik badan ingin menelpon bos besar mereka. Retta dan Vakenzo dengan cepat memiting leher kedua nya dengan kuat, mereka berusaha agar penjaga itu tidak berteriak dan menimbulkan masalah besar jika penjaga lain mendengar nya.


" Arrrggghhh!! "Retta dan Vakenzo memukul bagian kepala mereka dan langsung pingsan. Tupai itu mengambil ponsel yang berada di saku celana, dan memberikan nya kepada Vakenzo.


Panggilan langsung terhubung, " Halo, "Vakenzo diam membeku setelah mendengar penerima telepon yang bertulis bos besar adalah suara..


" Dia wanita? "gumam Retta syok mendengar suara dari dalam telepon itu.


" Bos, saya sudah melenyapkan Iffi sesuai perintah yang bos ingin kan, "ujar Vakenzo berakting, tampak telepon itu tidak bersuara. Setelah menunggu beberapa saat akhir nya suara wanita itu kembali terdengar.


" Bagus, target selanjutnya Retta, "


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...